Selasa, 22 September 2015

Rahasia Kalimat Syahadat dan Hanacaraka Menurut Buku Wedaran Wirid I

ahasia Kalimat Syahadat dan Hanacaraka Menurut Buku Wedaran Wirid I


Artikel berikut ini adalah kajian tingkat tinggi dari Rahasia Kalimat Syahadat dan Hanacaraka yang diambil dari buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64

 

RAHASIA KALIMAT SAHADAT DAN
HANACARAKA (CARAKAN)

Sebenarnya Ma’rifat itu terdapat pada kata kehendak, itu kehendaknya Allah, gerak, sabda, semua itu kemauan Allah (Makarti – Jawa), menurut kenyataan yang dikehendaki sebelum dikerjakan sudah siap, sebelum ditunggu sudah datang; umpama orang akan pergi ke Yogyakarta, baru berfikir mencari angkot, angkot datang mencari sewa dan tanya dimana Yogyakarta ya mas?, lalu orang tadi naik angkot ke Yogya, perjalanan itu berarti kehendak Allah, orang itu menyatu dengan Dat tadi (Allah), sehingga satu sama lain tidak merasakan hanya menurut kehendaknya. Jadi Dat yang ada pada orang tadi tidak susah-susah. Yang tadi sudah diterangkan bila Hakikatnya Dat itu ya Afhngal dan Asmanya, artinya ya aku ya kamu adalah satu, maka tidak mengherankan bila orang itu dikuasai oleh Dat Allah, kuasa mempercepat, kuasa membelokan tujuan, maka dari orang sebenarnya utusan Dat (sifat Dat), maka dari itu merasa menjadi utusan, lalu memiliki sifat kuasa-Nya, jadi harus menyembah dan memuliakan terhadap Dat Allah.

Bisa melaksanakan apa saja dasar kekuasaan, jika makhluk itu utusan Dat yang wajib adanya. Dibawah ini adanya Wiridan itu artinya kalimat Sahadat yang sudah cocok dengan kebudayaan Jawa akan diterangkan untuk rumah tangga (tingkatan).

Ucapan Rasullullah terhadap Muaz : “Ma Min Ahadin Yashaduan la illaha illallahu washadu anna muhammadan rasullullahi sidqan min qalbihi illa ahrramahu allahu alla annari “, satu-satunya orang yang mengucapkan kalimat Sahadat samapai kehati terhadap Allah pasti tidak akan tersiksa dineraka.

Wiridan (ajaran) Sahadat begini : “Asyhadu alla illaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasullullah”, yang artinya aku bersaksi sebenarnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi sebenarnya Muhammad itu utusan Allah.

Wiridan (ajaran) rahasia Carakan HO-NO-CO-RO-KO; “Honocoroko Dotosowolo Podojoyonya Mogobothongo”, artinya ada utusan dua, laki dan perempuan (wanita) berebut kekuatan, sama saktinya (kuatnya) bergumul mati sama-sama menjadi bangkai (terpuruk) lunglai.

Yang akan diterangkan terlebih dahulu tentang dua kalimat Sahadat dulu, dan selanjutnya disusul dengan Carakan;

I. Kalimat Sahadat

Di tanah Jawa jika ada temukan (mempertemukan) pengantin umumnya mengucapkan Kalimat Sahadat, walaupun bukan bahsa Jawa tetapi sudah tradisi menjadi kebudayaan dari masa terdahulu pada zaman para wali. Dan kalimat Sahadat itu ucapan orang Islam yang belum mengetahui (pelajaran) rukun-rukun Islam. Jadi mengakui menyembah kepada Allah itu harus mengetahui arti kalimat Sahadat, lalu di zaman wali kalimat Sahadat itu dipakai pertamanya mendapat wejangan terhadap siapapun orangnya yang mau berguru, walaupun bahasa Arab kalimat Sahadat itu menjadi saksi Dat Maha Agung dan Muhammad itu utusan-Nya, arinya sudah meliputi alam semesta. Di tanah Jawa bahasa Arab itu tinggal memakai (pinjam) dan bisa dengan bahasa apa saja yang artinya sama. Dan bahasa-bahasa tadi hanya sebagai tanda. Di kalimat tadi ada kata Muhammad yan mempunyai makna sendiri, sebenarnya Nabi Muhammad namanya ada 4, dan kata syair kata Hamdun (memuji) Hamida (di puji) lengkap nama-nama tadi seperti dibawah ini :

a. Hamid, artimya yang di puji.
b. Mahmud, artinya yang mendapat pujian.
c. Ahmad, artinya yang lebih di puji.
d. Muhammad, artinya yang memiliki pujian.

Di dalam kalimat Sahadat tadi Muhammad tidak bisa di ganti dengan kata lain, walaupun ada akan tetapi artinya yang dipakai ada 2 (dua) unsur :
1. Mengartikan Umpama.
2. Mengartikan Nama.

Diwirid disebut kata-kata (nama-nama) tadi Nur Muhammad, artinya cahaya yang terpuji atau cahaya yang sempurna. Kata Muhammad itu sifat yang mempunyai pujian. Kalimat mengatakan Muhammad Rasullullas, siapa yang menjadi utusan Allah , apa Muhammad putra Sayidina Abdullah di Mekah (Arab), apa Muhammad atau Nur Muhammad?. Keterangannya : pada citra (Hakikat Allah) dan pecah-pecah hanya orang hidup. Sebenarnya yang dipuji itu sifat orang hidup yang memiliki sifat 20. jadi yang begitu para Nabi, Wali, Ulama yang mukmin, orang itu semua sifat Muhammad. Dan keterangan tentang utusan (Rasul) seperti dibawah ini :

Muhammad lalu menjadi utusan Allah , dan Allah itu bisa menjadi Allah-ku, Allah-mu, Allah kita semua dan seluruh alam. Jadi yang disebut utusan itu ialah utusan Allah-nya sendiri-sendiri, langsung mengakui mempunyai Allah. Utusan itu sifat hidup, kalau sudah mati (meninggal) tidak bisa menjadi utusan karena orang mati tidak mempunyai Allah. karena sifat-sifat Dat yang menghidupi sudah musnah (lihat keterangan Bab Sifat 20).

Di kitab Injil Mutheus 22 (31,52,33) disebut begini : belum pernah membaca kata-kata Allah kepadamu, Allah ini Allah-nya Abraham, Ishak dan Yakub, Allah itu bukan Allah-nya orang mati tetapi Allah-nya orang hidup.

Yang menjadi pertanyaan, walaupun mempunyai sifat Muhammad atau Rasul, kenapa bisa menjadi utusan Nafsu (Syetan) makhluk halus (perewangan-Jawa) atau utusan angkara murka. Semua itu bagi orang yang belum dalam ilmunya hanya sok (merasa sudah) tahu saja, hanya baru mencapai tingkat Tarikat, lalu umpama benar mengerjakan membuktikan bahwa menjadi Utusan Allah, dan harus menjadi Ma’rifat (Islam). Jadi orang itu sebetulnya sudah At-tauhid (menyatu dengan kehendak Allah), kemudian disebut seorang Islam Sejati (sarino batoro – Jawa) dan juga menjadi utusan, zaman dulu disebut Nabi, Wali dan cukup disebut Ma’rifatullah.

Pendapat yang salah golongan Wirid mengatakan Muhammad diartikan sebenarnya Muhammad itu sifatku, Rasul itu rasaku (Rahso-sangsekerta). Rasul itu utusan asal dari bahasa Arab, Rahso (rasa) asal dari bahasa Sangsekerta (sang sekrit) jadi tidak sesuai. Muhammad itu Rasul tetapi rasa (rahso) itu rasaku jadi tidak sama. Maka dari itu sudah jelas kalau Muhammad itu sifat hidup yang lengkap dan menjadi utusan.

Sifat Muhammad sudah lengkap, memiliki sifat 20; Rasa, Perasaan, Pekerjaan, Pikiran (akal yang sempurna) dan lain-lain. Kenapa bermacam-macam diartikan, Allah itu tidak bisa disamakan dengan makhluk-makhluk/benda-benda lain, jadi pendapat-pendapat yang salah harus dijauhi.

Kata-kata tadi terdapat juga di Hidayat jati (buku hidayat jati). Jadi pengarang Hidayat jati mengutip pendapat para Wali.

