Jumat, 18 November 2016

KIDUNG KALA CAKRA

Kunci Ilmu Rajah Kalacakra

Kunci Ilmu Rajah Kalacakra adalah ilmu tolak balak paling ampuh yang merupakan senjata gaib untuk menghancurkan kekuatan musuh. Kunci Ilmu Rajah Kalacakra merupakan piandel kalangan ahli kebatinan kejawen yang bermanfaat untuk perisai diri bahkan untuk penghancur kekuatan lawan, tak heran secara umum banyak dimanfaatkan orang untuk tolak balak ilmu hitam. Kunci Ilmu Rajah Kalacakra juga digunakan oleh para jawara tempo dulu di antaranya menawarkan ajian, menyerang balik kekuatan gaib musuh dan memiliki kekuatan menyerang makhluk halus hingga terluka parah. Kunci Ilmu Rajah Kalacakra juga ampuh untuk mengusir makhluk halus jahat dengan cara memasangnya di tempat-tempat yang dicurigai ada makhluk halusnya yang sering mengganggu manusia. Namun sebenarnya menulis atau membacanya adanya kunci agar energinya berfungsi dan memiliki khasiat yang nyata, jadi semua tentu adanya kaidah keilmuannya bukan sekedar baca atau menulis rajahnya. Hal ini yang tidak diketahui oleh khalayak umum, jadi main comot main baca dan main tulis beranggapan kekuatan Rajah Kalacakra langsung berfungsi. Jangan karena mendengar kata orang kata dukun kata simbah,itu hanya dongeng atau mitos sebab orang main copas karena beranggapan seperti yang diceritakan orang lain. Jangan memakai ilmu katanya jika anda tidak mengetahui kunci atau rahasianya serta tatacaranya.
Kunci Ilmu Rajah Kalacakra terdiri dari rapalan mantra dan tulisan rajahnya, hal ini sangat terkait. Sebelum kita bahas terkait rapalan mantranya, kita kupas sedikit mengenai rajahnya. Rajah Kalacakra akan berfungsi maksimal jika di tulis pada daun atau kulit binatang, bukan terukir pada logam dan batu, itu bisa dikatakan aksesoris belaka. Jika ada paranormal mengeluarkan produk Rajah Kalacakra tercetak/terukir pada logam atau batu buatan (dari resin) ini sejujurnya hanya aksesoris yang diisi kekuatan energinya sedang energi rajah kalacakra-nya dijamin tidak berfungsi. Sebab rajah kalacakra harus ditulis dengan kaidah kasepuhan kejawen tertulis dengan tangan. Bagaimana tatacaranya tentu semua wajib di gurukan dengan seorang guru yang memahami keilmuan kejawen.
Sekarang terkait pada rapalan mantranya, Kunci Ilmu Rajah Kalacakra memiliki aturan mantra dan dibacanya jangan roncah tetapi harus urut, sebab mantra dalam tradisi kejawen ada pamangkunya, baik pedanyangan maupun kadewannya. Berikut ini mantranya:

Hong Ilaheng, Sang Hyang Kala Kang Katon, Sun Umadep, Sun Umarep, Singkir Sumingkir, Keno Sanjoto Prabu Kreshno.

YOMOROJO..........JOROMOYO
siapa yang menyerang,berbalik menjadi berbelas kasihan

YOMORANI...........NIROMOYO
siapa datang bermaksud buruk, malah akan menjahui

YOSILOPO............POLOSIYO
siapa membuat lapar akan malah memberi makan

YOMIDORO..........RODOMIYO
siapa memaksa malah menjadi memberi keleluasaan/kebebasan

YOMIDOSO..........SODOMIYO
siapa membuat dosa, berbalik membuat jasa

YODOYUDO...........DOYUDOYO
siapa memerangi berbalik menjadi damai

YOSIYOCO..........COYOSIYO
siapa membuat celaka berbalik menjadi membuat sehat dan sejahtera

YOSIHOMO..........MOHOSIYO
siapa membuat rusak berbalik menjadi membangun dan sayang.

RAHAYU-RAHAYU-RAHAYU-SORAK HAYU.

Tulisan yang tergores di dada Batara Kala yang kemudian dapat dibaca oleh Batara Wisnu yang menyamar sebagai dalang Kandhabuwana. Munculnya Rajah Kalacakra itu pada upacara ruwatan dengan cerita Murwakala. Karena hal itu, Batara Kala kemudian mengikuti kehendak Batara Wisnu.