Kalau begitu pendapat para Wali tadi yang sudah dianut pada zaman sekarang itu apakah salah atau tidak? Tetapi semua itu harus bersandar kepada hukum Qiyas (meneliti) pendapat itu begini :

Muhammad = Rasul.
Rasul = Sifatnya Muhammad.
Sifat Muhammad = Sifatnya Dat.
Sifatnya Dat = menyertai sifat seluruh yang diciptakan dan hidup (kayu, batu, manusia dan lain-lainnya).
Sifatnya Dat = Hakikatnya Dat.
Hakikatnya Dat = Wujud Sempurna.
Wujud Sempurna = Manusia Hidup.
Manusia Hidup = Memiliki sifatnya Dat / Sifat 20.

Jadi yang merasakan orang hidup (utusan) yang diutus. Jadi bukan salah satunya sifat-sifat tadi yang disebut utusan, Rasa sejati (Rosone Ingsun – jawa), sifat pribadi (Sipate Ingsun-jawa), semua itu milik Dat yang wajib adanya (Allah). Kalau diteliti atau dikaji-kaji kata-kata yang diatas tadi sama dengan Qiyasan Esa, Widhatul Wujud, artinya Chaliq dan makhluk itu satu (lihat keterangan Bab Dat, Sifat, Asma, Afhngal terdahulu)

II. Carakan.

Sampai sekarang masih menjadi bahan pertanyaan para sejarah dan belum mendapat yang tepat, contohnya tentang Aji Saka itu siapa dan apa? Apa maknanya Carakan itu?, walaupun jumlah huruf hanya 20 (dua puluh) tetapi kenyataan bisa mencakup semua makna huruf bahasa sendiri dan bahasa asing,, karena kata-kata itu berhubungan dengan kalimat Sahadat maka jumlahnya 20, bisa dijelaskan dengan sifat 20, maka artinya kalimat Carakan seperti dibawah ini :

a. Wiridan (Pelajaran)
Aku bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah.

b. Carakan, ada 2 utusan; laki dan wanita asik perang tanding sampai mati:

Keterangannya begini: ada 2 utusan laki dan perempuan (hidup laki dan perempuan) sama menjadi utusan Allah supaya berkembang anak beranak. Laki dan perempuan (wanita), bukan manusia saja tetapi seluruh makhluk didunia ini semua berpasang-pasang menjadi saksi Dat (Allah), maka dari itu tidak ada barang yang tidak ada, artinya keadaan DAT itu kekal adanya. Sebenarnya utusan dua jumlahnya, sama jaya, artinya lebih sempurna dari pada makhluk lain, tidak lain adalah manusia yang diluhurkan dari sifat kekurangan, lengkap terhadap sifat 20 sama-sama memiliki, disebut juga sama kuatnya, artinya walaupun laki atau perempuan sama-sama umat luhur dan sempurna.

Carakan tadi mengatakan sama-sama tidak berdaya (kehabisan tenaga) atau mati, apa sebabnya sama-sama menjadi bangkai (tidak berdaya), sehabis perang tanding atau bersetubuh, tusuk menusuk hingga mati tanpa ada yang melerai, jadi sama mati seperti bangkai, terpuruk kehabisan tenaga tidak bergerak dan lemas. Laki dan perempuan jadi sumbernya manusia berkembang. Mengembangakan manusia itu tidak ada putusnya, berdasarkan Qodrat dan Irodat (sifat 20), lalu menghasilkan kenikmatan (merasakan enak). Keadaan seperti itu tidak berlangsung lama, jadi mati seperti bangkai itu sebentar kalau terus mati itu bukan utusan untuk mengembangkan manusia (umat-Nya). Orang Jawa setiap saat menyebut kata-kata (Kalimat-kalimat jawa) yang terdapat pada Carakan, terbukti setiap berkata pasti memakai kata HA. NA. KA. PA. RA. WA. Jadi orang Jawa setiap hari tidak ketinggalan mengatakan Carakan, setiap kata pasti memakai salah satu dari Carakan tentang berfikir, bertengkar tetap memakai huruf yang 20 / Carakan seperti ini : HA-NA-CA-RA-KA DA-TA-SA-WA-LA PA-DA-JA-YA-NYA MA-GA-BA-THA-NGA.

Rahasia yang tersimpan dicarakan itu tidak akan hilang tetapi tetap laki perempuan semua menyebutkan kata-kata yang ada pada Carakan 20 (jumlah 20 itu sifat Allah).

Keadaan nama Muhammad itu Hakikatnya DAT itu yang mencari orang yang sudah mempunyai ilmu atau orang yang sudah mengetahui rahasia hidup, artinya begini : apa saja yang yang tertulis dikitab-kitab suci (Al-Qur’an, Injil, Jabur dll) pasti bisa dicari, dipelajari, diteliti karena kitab itu untuk orang-orang yang hidup. Jadi artinya pendapat itu sangat sulit, susah sekali. Rahasia isi kitab Qur’an dan kitab-kitab lainnya bisa diketahui oleh orang yang berilmu. kita ulang lagi tentang kalimat Carakan, semua itu kalau bukan orang kaya ilmu tidak bisa mencari (meneliti). Kalimat Sahadat untuk agama Islam itu sebenarnya kalimat yang tidak abadi, oleh karena menurut umum orang-orang kalau menyebut kalimat Sahadat itu hanya bertepatan pesta perkawinan, mengkhitankan (sunat) anaknya, kalau tidak, tidak pernah diucapkan. Kalau kata Carakan tiap menit tiap detik diucapkan selama hidup, maka untuk menjadi utusan lalu memiliki sifat Muhammmad atau menjadi penanam, penangkar, mengadakan, membuktikan adanya utusan-utusan itu abadi, dan kalau perlu harus di ingatkan;

1. Kalimat Sahadat, rukun Islam itu saksi adanya Dat Allah, walaupun tidak dipanggil, di bicarakan, dipikir-pikir dan lain-lain. Dat tetap adanya dan berubah-ubah dan sifat Muhammad itu tetap ada dan pasti ujud (bentuk nyata), tetapi jika masih hidup bergerak-gerak. Jadi yang memngucap dan menyaksikan itu orang hidup.

2. Carakan itu rahasia, sulit, artinya rahasianya yang mengatakan; ada Muhammad, ada ujud sifat 20. adanya abadinya Dat (Allah) tetap tarik menarik dan setiap hari kita merasakan, kita buktikan tetap bergerak (makarti – Jawa), tidak mati, masih bisa berberbicara dan melanjutkan dua-duanya yang tersebut diatas tadi saling bantu membantu, satu diantara dua bersatu (Widhatul Wujud), Esa, artinya tidak ada, dua tetapi satu (menyatu-At’tauhid).

Rahasia yang terdapat di Carakan, sebuah buku karangan seorang Mangku negaran, diterangkan begini :

1. Hananira Sejatine Wahananing Hyang,
2. Nadyan ora kasat-kasat pasti ana,
3. Careming Hyang yekti tan ceta wineca,
4. Rasakena rakete lan angganira,
5. Kawruhana ywa kongsi kurang weweka,
6. Dadi sasar yen sira nora waspada,
7. Tamatna prahaning Hyang sung sasmita,
8. Sasmitane kang kongsi bisa karasa,
9. Waspadakna wewadi kang sira gawa (sipat Rasul / Muhammad),
10. Lalekna yen sira tumekeng lalis (sekarat) (5),
11. Pati sasar tan wun manggya papa,
12. Dasar beda lan kang wus kalis ing goda; (Islam / Ma’rifat),
13. Jangkane mung jenak jenjeming jiwarja,
14. Yitnanana liyep luyuting pralaya (angracuta yen pinuju sekarat ),
15. Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan,
16. Madyeng ngalam paruntunan (?) aywa samar,
17. Gayuhane tanalijan (tan ana lijan) mung sarwa arga,
18. Bali Murba Misesa ing njero-njaba (Widhatulwujud, Esa, Suwiji),
19. Tukulane wida darja tebah nista,
20. Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

Artinya :

1. Asalmu karena kehendak Allah,
2. Walaupun tidak nampak tetapi ada,
3. Allah yang Kuasa tidak bisa ditebak (dinyatakan),
4. Rasakan dalam tubuhmu,
5. Ketahui sampai kurang waspada,
6. Jadi salah kalau kurang waspada,
7. Nyatakan Allah memberi petunjuk,
8. Petunjuk sampai bisa merasakan,
9. Waspadalah rahasia yang kau bawa (sifat Rasul/Muhammad),
10. Lupakan sampai sekaratil maut (menjelang ajal/koma),
11. Mati yang salah menjadi susah,
12. Dan beda bagi yang tidak tergoda (Islam/Mari’fat),
13. Tujuannya hanya tentram jiwanya,
14. At’tauhid atau khusyuk waktu sekaratil maut,
15. Ternyata sepi (hilang) sifat dunia,
16. Dalam alam barzah ternyata samar (gaib),
17. Tujuan tidak lain hanya satu,
18. Pulang menguasai Lahir Batin (Esa),
19. Tumbuhnya benih menjauhkan aniaya,
20. Hati-hati manuju jalan kedunia.