Rajah ini bukan hanya sebagai jimat penangkal ketika diadakan ruwatan, tetapi bagi yang percaya, rajah ini bisa pula dibawa kemana-mana sebagai pegangan rasa percaya diri. Rajah ini diantara dipercaya bisa untuk:
- menghilangkan sukerta. Setelah diruwat, dengan membaca rajah ini berulang-ulang, dalam diri sukerta terus terjadi pembersihan dari berbagai sukerta
- rajah ini ditulis dan ditempel di tempat terhormat, bukan sebagai jimat, tetapi untuk membantu menghafal bagi siapa saja.
- Dibaca pada waktu upacara selamatan untuk mengerjakan pekerjaan baru seperti membangun rumah atau jembatan dll.

Kunci Ilmu Rajah Kalacakra yang kami postingkan sebagai wawasan dan sedikit pengetahuan yang bersifat umum, bila untuk mendalami dan mengetahui keaslian/keoriginalan sesuai dengan tradisi budaya kejawen silahkan di gurukan pada ahlinya. Bisa menghubungi via FB dari Langlang Buana, Ustd Raja Nakaban, Pak Ndul, dan team Indo Ghaib

Sabtu, 05 November 2016

11 Filosofi Hidup Orang Jawa yang Bikin Hidup Lebih Bermakna dan Bahagia

11 Filosofi Hidup Orang Jawa yang Bikin Hidup Lebih Bermakna dan Bahagia

 Sabtu, 05 November 2016  Hikmah

Setiap manusia, pasti punya falsafah masing-masing. Falsafah atau filosofi dipegang teguh dalam perjalanan hidup. Indonesia punya banyak sekali falsafah baik dan unik. Salah satunya adalah falsafah orang Jawa.

Falsafah Jawa memang terkenal dalam dan penuh makna. Nah, kalau kamu salah satu orang Jawa, kamu pasti merasakan betapa manfaatnya falsafah ini terhadap hidupmu.

1. Alon-alon waton kelakon

Artinya pelan-pelan asal selamat. Kedengarannya simpel ya tetapi sebenarnya filosofi ini memiliki makna yang mendalam. Disini kita diajak untuk selalu berhati-hati, ulet, waspada, dan berusaha dalam menjalani hidup.

2. Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman

Artinya kita jangan mudah heran, mudah menyesal, mudah terkejut, dan manja. Filosofi ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang dapat menerima semua keadaan. Sehingga kita tidak akan membuat masalah buat diri kita dan diri orang lain.

3. Sapa nandur, bakalan ngunduh

Ini soal karma. Bagi siapa yang mengumpulkan kebaikan maka suatu saat akan mendapatkan hasilnya. Orang yang banyak membantu orang lain, dia akan mendapatkan karma yang baik suatu hari nanti. Kita diajarkan untuk berlomba menanam kebaikan dimanapun kita berada. Ini juga bermakna kerja keras kita yang akan berhasil kelak.

4. Nerima ing pandum

Filosofi tersebut artinya menerima segala pemberian. Kita sebaiknya bisa ikhlas dalam menghadapi segala hal yang terjadi didalam hidup kita. Hal ini ditunjukkan khususnya agar kita tidak menjadi orang yang serakah dan menginginkan hak milik orang lain.

5. Urip iku urup

Hidup itu harus menyala. Jika mengikuti filosofi ini, kita diajak untuk membuat hidup kita menyala dengan membantu orang-orang disekitar kita. Intinya kita harus bisa memberi manfaat baik itu hal kecil maupun hal yang besar.

6. Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka

Jangan merasa paling pintar biar kita tidak mau salah arah dan jangan suka mencurangi biar kita tidak mau celaka. Jadi ingat koruptor sama orang yang mencuri ya. Mereka paling pintar dan salah arah, mereka juga mencurangi banyak orang, makanya jadi celaka. Kita harus bisa selalu rendah hati ya...

7. Sak bejo-bejone wong kang lali isih bejo wong kang eling lan waspodo

Filosofi ini didapat dari kitab Ronggo Warsita pujangga dari tanah Jawa. Arti dari filosofi tersebut adalah orang yang paling beruntung itu orang yang selalu ingat kepada yang Kuasa dan berhati-hati dalam menjalani hidup. Dalam ya guys maknanya.