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64

lsafah Ngelmu Urip

lsafah Ngelmu Urip

Falsafah hidup Jawa yang lahir dari tumbuh kembangnya ’cipta rasa karsa’ hasil interaksi ’wiji spiritual’ dengan ’geo spiritual’ lebih mengutamakan ajaran pemahaman tentang ’sejatining urip’ (hakekat hidup).  Pijakan ajaran tersebut bertumpu dari 3 landasan : kesadaran ber-Tuhan, kesadaran semesta (kosmis), dan kesadaran keberadaban.



Belum lama ini terbit buku ‘Atlantis- The Lost Continent Finally Found’ karya Prof. Aryo Santos (Geolog & Fisikawan Nuklir Brazil) yang berisi laporan penelitian ilmiah tentang penemuan lokasi ‘Benua Atlantis yang hilang’ yang di tulis filsuf Yunani, Plato (abad ke 3 S.M). Lokasi Atlantis adalah ‘Paparan Sunda’ yang tenggelam pada akhir jaman es Pleistosen, sekitar 11.600 tahun yang lalu. Pulau Jawa merupakan bagian gugus kepulauan Indonesia, dengan demikian merupakan bagian dataran tinggi pada masa jaman es pleistosen sebagaimana dinyatakan Prof. Aryo Santos. Artinya, bahwa pulau Jawa merupakan sisa peradaban Atlantis yang dinyatakan sebagai ‘tempat lahirnya peradaban dunia’.

Kalau berdasarkan tradisi bangsa-bangsa kuno, Atlantis disebut sebagai ‘surga bumi’, maka Jawa merupakan dataran tinggi surga bumi yang tidak pernah tenggelam oleh banjir semesta. Maknanya, peradaban Jawa setelah berakhirnya jaman es pleistosen merupakan ‘kelanjutan’ (meski tidak utuh) dari peradaban Atlantis tersebut. Namun, benarkah demikian?…

Kajian tentang peradaban Jawa dalam buku ini bukan di maksutkan untuk ‘pembenaran’ atau ‘sanggahan’ terhadap pendapat Prof. Aryo santos, namun lebih tertuju untuk kepentingan menggali nilai-nilai ‘kaweruh kejawen’ sebagai ‘ngelmu urip’ nya wong Jawa…

Buku Ngelmu Urip – Bawarasa Kawruh Kejawen terbit Juli 2010, penulis Ki Sondong Mandali, Ketua Umum Yayasan Sekar Jagad.

Kodrat Tuhan, bahwa bangsa manusia diciptakan Tuhan berikut perangkat ‘build-in spirituil’ atau ‘wiji spirituil’ yang ‘jumbuh’ (sesuai) untuk menjalani hidup di habitat tempat  bangsa manusia tersebut diciptakan. Kenyataan yang ada, sesuai dinamika semesta, bahwa keadaan alam (termasuk geo spiritual) di bumi ini tidak sama.  Dengan demikian, ada perbedaan ‘wiji spiritual’ pada masing-masing bangsa manusia demi bisa ‘jumbuh’ dengan kondisi ’geo spiritual’ tempat masing-masing bangsa tersebut tercipta.

Interaksi ’wiji spirituil Jawa’ dengan ’situasi, kondisi, dan geo spiritual’ habitat Jawa menumbuh kembangkan ‘cipta rasa karsa’-nya wong Jawa.  Dari ’cipta rasa karsa’ ini tumbuh kesadaran adanya ’hubungan’ antar semua yang ada di jagad raya.

Kesadaran-kesadaran tersebut berupa:

Kesadaran adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta.Kesadaran adanya hubungan kesemestaan (hubungan manusia dengan jagad raya dan seluruh isinya).Kesadaran keberadaban (hubungan antar sesama manusia).

Kesadaran-kesadaran tersebut merupakan landasan utama ’kawruh kejawen’ atau ’ngelmu urip’-nya wong Jawa.  Maka dengan demikian ’cipta rasa karsa’ Jawa yang berdasarkan kesadaran ’ber-Tuhan, kesemestaan, dan keberadaban’ kemudian melandasi ’Ngelmu Urip’ (falsafah hidup) Jawa yang selanjutnya melahirkan budaya dan peradaban Jawa yang mencakup: sistim religi & spiritualisme, falsafah hidup, tradisi & laku budaya, sistim organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan, sistim ilmu pengetahuan dan tehnologi/peralatan, bahasa (termasuk aksara), seni budaya yang terdiri dari: kesenian, kriya, dan sastra.

Merupakan kodrat Tuhan pula bahwa kondisi alam semesta Jawa berada di khatulistiwa (tropis), bagian gugus kepulauan (bahari), dan banyak gunung berapinya (vulkanis).  Maka bumi Jawa termasuk yang subur makmur, bercurah hujan tinggi, sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari.  Namun demikian, di bumi Jawa pula banyak terjadi ’bencana alam’ berupa gempa bumi, badai, gelombang laut yang tinggi dan tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir karena curah hujan tinggi.  Dengan demikian kondisi alam semesta Jawa bisa dikatakan ’jangkep’ (komplit).  Pada situasi semesta yangjangkep, maka hypotesanya ’wiji spiritual’ yang dianugerahkan Tuhan kepada insan Jawa juga ’jangkep’ supaya jumbuh dengan kondisi alam tempatnya diciptakan.

Hasil interaksi ’wiji spiritual Jawa’ dengan ’geo spiritual’ melahirkan pandangan Jawa yang dikenal dengan ’Falsafah Panunggalan’:  semua yang ada dan tergelar di jagad semesta ini merupakan ’kesatuan tunggal semesta’ yang dalam istilah Jawa disebut ’Panunggalan’.  Maksudnya, ada ’hubungan kosmis magis’ antar semua yang ada di jagad raya ini.  Hubungan panunggalan dimaksud terbangun dalam struktur ’pancer-mancapat’ atau ’inti-plasma’ yang terjalin satu dengan yang lain bertingkat-tingkat dari yang paling kecil (atom dan sel hidup) sampai ke seluruh alam semesta.  Pada konteks ’panunggalan alam semesta’, pancernya disebut ’Hyang Wisesa’ (sebutan lain: Suksma Kawekas, Guruning Ngadadi, Kang Maha Kuwasa) dan semua ciptaan posisinya sebagai ’mancapat’.

Berdasarkan konsep panunggalan semesta ini maka bisa dimengerti bahwa konsep ajaran Jawa tentang kewajiban manusia adalah menjaga  atau ’menyangga’ harmoni (keseimbangan, keselarasan) hubungan semua unsur semesta yang dikodratkan ’hayu’ (selamat, indah, sejahtera).  Dari konsep inilah terlahir istilah yang menjadi kewajiban semua titah dumadi untuk melakukan: ’Memayu Hayuning Bawana’.  Manusia sebagai salah satu ’titah dumadi’ yang diberi kelebihan berupa ’cipta-rasa-karsa’ dan ’daya spirituil’ termasuk yang memiliki ’kewajiban lebih’ dalam ’Memayu Hayuning Bawana’ tersebut.

Dalam ’kehayuan semesta’ disadari dan dimengerti oleh manusia Jawa ada ’dinamika pergerakan’ yang terus menerus tiada henti sebagai salah satu tanda ’urip’ (hidup).  Demikianlah, maka pada dasarnya pergerakan alam semesta memang ada dan dinamis sejak awal terciptanya.  Bahwa dampak dinamika pergerakan tersebut ada yang berupa ’bencana’ bagi kehidupan manusia juga sudah dipahami oleh insan Jawa.  Misalnya: pergerakan lempeng kulit bumi yang menimbulkan gempa, pergerakan angin oleh perbedaan suhu yang menimbulkan badai dan topan, pergerakan konsentrasi awan yang menimbulkan hujan dan banjir, pergerakan dinamis bulan yang menyebabkan pasang surut air laut, pergerakan atas dampak gerhana bulan dan matahari, dll.

Terhadap timbulnya berbagai bencana oleh akibat dinamika semesta menumbuhkan bermacam-macam ’laku budaya’ untuk menyikapi.  Dalam hal ini, sikap Jawa ternyata tidak sekedar ’menyerah pasrah’ kemudian memohon ’perlindungan’ Yang Maha Kuasa semata.  Tetapi juga melakukan upaya-upaya mengenali bencana-bencana dimaksud termasuk siklus terjadinya dan upaya untuk mengantisipasi dampak kerusakan kepada hidup manusia itu sendiri. Maka kemudian dalam khasanah Jawa lahir ’petung’ untuk mengenali siklus terjadinya bencana tersebut.  Sedemikian rupa njelimet dan detil sehingga kemudian lahir berbagai ’ilmu petung’ sebagai tengara kemungkinan terjadinya bencana.  Di antaranya berupa pengenalan watak baik buruknya: hari(wetonan), wuku(pekan, minggu), mangsa(bulan dalam hitungan pranata mangsa), tahun, windu, mangsakala (siklus 33 tahun), sampai kepada siklus jaman yang disebut ’kali’ yang berlangsung setiap 700 tahun.

Di samping mengenali berbagai seluk beluk tentang bencana juga melakukan upaya-upaya penangkalannya yang berupa ritual budaya.  Di antaranya melakukan ritual sesaji, ritual mantra swara(kidungan), ritual bedayan (tari dan swara gamelan), ruwatan, merti desa, dll. Landasan pokok penyelenggaraan ritual-ritual tersebut berupa konsep ’menjaga panunggalan semesta’. Penjelasan lebih mendalam tentang hal ini kiranya perlu diadakan sarasehan khusus mengenai ritual-ritual laku budaya Jawa. Yang penting, dalam wacana pemikiran ini, bahwa ritual-ritual laku budaya Jawa merupakan upaya manusia Jawa dalam menjalin hubungan baik dengan alam semesta dan seluruh isinya.  Jalinan hubungan yang baik dipahami akan mampu memberi ’keselamatan’ terhadap kehidupan manusia.

Falsafah hidup Jawa yang lahir dari tumbuh kembangnya ’cipta rasa karsa’ hasil interaksi ’wiji spiritual’ dengan ’geo spiritual’ lebih mengutamakan ajaran pemahaman tentang ’sejatining urip’ (hakekat hidup).  Pijakan ajaran tersebut bertumpu dari 3 landasan : kesadaran ber-Tuhan, kesadaran semesta (kosmis), dan kesadaran keberadaban.  Dengan demikian, insan Jawa kemudian cenderung lebih ’spiritualis’ karena masalah ’hakekat hidup’ berada di ranah spiritual. Kecenderungan ’spiritualis’ ini bisa dikatakan sebagai ’naluri alamiah yang adikodrati’.  Maka kemudian menjadi dasar dalam berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain.  Inilah sebabnya ’kejawen’ sering dijustifikasi sebagai ’ketahayulan’ dan ’anti modernisasi’.

Dalam interaksi antar budaya dan peradaban manusia sudah barang tentu terjadi ’hybrid interconnectedness’ nilai-nilai.  Namun demikian, nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang bertolak dari interaksi wiji spiritualnya dengan geo spiritual yang bersifat ’adikodrati’ tidak mudah hilang.  Justru kemudian ’mewarnai’ hasil asimilasi dan ’hybrid interconnectedbess’ yang terjadi.  Para pakar budaya kemudian menilainya sebagai ’sinkretisme’.
Pada wacana pemikiran awal tentang Rasionalisasi Kejawen ini saya sampaikan dasar-dasar yang melandasi budaya dan peradaban Jawa sebagai berikut:

Landasan peri kehidupan berdasar ’Falsafah Panunggalan’, suatu pandangan hakiki bersatunya manusia dengan alam semesta yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai ’jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.Landasan peri kehidupan ’Agraris Paradesa’, suatu kehidupan sosial yang berdasarkan kerukunan dan keselarasan.  Mulai komunitas kecil (desa) sampai kepada bentuk negara.Landasan peri kehidupan ’Spirituil Magis’, merupakan karakter umum insan Jawa yang spiritualis dan mempercayai adanya kekuatan-kekuatan magis dari alam semesta dan seluruh isinya.Landasan peri kehidupan ’Kalangwan’ (Mempersembahkan Keindahan), merupakan implementasi melaksanakan misi ’Memayu Hayuning Bawana’.Landasan peri kehidupan ’Kejawen’, merupakan piwulang Jawa dalam menyikapi berbagai perbedaan-perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia.

KITAB BEBUKANING WIRID

Kitab Bebukaning Wirid

Bebukaning Wirid kang amratelakake ganepe patraping amejang ngelmu makrifat kasampurnaning ngaurip, ing jaman semana wis katindakake dening para Wali kabeh, urute sawiji-wiji ing ngisor iki. 


Ingkang dingin, wiwitan patrap kang dadi kawajiban, iku guru karo bakal murid pada amet banyu wudu, sarta niayat kang karepe mengkene : “Nawaitu raf’al hadasi suharata walakabirata fardlanlillahi ta ala Allahu akbar”(Niyatingsun amet banyu kadas, angilangake kadas cilik lan gede perlu karana Allah). 

Nuli pada dandan anganggo sandangan sarwa suci, ora kena anganggo kang mawa emas, utamane manawa karsa anganggo kuluk, banjur ngliga sarira kekonyo gando wida, sarta nganggo sumping kembang oncen-oncen Surengpati ana ing kuping kiwa, karo nganggo kalung kembang oncen-oncen Margasupana, wangun kaya oncen-oncen usus pitik karangkep telu, utawa nganggo gombyok keris kaya pangaten anyar. 

Nuli ing pamejangan katata dipasangi tetuwuhan maju papat,sarta kadodokan lampit kang resik, banjur katumpangan klasa pasair kang tigas, ing duwur pisan katumpangan mori putih saules lapis pitu, apese lapis telu, mawa kasebaran kembang campur bawur. Nuli sesaosan srikawin salaka putih bobot satail, kadokok ing wewadah tunggal karo lengz sundul-langit, sarta menyan bobot saringgit, kasasaban mori putih mawa pangiring sesanggan gedang agung suruh ayu, jambene tanganan, kasasaban mori putih dadi rong wadah sarta kembar mayang sajodo pada sumaji ana ing pamejangan.

Nuli ing antara manawa wis sirep wong utawa wayah tengah wengi, pada tindak menyang enggon pamejangan, kang bakal kawejang linggih madep mangulon , sarta dedupa ratus kaasepake ing kuping kiwa, banjur ing irung, wekasan ing dada, iku wiwit kawejang teka gurune. Dene kang kawejangake, anurut pamejange para Wali wolu ing Tanah Jawa, kakumpulake dadi sawiji. Wijose pada amet wijining ngelmu kekiyasan saka Dalil pangandikaning Allah, kang kasebut ing dalem Hadis pangandikane Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah marang Sayidina Ali kawisikake ing kuping kiwa, pepangkatane dadi wolung wejangan, kapratelakake ing ngisor iki jarwane kabeh :

 
1. Wisikan Ananing Dzat
Wejangan punika dipun-wastani wisikan ananing Dzat, awit dening pamejangipun kawisikaken ing talinga kiwa, wiyosipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang wiwitan, nukilan saking warahing kitab Hidayat khakaik, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, makaten jarwanipun : “Sejatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin iku ingsun, ora ana Pangeran Nanging Ingsun, sajatining Dzat Kang Maha Suci anglimput ing Sipatingsun, anartani ing asmaningsun amratandhani ing afngalingsun”.

2. Wedharan Wahananing Dzat
Wejangan punika dipun wastani Wedharan Wahananing Dzat, awit dene pamejanganipun amarah urut-urutan dumadining Dzat, sipat, wahanipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping kalih, nukilan saking sarahing kitab Dakaikalkaik. Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun : ”Sajatine ingsung Dzat Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa anitahaken sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka ing kodratingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning afngalingsun kang minangka bebukaning IraDzatingsun, kang dhingin Ingsun anitahaken kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam Adamm akdum azali abadi, nuli cahya aran Nur Muhammad, nuli kaca aran Mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh Idlapi, nuli damar aran Kandhil, nuli sesotya aran Darah, nuli dhindhing jalal aran Kijab kang minangka warananing Kalaratingsun”.