8. Ngunduh wohing pakarti

Semua orang akan mendapatkan akibat dari segala perilakunya sendiri. Jadi, kita tidak perlu menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain karena bisa saja itu adalah akibat dari apa yang kita lakukan sendiri. Jadi, kita harus ingat untuk berhati-hati dalam betindak.

9. Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha

Menyerbu tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan, kesaktian tanpa ajian, kekayaan tanpa kemewahan merupakan arti dari filosofi ini. Makna dari kata-kata tersebut adalah kita sebaiknya menjadi pemberani meski berjuang sendirian dan selalu menjaga wibawa serta selalu bersyukur.

10. Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana

Arti dari filosofi ini adalah kehormatan diri berasal dari lisan dan kehormatan raga berasal dari pakaian. Bagi orang Jawa cara berpakaian itu menentukan kehormatan raga dan cara berbicara menunjukkan kehormatan diri seseorang. Penampilan dan ucapan kita mempengaruhi bagaimana orang bereaksi dan menghargai kita.

11. Becik kethitik ala ketara

Nah filosofi yang satu ini artinya kebaikan akan terlihat dan kejahatan juga akan nampak. Semua perbuatan akan nampak tidak peduli itu baik maupun buruk. Ini adalah ajaran untuk kita agar memperbanyak perbuatan yang baik. Jika berbuat buruk dan disembunyikan, maka suatu saat perbuatan itu juga akan terbongkar.

Filosofi-filosofi di atas merupakan petuah dan ajaran dari leluhur dan banyak yang sudah terlupakan. Ada baiknya kita sebagai generasi muda memilih dan mengambil pelajaran yang dapat kita petik dari makna filosofi-filosofi tersebut

Kamis, 03 November 2016

Ketika Nabi Menunda Orang Masuk Islam

Ketika Nabi Menunda Orang Masuk Islam

Mahbib, NU Online | Selasa, 17 Desember 2013 12:06

Satu lagi peristiwa mencengangkan ditunjukkan Rasulullah pada saat penaklukan kota Makkah. Kota Suci dikuasai umat Islam. Lawan perang benar-benar tak berkutik. Tapi, Nabi Muhammad memang punya cara-cara tersendiri dalam menghadapi mantan musuh-musuhnya.
<>
Tak ada darah menetes di dalam ataupun sekitar Masjidil Haram. Penghancuran patung berhala di sekeliling Ka’bah pun dilakukan atas permintaan penduduk Makkah. Sejak awal, Nabi mewanti-wanti berbagai bentuk kekerasan dan perusakan karena musuh tidak lagi menyerang.

Sikap anti-pemaksaan justru mengantarakan peristiwa Fathul Makkah pada kemenangan yang kian gemilang. Musyrikin Quraisy berbondong-bondong memeluk Islam, terutama setelah pemimpin tertinggi mereka, Abu Sofyan berikut keluarganya secara suka rela mengucapkan dua kalimat syahadat.

Hanya saja, kesadaran tauhid tidak selalu berlangsung segera. Seorang panglima Quraisy bernama Shofwan bin Umayyah sempat berketetapan masuk Islam tapi urung. Dia membutuhkan beberapa waktu untuk membulatkan niatnya itu.

“Berilah saya waktu seminggu untuk berpikir, apakah saya harus masuk Islam atau tidak,” kata Shofwan kepada Nabi.

“Jangan seminggu,” sergah Nabi.

Shofwan kaget dan bertanya, “Apakah itu terlalu lama?”

“Tidak,” Rasulullah menyahut, “Terlalu singkat. Kuberi kau waktu selama dua bulan. Apakah akan mengucapkan syahadat atau tidak. Pikirkanlah masak-masak sebab Islam adalah agama bagi orang-orang berakal dan menggunakan akalnya untuk berpikir. Tiada agama bagi orang yang tak memiliki akal

Senin, 31 Oktober 2016

Abah Anom sang ma'rifatullah

Abah Anom] Ma'rifatullah sebagai ilmu sejati

 Minggu, 30 Oktober 2016  Tokoh Moderat

MusliModerat.net - Menurut Pangersa Abah Anom walaupun seseorang memiliki kemampuan luar biasa bisa terbang, tubuh menjadi seribu dalam satu waktu, berjalan di atas air dan lain sebagainya, belum dianggap mencapai kesempurnaan kalau belum berma’rifat kepada Allah. 