 3. Gelaran Kahaning Dzat
Wejangan punika dipun wastani gelaran kahaning Dzat, awit dening pamejanganipun ambabar dados kanyataan anasiring Dzat sipat, inggih punika nalika Pangeran Kang Maha Suci karsa amujudaken sipatipun. Gumelar kahananipun kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping tiga, nukilan saking Kitab bayan Humirat mupakat kaliyan Kitab Bayan Alip, kitab Madinil Asror, kitab Makdinil Maklum, inggih punika bangsaning kitab tasawup sadaya. Sami amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah karaos ing dalem rahsa, makten jarwanipun ;”Sajatine manungsa iku rahsaningsun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake Adam, asal saking anasir patang prakara : 1. Bumi, 2. Geni, 3. Angin, 4. banyu, Iku kang dadi kawujudaning Sipatingsun.
Ing kono ingsun panjingi mudah limang prakara : 1. Nur, 2. Rahsa, 3. Roh, 4. Napsu, 5. Budi, iya iku minangka warananing wajahingsun Kang Amaha Suci”.

 4. Pambuka Tata Malige Ing Dalem Bait-al-makmur
Wejangan punika dipun wastani, kayektening kahanan Kang Maha Luhur, inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-makmur. Awit dening pamejangipun ambuka kodrat iraDzating Pangeran Kang Maha suci, anggenipun karsa anjenengaken maligening Dzat minangka Baitullah wonten ing sarahipun manungsa, punika sajatosipun dados pitedhah kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat Kang Maha Mulya langgeng boten kenging ewah saking gingsir saking kahanan jati. Kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping sekawan nungkilan saking sarahing Kitab Insan Kamil, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah hayat ingkang kapisan karaosaken ing dalem rahsa, makaten jarwanipun. ”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-makmur, iku omah enggoneng Parameyaningsun, jumeneng ana sirahing Adam, kang ana sajroning sirah iku dimak, iya iku utek, kang ana antraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, ananging Ingsun Dzat Kang anglimputi ing kahanan jati”.

5. Pambukaning Tata Malige Ing Dalem Bait-al-muharram
Wejangan punika dipun wastani kayektening kahanan Kang Maha Agung. Inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-muharram, awit dening pamejanganipun pambuka kodrat iraDzating Pangeran kang Maha suci, enggenipun karsa anjenengaken maligening Dzat, minangka Baitullah wonten ing dhadhaning manungsa. Kasebut ing dalem daliling dados pitedahan kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat kang Maha Mulya lenggah boten kenging ewah ginsir saking kahanan jati. Kasebut ing dalem daliling ngemi ingkang kaping gangsal, inggih ugi sami nukilan saking sarahing Kitab Insan Kamil, amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha Suci dhateng Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, ayat ingkang kaping kalih karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun : ”Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning Bait-al-muharram, iku omah enggoning lelaranganingsun, jumeneng ana ing dhadhaning Adam, kang ana ing sajroning dhadha iku ati, kang ana ing antaraning ati iku jantung, sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, iya iku angen-angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati”.

6. Pambukaning Tata Malige Ing Dalem Bait-al-mukaddas
Wejangan punika dipun wastani ; kayektening kahanan Kang Maha Suci, inggih punika pambukaning tata malige ing dalem Bait-al-mukaddas, awit dening pamejangipun ambuka kodrat iraDzating Pangeran Kang Maha Suci angenipun karsa anjenengaken maligening Dzat, minangka Baitulah katata wonten ing kontholing manungsa. Punika sajatosipun ugi dados pitedhahan kayektening kahanan satunggal-tunggal, anandhakaken kalarating Dzat Kang Maha Mulya, lenggah boten kenging ewah gingsir saking kahanan jati. Kasebut ing dalem daliling ngelmi ingkang kaping enem, inggih ugi sami nukilan saking sarahing Kitab Insan Kamil. Amratelakaken wangsitipun Pangeran Kang Maha suci dhateng Nabi Muhammad Rasulullah hayat ingkang kaping tiga, karaos ing dalem rahsa makaten jarwanipun : ”Sajatine Ingsun nata malige sajroning Bait-al-mukkadas, iku omah enggoning Pasuceningsun, jumeneng ana ing kontholing Adam, kang ana sajroning konthol iku pringsilan, kang ana antarane pringsilan iku nutfah, iya iku mani sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran angin Ingsun Dzat kang nglimputi ing kahanan jati, jumeneng sajroning nukat gaib, tumurun dadi johar awal, ing kono wahananing alam ahadiyat, alam wahdat, alam wahidiyat, alam arwah, alam misal, alam ajsam, alam insan kamil, dadining manungsa sampurna yaiku sajtining sipat Ingsun”.

7. Panetep Santosaning Iman
Wejangan punika dipun wastani panetep santosaning iman, abebuka sahadat jati, awit dening pamejangipun amangsit ingkang dados pikekahing pangandel kita, denira angestokaken dhateng kayektining gesang kita pribadi, manawi sampun tetep minangka tajalining Pangeran Kang Maha Suci sajati. Kasebeut ing dalem ijemak riwayating para wiliyullah, nukilan saking kadis makdus, salebeting bab maklumatul uluhiyah. Wiyosipun anyariyosaken kakekating taukid. Ingkang terus dhateng iktikad, wewiridan saking cipto sasmitanipun Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah ingkang kawangsittaken dhateng sayidina Ali, makaten jarwanipun : ”Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun”.

Menggah dunungipun makaten :

a. Ingkang dipun wastani Pangeran meniko Dzating gesang kita pribadi, sebab sajatosipun sagung asya sami kukum napi sadaya, tegesipun asya ; sawiji-wiji, tegesipun napi, boten wonten, mila kasebut boten wonten Pangeran isbatipun inggih namung Dzating gesang kita pribadi. Tegesing isbat ; tetep, dados teteping ingkang anyebut kaliyan ingkang sinebut Pangeran punika boten wonten sanesipun, suraos tunggal tanpa wewangenan amung kaot lair batin kemawon.

b. Ingkang dipun wastani Muhammad punika sipating cahya kita, mila dipun basakaken utusan, amargi dados pangeran rahsaning Dzat, kawistara wonten ing netya, kados ingkang kasebut wonten ing dalil salebeting Qur’an makaten jarwanipun : “Sayekti temen-temen teka ing sira kabeh, utusaning Dzat metu saka ing awakira kang maha mulya, mungguhing utusan iku anembadani barang saciptanira, yen angandel sayekti antuk sih pangapuraning Pangeran”.

Manawi sampun anampeni dalil Qur’an pangandikanipun Pangeran Kang Maha Suci makaten wau, dipun waskitha ing galih. Inggih gesangkita pribadi wahananing nugraha, kahananing kanugrahan. Nugraha punika Dzating Gusti, kanugrahan punika sipating kawula, tunggal tanpa wewangenan dumunung wonten ing badan kita. Sampun uwas sumelang malih, sebab ingkang kasebut ing Kitab Insan Kamil amarah manawi namaning Allah punika inggih namaning Muhammad. Umpami sabet kaliyan warangkanipun. Ing mangke Allah minangka warangka, Muhammad minangka sabet, ing tembe wewangsulan.

Wisiyating guru ingkang amedharaken ngelmi panetep santosaning iman, kaprayogekaken sami anglampahana boten karsa dhahar ulam lembu. Kabar angsal paedah manjing dados putra muridipun Kanjeng Susuhunan ing Kudus, kaidenan ingkang dados saesthining galihipun. Wonten riwayating guru manawi amedharaken ngelmi panetep santosaning iman, ingatasipun amejang dhateng pawestri, wenang kawewahan makaten jarwanipun.”Ingsu ankeseni, satuhune ora ana Pangeran anging ingsun, lan anekseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusan Ingsun Fatimah iku umat Ingsun”.

8. Sasahidan
Wejangan punika dipun wastani sasahidan, awit dening pamejanganipun kinen asahida dhateng wahananing sanak kita. Inggih punika ananing dumadi ingkang gumelar wonten ing alam dunya, kadosta, bumi, langit, wulan, lintang, latu, angin, toya, sapanunggalipun sadaya. Sami aneksenana yen kita mangke sampun purun angakeni “ Jumeneng Dzating Gusti “ Kang Maha Suci, dados sipating Allah Kang sajati. Kasebut ing dalem kiyas wewarahing para pandhita, anggenipun amencaraken nukilan saking kadis mahdus, salebeting bab Maklumating Huluhiyah. Wosipun anartani ing panetep santosaning iman, dados panuntuning tokid ingkang ambontos dhateng iktikad. Inggih ugi pepiridan saking cipta sasmitaning Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah ingkang kawangsitaken dhateng Sayidina Ali, makaten jarwanipun ;”Ingsun anekseni ing Dzatingsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune Muhammad iku utusan Ingsun, iya sajatine kang aran Allah iku badan Ingsun Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku rahsaningsun, iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena gingsir ing sawiji-wiji, iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana Ora kekurangan ing pangerti, Byar sampurna padang tarawangan, Ora krasa apa-apa Ora ana katon apa-apa, Amung Ingsun kang anglimuti ing alam kabeh kalawan kodratingsun”.