Banyak orang yang telah menjadi murid Abah Anom, sering sowan ke Suryalaya untuk mengadu berbagai masalah yang telah menimpanya kepada Abah Anom tetapi Abah Anom hanya menjawab: 'teruskan dzikirmu!’.

Bahkan meskipun dalam berdzikir sampai bisa terbang dan melayang-layang ke udara, lalu mengadu ke Abah, tapi Abah menjawab: ’teruskan dzikirmu, itu belum sempurna !!’. sampai ada juga yg pernah ketika berdzikir, lalu ketika menengok ke kanan, beliau melihat Rasulullah Saw dan ketika menengok ke kiri, melihat Syeikh Abdul Qodir Al-Jailaniy. Lalu sowan lagi ke tempat Pangersa Abah Anom, tapi lagi-lagi Abah menjawab: ’teruskan dzikirmu, karena itu belum sempurna !!’.

Abah Anom juga selalu mengetahui apabila ada diantara muridnya yang menyukai ilmu-ilmu kanuragan maupun kadigdayaan, maka beliau berpesan: letakkan dulu keilmuan yang telah engkau pelajari kemarin dan amalkanlah dzikir laa ilaaha illaalloh karena dzikir ini ibarat nasi, kalau sudah matang tinggal mencari lauk pauknya.

Karena keilmuan keparanormalan, kedigdayaan/kanuragan tersebut hanya tingkat kekanak-kanakan menurut Wali Mursyid yang Agung Pangersa Abah Anom (yang hakikatnya juga menurut Alloh). Ilmu semacam itu hanya mampu menembus alam jin, tapi tak mampu menembus alam Jabarut dan alam Lahut.

Minggu, 23 Oktober 2016

WAYANG CAK NUN Oleh Ki Sigit Ariyanto

Wayang Cak Nun oleh Ki Sigit Ariyanto

CAKNUN.COM  •  24 Oktober 2016#Berita #Hari Santri #Maiyahan#Reportase

Cak Nun ditemui oleh Petruk, yang menyampaikan keinginan agar Cak Nun juga mengayomi para dalang di Indonesia, dan mengajak mereka Maiyahan.

Pementasan Wayang yang dimainkan oleh Ki Sigit Ariyanto telah dipersilakan dimulai oleh Cak Nun. Bersama para seluruh hadirin, Cak Nun dan semua personel KiaiKanjeng menikmati cerita yang dibangun dengan tema santri. Cak Nun menyebut pementasan ini sebagai ijtihad. Para niyogo Ki Sigit membuka dengan serangkaian shalawat yang diringi oleh musik gamelan Jawa dan memberikan nuansa yang berbeda dengan wayang pada umumnya, nuansa yang memadukan khasanah Jawa dan Islam.

Pementasan Wayang oleh Ki Sigit Ariyanto. Foto: Adin.

Saat goro-goro tiba, Ki Sigit mengeluarkan satu bilah wayang yang tak lazim. Yakni wayang bergambarkan Cak Nun mengenakan baju putih dan peci Maiyah merah putih. Cak Nun ditemui oleh Petruk yang mewakili komunitas Obrolan Santri Rembang. Dengan penuh takdzim Petruk mengungkapkan kebahagiaannya karena lama Cak Nun tak hadir di Rembang. Petruk menyampaikan keinginan agar Cak Nun juga mengayomi para dalang di Indonesia, dan mengajak mereka Maiyahan. Juga Obrolan Santri Rembang bisa menjadi Embrio Maiyah di Rembang.

Saat sore tadi, KiaiKanjeng transit di kediaman Ki Sigit dan sudah berembug untuk kolaborasi pada ending pementasan, yaitu membawakan Syi’ir Tanpo Waton. Di pendopo rumah Ki Sigit terpajang foto Ki Sigit dengan Cak Nun saat sowan di Kadipiro dan menyerahkan Gunungan Gapuran kepada Cak Nun. Ki Sigit memetik banyak khasanah nilai dari Cak Nun ihwal Jawa dan Islam.

Cak Nun ditemui oleh Petruk. Foto: Adin.