Menggah dunungipun makaten : Ingkang dipun wastani Pangeran punika Dzating gesang kita pribadi, ingkang dipun wastani Muhammad punika sipating cahya kita pribadi. Manawi ingkang kasebut ing dalem dhikir “ La Illaha Ilullah, Muhammad Rasulullah “ tegesipun boten wonten Pangeran anging Allah, Nabi Muhammad punika utusaning Allah punika afngaling Rasul, dumunung ing badan kita. Rasul punika asmaning Muhammad, dumunung ing rahsa kita. Muhammad tuwin sipating cahya, dumunung ing gesang kita. Sajataning gesang kita punika, Dzating Pangeran Kang Maha Suci.
Kayektosanipun kasebat ing dalem daliling Al Qur’an, manawi Pangeran Kang Mahasuci punika kawasa amijilaken gesang saking pejah, wijiling pejah saking gesang, inggih gesang kita pribadi punika. Sayekti awit saking pejah, ing wekasan boten kenging pejah. Dipun basakaken ; kayun pidareni. Tegesipun : gesang ing kaanan keakalih, wonten ing alam sahir kita gesang, wonten ing alam kabir inggih gesang. Sarta boten kasupen ing Dzat kita kang agung, boten ewah gingsir ing sipat kita kang elok, boten kasamaran ing sama kita kang wisesa, boten kekirangan ing afngal kita kang sampurna, dados pepuntoning taukid ingkang ambontos dhateng iktikad. Sampurnaning gesang kita punika boten wonten karaos utawi tanpa katinggal punapa-punapa. Amung waluya sajati lajeng anglimputi ing alam sadaya ; sampun uwas sumelang.
Wasiyating guru ingkang medharaken ngelmi sasahidan, kaprayogekaken sami anglampahana sampun ngantos anyebut Allah, kaisbatna anyebut Pangeran, kadosta : ing bebasan saking karsaning Allah, isbatipun saking karsaning Pangeran. Kabar pakantukipun ingkang sampul kalampahan asring kadhawahan ilham. Dados amewahi teranging pambudi, ananing wasiyating guru ingkang sami kawaleraken sadaya punika manawi kasupen boten dados punapa, sebab sajatosipun ingkang dados awisaning ulah ngelmi kasampurnan punika namung napsu. Manawi saged ambirat hawa napsu, saking aDzat kadunungan manah awas tuwin emut.
Manawi tansah awas emut saestu manggih kamulyan ing sangkan paran sasaminipun kados riwayating para ahli ngelmi ingkang kasebut ing ngandhap punika :
a. Taberi suci temen ; Minangka pambirating durgandana ing tembe, tegesipun ; ganda awon.
b. Angengirangi dhahar nginum ; Minangka paluluhaning raga ing tembe.
c. Angawisi sare shawat ; Minangka pangluyutaning jiwa ing tembe.
d. Nyenyuda napsu wuwus ; Minangka panglenyepaning rahsa ing tembe.

Manawi sampun lenyep rahsanipun, kabar dumugining delahan ing tembe lajeng layat dados cahaya gum, ilang tanpa wewayangan ing kaanan kita kang sejati. Punika sarehning kula dereng saged anglampahi piyambak, dados namung anyumanggakaken ing pamanggihing galih kemawon. Bokmanawi kalampahan makaten inggih wallahu alam katarimahipun.
Sawise ganep pamejange, nuli amarah patrape paraboting ngilmu dadi wolung pangkat, kasebut ing ngisor iki :
1. Pamuja. “Ana pepujaningsun sawiji, Dzate iya Dzatingsung, sifate iya sifatingsun, asmane iya asmaningsun, afngale iya afngalingsun, Ingsun puja ing patemon tunggal sakahananingsun, sampurna kalawan kudratingsun”.
2. Tobat utawa Panalangsa. “Ingsun analangsa maring Dzatingsun dewe, regeding jisimingsun gorohe ing atiningsun, serenge ing napsuningsun, laline ing uripingsun salawas-lawase ing mengko Ingsun ruwat sampurna ing sadosaningsun kabeh saka ing kudratingsun”.
3. Pangruwat. “Ingsun angruwat kadangingsun papat kalmia pancer kang dumunung ana ing badaningsun dewe, Mar Marti Kakang Kawah Adi Ari-ari Getih Puser, sakehing kadang ingsun kang ora katon lang kang ora karawalan, utawa kadangingsun kang metu saka marga ina, sarta kadangingsun kang metu bareng sadina kabeh pada sampurnaa nirmala waluya kahanan jati dening kudratingsun”.
4. Saksi ing Dzat Kita, kaya Sasahidan. “Ingsun anakseni ing Dzatingsun dewe, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anakseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusaningsun, iya sajatine kang Allah iku badaningsun, Rasul iku rahsaningsun, Muhammad iku cahyaningsun, iya Ingsun kang urip ora kena ing pati, iya Ingsun kang eling ora kena lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskita ora kasamaran ing sawiji-wiji, iya Ingsun Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa Wicaksana ora kekurangan ing pangreti, byar sampurna padang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, mung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kudratingsun”.
 5. Anucekake Sakehing Anasir. “Ingsun anucenaken sakaliring anasiringsun kang abangsa jasmani, suci mulya sampurna anunggal kalawan sakaliring anasiringsun kang abangsa Rochani, nirmala walya ing kahanan jati dening kudratingsun”.
6. Angawinake Badan Karo Nyawa. “Allah kang kinawin, winalenan dening Rasul, pangulune Muhammad, saksine Malaekat papat, iya iku Insun kang angawin badaningsun, winalenan dening rahsaningun, kaunggahake dening cahyaningsun, sinaksenan dening Malaekatingsun papat, Jabarail, iya iku pangucapingsun, Mikail pangambuningsun, Israfil paningalingsun, Idjrail pamiyarsaningsun, srikawine sampurna saka ing kudratingsun”.
7. Sangkan Paraning Tanazultarki. “Ingsun mancad saka ing alam Insan Kamil, tumeka ing alam Ajsam, nuli tumeka ing alam Misal, nuli tumeka ing alam Arwah, nuli tumeka ing alam Wachidiyat, nuli tumeka ing alam Wahdat, nuli tumeka maring alam Insan Kamil maneh, sampurna padang tarawangan saka ing kudratingsun”.
8. Pambirat Asaling Cahya. “Cahya ireng kadadeyaning napsu, Luwamah sumurup maring cahya kang abang, cahya abang kadadeyaning napsu, Amarah sumurup maring cahya kang kuning, cahya kuning kadadeyaning napsu, Sufiyah sumurup maring cahya kang putih, cahya puti kadadeyaning napsu, Mutmainah sumurup maring cahya kang amancawarna, cahya kang amancawarna kadadeyaning Pramana, sumurup marang Dzating cahyaningsun kang awening mancur mancorong gumilang tanpa wewayangan, byar sampurna padang terawangan, ora ana katon apa-apa, kabeh-kabeh pada kalimputan dening Dzatingsun saka ing kudratingsun”.