Lakon ringkas itu telah selesai, dan kini KiaiKanjeng meneruskan dengan Syi’ir Tanpo Waton. Jamaah diajak serta, dan semuanya mengikuti. Cak Nun lantas menegaskan, wayang tadi merupakan contoh pekerjaan besar yang hanya bisa dilakukan oleh orang Jawa. Wayang bukan sekadar tontonan dan hiburan. Wayang menggendong tata nilai kehidupan manusia. Wayang juga memuat kebesaran jiwa manusia yang mampu mentertawakan dirinya. Wayang akan abadi sampai ke sorga. (hm

Selasa, 18 Oktober 2016

Selama Tidak Melanggar Syariat NU Rangkul Tradisi Nusantara

Selama Tak Melanggar Syariat, NU Rangkul Tradisi Nusantara

Ilustrasi

Mahbib, NU Online | Kamis, 04 Agustus 2016 07:15

Sijunjung, NU Online
Nahdlatul Ulama tidak pernah menolak tradisi Nusantara, selama hal itu tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits. Selagi itu budaya positif, NU tak segan mengakomodasi tradisi tersebut dalam kehidupan beragama.

Hal itu disampaikan Ketua PCNU Kabupaten Sijunjung Buya Bustamam Habib pada acara halal bihalal PCNU Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Rabu (3/8/2016) di Mesjid Raya Baiturrahman Sungai Lansek, Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung.

Buya Bustamam mencontohkan, tradisi halal bihalal yang dilakukan mayoritas umat Islam di Indonesia tidak diterangkan secara eksplisit di dalam Al-Qur'an dan Hadist Nabi. Namun, halal bihalal ini sangat dianjurkan karena menjadi sarana meningkatkan silaturahim.

Di bagian lain Buya Bustaman menyebutkan, semangat ber-NU terbersit dari nilai-nilai perjuangan NU di masa silam untuk bangsa Indonesia. Selain ideologi Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang tertanam di dalam diri setiap individu masyarakat NU juga nilai bahwa NKRI adalah sebuah kajian final untuk sebuah negara yang wajib ditaati oleh setiap warganya. 

Dari awal perjuangan sampai kepada kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, NU berkomitmen untuk menjaga dan merawat bangsa Indonesia secara utuh. Maka, kecintaan masyarakat NU harus dibuktikan dengan kembalinya ke pesantren dan masjid. 

“Seperti yang kita lakukan pada saat ini. Bukti pertama bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung sedang mendirikan pesantren Nurul Ilmi,” kata Buya Busatamam Habib yang juga akan mengasuh dan memimpin langsung pesantren tersebut.

Bukti kedua bahwa PCNU Kabupaten Sijunjung dalam setiap acara dilakukan di masjid mulai dari pelantikan MWC NU sampai dengan perayaan-perayaan hari besar. 

Halal bihalal dihadiri lebih kurang 300 jamaah dengan penceramah Buya Hendri Malin Sulaiman yang juga ulama NU Kabupaten Sijunjung. 

Turut memberikan sambutan Staf ahli Bupati Kabupaten Sijunjung Syahril dan hadir juga Kasi Pontren Kemenag Sijunjung Yoni Hendra, Dandim, MWCNU, camat dan wali wagari setempat. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Senin, 10 Oktober 2016

KALAU ADA ORANG KAFIR ADIL YA TIDAK BISA DI SEBUT KAFIR DONG

KHAS–Cak Nun: “Kalau Ada Pemimpin Adil, Ya Tidak Bisa Disebut Kafir Dong”

ShareTweetPinMail

IslamIndonesia.id – Cak Nun: Kalau Ada Pemimpin Adil,  Ya Tidak Bisa Disebut Kafir Dong

 

Di depan ribuan pasang mata yang menghadiri acara Mocopat Syafaat, Bantul (17/7), budayawan Emha Ainun Nadjib mengatakan bahwa sebelum Islam datang, orang Jawa telah mencapai sebagian dari khazanah Islam.

“Meskipun (pada masa itu) tidak ada yang dinamakan bank (berlabel) Syariat,” kata pria yang akrab disapa Cak Nun ini mulai menyinggung perbedaan simbol dan substansi.

Penulis buku ‘Slilit Sang Kiai’ ini lalu berbicara tentang khazanah substansial dalam Islam yang telah dijalankan oleh para leluhur khususnya di tanah Jawa seperti ‘Gusti Allah ora sare, mo limo,’ hingga konsep tentang ‘kualat’. Setelah datangnya Islam ke Nusantara, Al-Qur’an membahasakan konsep ‘kualat’ seperti dalam ayat, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 8)

Namun, menurut Cak Nun, ‘perkawinan’ Islam dengan manusia dengan segala kapasitas sepiritiual dan intelektualnya itu, juga melahirkan ragam tingkatan seorang Muslim. Level pertama adalah Muslim yang keislamannya mengandalkan simbol atau ikon kultural.

“Jadi, Islam itu cukup diwakilkan oleh simbol-simbol kultural.”

Sebagian orang menilai keislaman seseorang jika terlihat memakai jilbab, peci, serban, tasbih dan simbol-simbol lainnya. Lebih dalam lagi, jika telah terlihat beribadah seperti shalat, zakat, atau haji. “Pokoknya, ada tanda-tanda yang terjangkau oleh panca indra.”

Perdebatan pada tahap ini juga hanya seputar tanda-tanda lahiriah. Cak Nun lalu memberi contoh jamaah masjid yang ribut hanya karena perbedaan tinggi-rendahnya tirai pembatas antara pria dan perempuan. Orang yang memiliki pandangan dunia Islam sebatas ini akan kaget dengan realitas tidak berbanding-lurusnya simbol yang dibangga-banggakan itu dengan akhlak mulia.

“Yang penting dia hafal Al-Qur’an, sudah dianggap baik banget. Kemudian kaget, ternyata koruptor juga suka Yasinan. Bahkan, undangan pembagian uang korupsi itu disebut Tahlilan,” katanya sambil kembali menekankan bahwa simbol juga penting tapi Islam tidak sebatas simbolik.

Jika menyelam lebih dalam sedikit, akan sampai pada mazhabiyah. Mazhabiyah indikasinya ideologis, adanya sistem nilai, orang telah berpikir tentang negara Islam atau tidak, kesultanan atau kerajaan dan seterusnya. Tak lupa Cak Nun menyebutkan kelompok-kelompok pengusung khilafah Islamiyah di Indonesia sebagai salah satu contoh.

Sayangnya, tidak jarang kekuasaan yang berperan pada tingkat ini. Cak Nun lalu berbicara tentang fikih yang diejawantahkan sebagai pasal-pasal selama berabad-abad untuk kepentingan penguasa. “Apalagi Anda tahu sifat sejarah. Sejarah itu milik orang yang menang, orang yang berkuasa. Apabila Anda tidak punya kritisisme pada informasi sejarah berarti Anda orang yang kalah.”

Ditambah lagi, kata pria kelahiran Jombang ini, nasib ijtihad dalam umat Islam sudah sangat memprihatinkan. Sampai hari ini, di sejumlah belahan umat Islam berada, pemikiran Islam hampir tidak berkembang lagi.

Pada tingkat selanjutnya bukan lagi simbolik, bukan lagi sistem nilai tapi tingkat ruhani. Cak Nun mencontohkan orang-orang yang mencari kebenaran dan datang ke tempat-tempat diskusi untuk mencari ilmu sejatinya dia datang secara ruhani. “Anda ke sini bukan karena jasad Anda, tapi karena ruhani Anda. Seandainya Anda bisa ke sini hanya dengan ruh, pasti Anda ke sini tanpa jasad.”

Sejauh pantauan IslamIndonesia, malam itu orang-orang yang hadir memadati pelataran tempat acara berlangsung  hingga ke jalan-jalan kampung. Meski dibantu dengan ‘layar raksasa’, masih banyak orang yang tidak bisa melihat langsung para nara sumber di panggung. Mereka itu, kata Cak Nun, tidak lagi butuh melihat wajah pembicara tapi yang mereka cari ialah kebenaran.

Ruhani, menurut Cak Nun, itu pun strukturnya bermacam-macam, dari kulit arinya ruh yaitu kesadaran-kesadaran teknis, sampai masuk sedikit yaitu mesin akal sampai kemudian naluri, gelombang ruhani, “hingga tajalli (manifestasi) Allah di dalam jiwa Anda.”

Jika konsisten dengan pandangan dunia Islam ini, dikotomi kesalehan individual dan kesalehan sosial juga terlalu dangkal. Bagi Cak Nun, jika perilakunya merusak di ranah sosial, sejatinya tidak layak disebut saleh meski secara lahir terlihat saleh. Karena orang saleh (secara individu) akan saleh secara sosial. Tidak berbeda dengan dikotomi Muslim yang zalim dan kafir yang adil.

“Kalau ada pemimpin yang zalim ya tidak bisa disebut Muslim dong. Dan kalau ada pemimpin yang adil, ya tidak bisa disebut kafir.