Sawise mangkono, nuli amarah maneh praboting amatrapake panjenenganing Dzat, dadi sangang pangkat, kasebut ing ngisor iki.
1. Angumpulake Kawula Gusti. “Ingsun Dzating Gusti Kang Asifat Esa, anglimputi ing kawulaningsun, tunggal dadi sakahanan, sampurna saka ing kudratingsun”.
2. Maha Sucekake Ing Dzat. “Ingsun Dzat Kang Amaha Suci Kang Sifat Langgeng, kang amurba amisesa kang kawasa, kang sampurna nilmala waluya ing jatiningsun kalawan kudratingsun”.
3. Angrakit Karatoning Dzat. “Ingsun Dzat Kang Maha Luhur Kang Jumeneng Ratu Agung, kang amurba amisesa kang kawasa, andadekake ing karatoningsun kanga gung kang amaha mulya. Ingsun wengku sampurna sakapraboningsun, sangkep, saisen-isening karatoningsun, pepak sabalaningsun, kabeh ora ana kang kekurangan, byar gumelar dadi saciptaningsun kabeh saka ing kudratingsun”.
4. Angracut Jisim. “Jisimingsun kang kari ana ing alam dunya, yen wis ana ing jaman karamating maha mulya, waluya kulit daging getih balung sungsum sapanunggalane kabeh, asala saka ing cahya muliha maring cahya, sampurna bali marang ingsun maneh saka ing kudratingsun”.
5. Anarik Sampurnaning Akrab. “Jaganingsun sapanduwur sapangisor kabeh, kang pada mulih ing jaman karamating alame dewe-dewe, pada suci mulya sampurnaa kaya Ingsun saka ing kudratingsun”.
6. Angukud gumelaring Jagad. “Ingsun andadekake alam dunya saisen-isene kabeh iki, yen wis tutug ing wewangene, Ingsun kukud mulih mulya sampurnaa dadi sawiji kalawan kahananingsun maneh saka ing kudratingsun”.
7. Ambabar Karaharjaning Turas. “Turasingsun kang maksih pada kari ana ing alam dunya kabeh pada nemuwa suka bungah sugih singgih aja ana kang kekurangan, rahayu salameta sapanduwure sapangisore saka ing kudratingsun”.
8. Amasang Pangasihan. “Sakahe titahingsun kabeh, kang pada andulu kang pada karungu pada asih welasa marang Ingsun, saka ing kudratingsun”.
9. Amasang Kamayan. “Sakeha machlukingsun kabeh, kang ora angendahake maring Sun, pada kaprabawa dening kamayan dening kudratingsun”.

Ing wekasan kang kawejang dijantenana yen panggonaning patrap pratikele sawiji-wiji, kapratelakake ana Babaring Wirid amawa murad maksud kasebut dadi pituduhane dununging ngelmu makrifat kabeh mau iku. Sawise mangkono, kang amejang maca dunga Istiqfar karo dunga Kabula, sajeroning batin anuwun pangapura marang Kang Amurba Amisesa ing ngurip, supaya aja nganti pleh wewalak anggone amerake rahsaning Dzat iku. Nuli kang kawejang dijanjeni, Manawa isih urip gurune, ora kena mejang, kang wis kalakon andadekake ora prayoga, dene Manawa kaburu ing perlu, ana akrabe kang lara lara-banget, mangka during ngelmu, iku kena amisik Ananing Dzat bae.
Kajabone saka mangkono, saupama kang kawejang mau during anarima utawa isih kurang padang ing panampane, Manawa arep anggeguru ing liyane maneh ora dadi apa, angger anajaluk idening guru kang amejang ngelmu iku. Sawise mangkono banjur pada sesalaman, utamane kang kawejang mau yen karsa angabekti marang kang amejang.
Sawise luwar saka pamejangan, ing kono nuli pada angepung mabengan, salamating jiwa raga, mungguh kehing ambengan dadi telung asahan, ing ngisor iki pratikele :
 1. Memule angaturi dahar Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah, sega wuduk, lembarang pitik, utawa endog, karupuk, lombok, terong.
2. Memule angaturi dahar para Sahabat Rasul karo para Waliyullah, sego golong, pecel pitik, jangan menir, iwak kebo siji kagoreng.
3. Memule angaturi dahar marang leluhur kang pada amedarake rahsaning ngelmu makrifat apa kang dadi dedaharane nalika isih urip, sarta nganggo kinang, kembang konyoh, kabeh iku pada kadonganan onga Rasul, Majmuk Kabula, Tulak-bilahi wekasan Salamet.

Dene pakolehing amejang iku, yeng amarengi sasi tanggale sapisa ing dina Jum’at, pamejange anuju purnama, anggere or sangar ora na’as, sarta ora taliwangke, Manawa sangaraning sasi anuju dina Jum’at, pamejang ing dina Anggara Kasih (seasa Kliwon), ora angetung purnama. Mungguh pakolehing enggon pamejang iku, bumi sucikang becik arane, sarta ora kauban wangon, utamane yen ana ing gunung, ing ara-ara, ing banyu, angger becik jenege sarta sepen, prayoga kanggo panggonan amejang, kaya ta : ing gunung Agung,ara-ara ing Purwadadi, ing Ngadipala, bangawan ing Ngobol, luwih utama pisan Manawa amejang ana ing Sitinggil, utawa palataran ing Masjid Gede, sapepadane kang sakira pakoleh ing jeneng karo panggonane.

Nguripi Ageming Aji

Nguripi Ageming Aji

Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelayut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.


( Dia yang sudah mengetahui jalan, menghayati tanda-tanda kebijaksanaan, menjangkau inti pribadi, telah bisa menyaksikan secara nyata, yang menghalangi telah menyingkir, benar-benar memasuki alam sunyi, terlihatlah segala keadaan, terlihat tanpa batas, itulah yang dinamakan bertemu dengan jejak Tuhan )

Mengkono janma utama, tuman tumanem ing sepi, ing saben dina rikala mangsa, mangsah amamasuh budi, lahire den tetepi, ing reh kasatriyanipun, susilo anoraga, wignya men tyasing sasami, yeku aran wong barek berag agama.


( Seperti itulah manusia utama, senang tenggelam dalam kesunyian, setiap hari ketika dia menemukan kesempatan, mempertajam dan membersihkan jiwa, setia menjalankan peran sebagai kesatria, bertindak baik, rendah hati, pandai bergaul dan membuat hati orang terpikat, itulah yang disebut orang-orang yang menghayati agama )


Agama adalah “ ageming aji “, pegangan yang baik...ajaran yang harus dipegang dengan kukuh dan dihayati agar muncul kebaikan. Agama ibarat obor..ia dipegang…dijadikan penerang, agar kehidupan kita di muka bumi ini tetap berada di jalan setapak kebenaran, tidak terperosok apalagi tersesat, dan ujungnya…kita bisa kembali kepada asal muasal sekaligus tujuan akhir kita, sangkan paraning dumadi, Dialah Hyang Tunggal, Hyang Wisesa, yang disebut manusia dengan berbagai nama: Allah, God, Elli, dan semacamnya.

Berbicara tentang kebaikan, kita mesti berbicara tentang kebaikan pada tiga dimensi: dimensi pribadi, dimensi sosial, dan dimensi semesta. Beragama yang baik, indikatornya adalah ketika ketiga dimensi yang melingkupi hidup kita itu selalu dalam keadaan baik. Baik pada dimensi pribadi, adalah bahwa kita menemukan kebahagiaan sejati, kita bisa merasakan kedamaian yang tak bercampur dengan kegelisahan, kita masuk ke dalam alam keselamatan yang tak lagi dikotori musibah. Sementara baik pada dimensi sosial, maknya kita dipersepsi baik oleh orang di sekitar kita, karena kita selalu memberikan kebahagiaan, ketenangan, rasa aman, dan keselamatan kepada mereka. Dan terakhir, baik pada dimensi semesta…kita, sebagai jagad alit, menjadi selaras dengan jagad ageng. Kita bisa merasa terhubung dengan tanah, udara, air, api…kita bisa merasa satu dengan tetumbuhan, hewan, matahari, bulan, semesta yang tak terbatas…yang wujud nyatanya, alam ini selamat dari semua kejahatan kita.

Sudahkah agama membawa kebaikan bagi kita? Harus kita sendiri yang menentukannya secara jujur. Kadang ada orang yang tahu apakah kita sudah beragama dengan baik atau belum..merekalah kaum yang waskito…tapi walau mereka tahu, mereka tak bisa mengubah nasib kita. Kita sendirilah yang harus mengubah keadaan, perjalanan hidup kita.

Dalam kenyataan hidup saat ini, di nusantara yang kita cintai ini, terlihat apa yang disebut dengan peningkatan gairah beragama. Di mana-mana orang menunjukkan semangat untuk kembali pada agama.
Sayang sekali..pada banyak kasus..kebangkitan itu hanya pada tataran artifisial. Orang ternyata baru kembali pada kulit agama…mereka seperti anak-anak di hari lebaran yang bangga ketika mengenakan baju baru tanpa peduli akan makna kembali pada fitrah dan kesucian. Seringkali..hakikat agama itu sendiri tak terlihat…Banyak orang yang ternyata bajunya saja yang sudah baju agama, tetapi dalamnya, lapisan jiwanya..belum diterangi oleh agama.

Gampang sekali mengamati fenomena di atas. Kita bisa melihat orang atau kelompok yang paling merasa beragama dan paling merasa dekat Tuhan…di kalangan mereka agama diteriakkan, Tuhan juga diteriakkan…tapi hasilnya justru orang merasa tak nyaman, merasa tak aman, dan jauh dari kedamaian.

Tanda paling jelas untuk melihat kualitas keberagamaan kita adalah dengan melihat bagaimana respons alam ini. Saat ini, mengiringi bangkitnya semangat keagamaan, ternyata alam malah menjadi tak bersahabat. Bahkan alam ini, bumi pertiwi malah berduka…jagade gonjang ganjing!

Jelas ada yang keliru! Kebaikan pada berbagai dimensinya tidak muncul ketika saat ini orang seperti telah kembali pada agama. Mengapa? Karena sesungguhnya mereka tidak kembali pada hakikat agama sebagai agama ageming aji dan aturan yang mencegah manusia dan semesta ini terperosok pada ketidakteraturan. Agama yang hanya dipahami sebagai identitas budaya, yang membuat seseorang merasa berbeda dari orang atau kelompok lainnya…Itu jelas hanya akan menciptakan keburukan pada dimensi sosial sekaligus membuat kita terputus hubungan dengan semesta. Apalagi saat ini kita juga bisa melihat banyak pihak mengulang pola yang sudah lama mewarnai Nusantara maupun berbagai belahan dunia: memanipulasi agama, baik sengaja maupun tak sengaja. Ketika agama dimanipulasi, agama dijadikan topeng untuk ambisi, hasrat, dan obsesi rendah. Jelas, pada tataran sosial yang terjadi adalah kekacauan, pada tataran alam yang muncul adalah bencana.

Jika kita mau agama kita memberikan kebaikan yang utuh..maka apa yang dituliskan dalam Serat Wedatama di atas layak jadi pegangan. Kita mulai belajar menjalani agama sebagai petunjuk untuk memasuki alam kesunyian, alam pertemuan dengan Dzat Yang Maha Misteri. Langkah praktisnya adalah menekankan aspek agama sebagai petunjuk tentang perilaku yang baik: agama sebagai pedoman akhlakul karimah ( budi pekerti luhur ). Berbagai ritual agama, ditempatkan pada konteks riyadhoh, pelatihan, agar diri ini bisa terkendalikan, dan kemudian, bisa terbiasa untuk berbuat baik kepada diri sendiri, kepada Yang Mencipta kita, dan kepada sesama ciptaan.

Pada posisi beragama seperti yang diajarkan dalam Serat Wedhatama, arogansi dalam beragama, yang muncul dalam kebiasaan mengaku-ngaku sebagai satu-satunya kelompok yang pantas menjadi kekasih Tuhan, satu-satunya umat yang selamat dan bisa menikmati surga..harus disingkirkan. Itu harus diganti dengan kerendahan hati..dengan sikap diam dalam ketekunan menjalankan laku prihatin. Keberagamaan kita tidak lagi disampaikan lewat kata-kata, tapi dibuktikan melalui perilaku mulia yang membuat orang lain tersenyum bahagia karena keberadaan kita.

10 Falsafah Jawa Yang Relevan Sampai Akhir Zaman

10 Falsafah Jawa Yang Relevan Sampai Akhir Zaman

Masyarakat Jawa sangat terkenal dengan falsafah hidupnya. Falsafah ini bukan sekedar pepesan kosong belaka akan tetapi menjadi salah satu panduan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Berikut ini 10 Falsafah Jawa Yang Relevan Sampai Akhir Zaman. Semoga bermanfaat.


10 Falsafah Jawa Yang Relevan Sampai Akhir Zaman

1- Urip Iku Urup [Hidup itu sejatinya memberikan manfaat untuk siapa & apa saja].
2- Memayu Hayuning Bawana lan Ambrasta Dur Angkara [Manusia hidup di dunia ini harus mengupayakan keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan ketentraman alam semesta seisinya serta memberantas angkara murka].
3- Surodiro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti[Segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut, dan sabar].
4- Ngluruk Tanpa Bala, Sugih Tanpa Banda, Sekti Tanpa Aji, Menang Tanpa Ngasorake [Berperang tanpa membawa pasukan, kaya tanpa harta, sakti tanpa kesaktian, menang tanpa mengalahkan].
5- Aja Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan [Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan sedih manakala kehilangan menghampiri].
6- Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman [Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah mengeluh, jangan mudah terkagetkan, jangan mudah kolokan/bermanja-manja/memanjakan diri].
7- Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan, Kemareman [Jangan terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh jabatan/kehormatan/kekayaan, kenikmatan dunia].
8- Aja Keminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka [Jangan merasa paling pintar agar tidak salah arah, jangan berbuat curang agar tidak celaka].
9- Aja Milik Barang Kang Elok, Aja Mangra Mundak Kendo [Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah. Jangan pula mudah berprasangka, supaya tidak menyusut semangat dan kerja].
10- Aja Adigang Adigung Adiguna [Jangan sok kuasa, sok mulia, dan sok sakti mandraguna].

Belajar dari falsafah ketupat

Belajar dari falsafah ketupat


Sejarah Ketupat.
Adalah kanjeng Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat jawa. Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda lebaran dan bakda kupat. Bakda kupat dimulai seminggu sesudah lebaran. Pada hari yang disebut BAKDA KUPAT terswebujt, di tanah jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyan ketupat dari daun kelapa muda.

Setelah selesai dianyam, ketupak diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.

Arti Kata Ketupat.
Dalam filosofi jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat.
Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa. 
Prosesi sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua seraya memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain, khusunya orang tua.

Laku Papat.
Laku papat artinya empat tindakan dalam perayaan Lebaran.
Empat tindakan tersebut adalah:
1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.
Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.
Lebaran.
Lebaran bermakna usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Berasal dari kata lebar yang artinya pintu ampunan telah terbuka lebar.

Luberan.
Bermakna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah menjelang lebaran pun selain menjadi ritual yang wajib dilakukan umat islam, juga menjadi wujud kepedulian kepada sesama manusia.

Leburan.
Maknanya adalah habis dan melebur.
Maksudnya pada momen lebaran, dosa dan kesalahan kita akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur atau kapur.
Kapur adalah zat yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun poemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin satu sama lain.

Nah, itulah arti kata ketupat yang sebenarnya.
Selanjutnya kita akan mencoba membahas filosofi dari ketupat itu sendiri.

Filosofi Ketupat:
1. Mencerminkan Beragam kesalahan manusia.
Hal ini bisa terlihat dari rumitnya bungkusan ketupat ini.

2. Kesucian hati.
Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih dan hal ini mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

3. Mencerminkan kesempurnaan.
Bentuk ketupa begitu sempurna dan hal ini dihubungkan dnegan kemenangan umat islam setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak idul fitri.

4. Karena ketupat biasanya dihidangkan dnegan lauk yang bersantan, maka dalam pantun jawa pun ada yang bilang "KUPA SANTEN", Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten (Saya Salah Mohon Maaf

Minggu, 09 Agustus 2015

Serat Ronggowarsito

Cuplikan Pupuh Sinom :

►Mangkya darajating praja, Kawuryan wus sunyaturi, Rurah pangrehing ukara, Karana tanpa palupi, Atilar silastuti, Sujana sarjana kelu, Kalulun kala tida, Tidhem tandhaning dumadi, Ardayengrat dene karoban rubeda
(Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan). Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.)
►Ratune ratu utama, Patihe patih linuwih, Pra nayaka tyas raharja, Panekare becik-becik, Paranedene tan dadi, Paliyasing Kala Bendu, Mandar mangkin andadra, Rubeda angrebedi, Beda-beda ardaning wong saknegara
(Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena daya jaman Kala Bendu. Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.)
►Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya kaduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndilalah karsa Allah, Begja-begjane kang lali, Luwih begja kang eling lawan waspada
(Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.)
► Ya Allah ya Rasulullah, Kang sipat murah lan asih, Mugi-mugi aparinga, Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir, Dumununging gesang ulun, Mangkya sampun awredha, Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan
(Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih, mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini. Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.)
► Sageda sabar santosa, Mati sajroning ngaurip, Kalis ing reh aruraha, Murka angkara sumingkir, Tarlen meleng malat sih, Sanityaseng tyas mematuh, Badharing sapudhendha, Antuk mayar sawetawis, BoRONG angGA saWARga meSI marTAya
(Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, seolah-olah dapat mati didalam hidup. Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan. Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya. Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami)