Kamis, 05 Januari 2017

Syair dan Sastra Al-Qursyairy

Syair dan Sastra Al-Qusyairy


Al-Qusyairy, seperti yang disebutkan oleh as Subky, adalah ahli bahasa dan sastra, seorang pengarang dan penyair. Pada masa kecilnya al-Qusyairy telah mempelajari bahasa Arab dan sastra, sehingga dikenal pula sebagai penyair yang hebat
dan cemerlang. Ali al-Bakhrazy menyebutkan dalam Dimyatul Qashr, mengutip sebagian syairnya, dan menyebut nyebut kebesarannya.

Sebenarnya, dunia tasawuf lebih dominan dibanding kepenyairannya. Anda tidak melihat dalam syair syairnya kecuali mengenai syair tharikat dengan untaian bahasa yang lembut nan indah. Kami sebutkan di antara syairnya yang kami kutip dari Thabaqat asy Syafi'iyah adalah:

Wahai Dzat Yang membuat syukurku menjadi pendek dari kekokohan-Nya,
Setiap bibir kelu bila menjunjung keluhuran-Nya Sedang kemurahan-Nya, Tunggal tiada serupa Melampaui waktu, yang berlalu maupun yang akan tiba
Tiada abad yang meninggalkan-Nya
Tiada paksa yang menyentuh Nya
Tiada singkap yang menampakkan Nya
Tiada tirai yang menyembunyikan-Nya
Tiada jumlah yang mengumpulkan-Nya
Tiada kontra yang menghalangi Nya
Tiada batas yang memotong Nya
Tiada tetes yang melimpahi Nya
Tiada jagad yang membatasi Nya
Tiada mata yang memandang Nya
Dan tiada dalam angan yang dilihat
untuk menyamai Nya
Keagungan Nya Azali
Tiada sirna Nya

Kerajaan Nya abadi
Tak satu pun dibutuhkan Nya.

Beliau juga bersyair:
Jauhkan padaku hitam legam wahai sahabatku
Bacakan surat surat doa padaku
Benar telah kami jawab bagi perintang akal penuh kepatuhan
Dan kami tinggalkan ucapan Salma dan Maya
Dan kami membuka lebar bagi pematuh syariat
Kami anjurkan pematuh hawa nafsu agar melipat dirinya.

Syairnya lagi:
Jangan tinggalkan bakti pada orang tua, ketahuilah
Pada keluarga kecil
ada yang terkecil
Raihlah orang yang di sebelah kanannya
bakal kau pegang tangan kanan
Engkau lihat yang kiri di sebelahnya
Engkau raih tangan kirinya.

Syairnya yang lain:
Bila musim memberimu dengan kesedihan
Katakanlah, dengan penghinaan yang menakutinya
Sejenak akan tampak maunya
Dan selesai setiap urusannya
Allah meminumkan pada waktu ketika aku menyepi dari wajahmu
Sedang sirnanya cinta di taman sukaria tertawa
Kami menghuni masa
Sedang mata terasa sejuk
Suatu hari jadilah ciumanmu
pelupuknya.

Pada bait lain:
Bila engkau sesaat bersama kami tidaklah engkau bersama kami
Engkau saksikan ketika pamit berpisah
Engkau yakin di antara tetesan air mata penuh ungkapan kata kata
Engkau pun tahu di antara kata kata pun penuh air mata.

Syairnya pula:
Bila keadaan keadaan jiwa menolongmu
Intailah akan sirnanya
Itu pun tak lebih dari missal pengalaman yang diberikan
Bila ucapan ucapan busuk menuju padamu
Maka, busungkan luasnya dada yang tercambuk
Dan, bersabarlah.

Kata Mutiara Islam dari Imam Hasan Al Bashri

Kata Mutiara Islam dari Imam Hasan Al Bashri

 Imam Hasan Al Bashri adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in yang banyak berguru kepada para sahabat Rasulullah saw. Beliau lahir di Madinah, tahun 642 Masehi dari ayah bernama Yasar, bekas budak Zaid bin Tsabit dan ibu yang pernah menjadi budak Ummu Salamah, salah satu istri Nabi Muhammad saw. Jadi beliau lahir dalam kalangan keluarga Nabi saw. Bahkan tak jarang Ummu Salamah menyusui bayi Hasan ketika ditinggal oleh ibunya.

Ummu Salamah juga sering membawa Hasan yang masih kanak-kanak ke majelis para Sahabat dan Umar bin Khattab r.a. pernah mendoakannya: “Ya Allah, jadikan ia faham agama dan jadikan orang-orang mencintainya!”

Kata mutiara 1

“Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.”


Kata mutiara 2

“Diantara tanda berpalingnya Allah Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”


Kata mutiara 3

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak sebelum melakukan suatu amalan. Jika niatnya adalah karena Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika niatnya bukan karena Allah maka ia mengurungkannya.”


Kata mutiara 4

“Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”


Kata mutiara 5

“Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.”


Kata mutiara 6

“Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.”


Kata mutiara 7

“Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di tengah malam.”


Kata mutiara 8

“Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.“


Kata mutiara 9

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.”


Kata mutiara 10

“Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang.”


Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-Bashri dan mengadukan masalah yang sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk bisa menjaga shalat malam, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum mampu untuk melaksanakannya.” Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah menghalangimu untuk melakukannya.”

Demikianlah, beberapa kalimat penuh hikmah, mutiara islam, dari salah seorang ulama salaf yang patut kita teladani. Semoga bermanfaat.

Kata Mutiara Islam dari Imam Hasan Al Bashri

Kata Mutiara Islam dari Imam Hasan Al Bashri

 Imam Hasan Al Bashri adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in yang banyak berguru kepada para sahabat Rasulullah saw. Beliau lahir di Madinah, tahun 642 Masehi dari ayah bernama Yasar, bekas budak Zaid bin Tsabit dan ibu yang pernah menjadi budak Ummu Salamah, salah satu istri Nabi Muhammad saw. Jadi beliau lahir dalam kalangan keluarga Nabi saw. Bahkan tak jarang Ummu Salamah menyusui bayi Hasan ketika ditinggal oleh ibunya.

Ummu Salamah juga sering membawa Hasan yang masih kanak-kanak ke majelis para Sahabat dan Umar bin Khattab r.a. pernah mendoakannya: “Ya Allah, jadikan ia faham agama dan jadikan orang-orang mencintainya!”

Kata mutiara 1

“Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.”


Kata mutiara 2

“Diantara tanda berpalingnya Allah Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”


Kata mutiara 3

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak sebelum melakukan suatu amalan. Jika niatnya adalah karena Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika niatnya bukan karena Allah maka ia mengurungkannya.”


Kata mutiara 4

“Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”


Kata mutiara 5

“Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.”


Kata mutiara 6

“Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.”


Kata mutiara 7

“Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di tengah malam.”


Kata mutiara 8

“Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.“


Kata mutiara 9

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.”


Kata mutiara 10

“Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang.”


Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-Bashri dan mengadukan masalah yang sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk bisa menjaga shalat malam, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum mampu untuk melaksanakannya.” Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah menghalangimu untuk melakukannya.”

Demikianlah, beberapa kalimat penuh hikmah, mutiara islam, dari salah seorang ulama salaf yang patut kita teladani. Semoga bermanfaat.

WACANA SUFI MELALUI SASTRA

WACANA SUFI MELALUI SASTRA

Para sufi seringkali menggunakan metafora pengalaman batin mereka dengan sejumlah syair yang teramat inah, mengingat, syathahat atau kata-kata jadzabiyahnya sulit diuraikan dengan bahasa formal. Di bawah ini sejumalh contol yang

digunakan oleh Abul Qasim al-Qusyairi dalam menjelaskan sejumlah terminologi tasawuf melalui beberapa syair:

Waktu
Setiap hari ia lewat merengkuh tanganku
memberikan sesal dalam hatiku
kemudian, berlalu.

Seperti penghuni neraka
Jika kulit-kulitnya terpanggang
kembali pula kulit-kulit itu
untuk sbuah derita panjang

Bukanlah orang mati itu
istirahat seperti mayat
Kematian adalah
mati kehidupannya.
(Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq)

Haal
Kalau tidak menempati, pasti bukan Haal
Setiap yang menempati
Pasti hilang
Lihatlah bayangan sampai ujungnya
Berkurang ketika ia memanjang.
(Ungkapan salah seorang sufi)

Haibah Dan Uns
Aku datangi
Aku tak mengerti
Dari mana
Siapa
Aku
Melainkan yang dikatakan orang-orang
pada diriku, pada jenisku
Aku datangi jin dan manusia
Lalu tak kutemui siapa pun
Lantas kuatangi diriku.

Tiba-tiba bisikan halus dalam kalbuku:
Amboi, siapakah yang tahu sebab-sebab yang lebih luhur
wujudnya
toh ia bersukaria dengan kehinaan yang sesat
dan dengan manusia
Kalau engkau dari kalangan sirna yang hakiki
Pastikan engkau ghaib dari semesta, arasy dan kursy
Padahal dirimu jauh dari Haal bersama Allah
Jauh dari berdzikir
Lebih pada Jin dan Manusia.
(Abu Said al-Kharraz)

Wujd (Ekstase)
Gelas yang dibasahi air
karena cemerlang beningnya
Lalu mutiara yang tumbuh dari bumi emas
Sementara kaum Sufi menycikan karena kagum
pada cahaya air dalam api dari anggur yang ranum
yang diwarisi ‘Aad dari negeri Iram
sebagai simpanan Kisra
Sejak nenek moyangnya.
(Abu Bakr asy-Syibly)

Jam Dan Farq
Engkau wujudkan Nyata-Mu
dalam rahasiaku
Lisanku munajat kepada-Mu
Lalu kita berkumpul bagi makna-makna
Berpisah bagi makna-makna pula
Jika Gaib-Mu adalah Keagungan dari lintas mataku
Toh Engkau buat serasi dari dalam yang mendekat padaku.
(Junaid al-Baghdady)

Fana' Dan Baqa'
Ada kaum yang tersesat di padang gersang
Ada pula yang tersesat di padang cintanya
Mereka sirna, kemudian sirna dalam kesirnaan, lalu sirna total
Lalu mereka kekal, dalam kekalnya kekal dari kekaraban dengan Tuhannya.
(Syair yang sering dikutip para sufi).

Sadar Dan Mabuk
Kesadaranmu dari KataKu
adalah sinambung
Dan mabukmu dari bagianKu
menyilakan teguk minuman
Tak bosan-bosan peminumnya
Tak bosan-bosan peneguknya
Menyerah pada sudut piala
yang memabukkan jiwanya.

Orang-orang mabuk kepayang memutari gelas piala
Sedang mabukku dari yang Maha Pemutar Piala
Ada dua kemabukan bagiku
dan hanya dua penyesal hanya satu
Yang diperuntuukan bagi mereka
hanya untukku.
Dua mabuk kepayang
Mabuk cinta
Mabuk abadi

Ketika siuman
Segalanya bugar kembali.
Dalam syair lain tentang Mabuk Ilahi ini para Sufi sering mengutip syair, sbb:

Pabila pagi cerah dengan kejora citanya
itulah keserasian
Antara kemabukan dan kesukacitaan.

bawah ini masih seputar Rasa Mabuk Ilahi:

Dzauq Dan Syurb

Gelas minuman adalah susuan kita
Kalau tak kita rasa
Tak hidup kita

Aku heran orang bicara, “Aku telah ingat Allah”
Apakah aku alpa? Lalu kuingat yang kulupa?
Kuminum Cinta, gelas piala demi gelas
Tuntas habis, tak puas pula
dahaga.

SYAIR- SYAIR IMAM SYAFI'I

SYAIR-SYAIR IMAM SYAFI'I

TIPUAN PALSU
Aku melihat tipu muslihat dunia,
tatkala ia bertenggerdi atas kepala-kepala manusia,
dan membincangkan manusia-manusia yang terkena
tipunya.
Bagi mereka,
Orang sepertiku tampak amat tak berharga.
Aku disamakan olehnya,
dengan anak kecil yang sedang bermain di jalanan.

MENCINTAI AKHIRAT
Duhai orang yang senang memeluk dunia fana,
Yang tak kenal pagi dan sore dalam mencari dunia,
Hendaklah engkau tinggalkan pelukan mesramu,
kepada duniamu itu.
Karena kelak engkau akan berpelukan,
Dengan bidadari di surga.
Apabila engkau harap menjadi penghuni surga abadi,
maka hindarilah jalan menuju api neraka.

RENDAH HATI
Bagaimana mungkin kita dapat sampai ke Sa’ad,
Sementara di sekitarnya terdapat gunung-gunung
dan tebing-tebing.Padahal aku tak beralas kaki,
dan tak berkendaraan.
Tanganku pun kosong dan,
jalan ke sana amat mengerikan.

TENTANG CINTA
Engkau durhaka kepada Allah,
dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya.
Ini adalah suatu kemustahilan.
Apabila benar engkau mencintai-Nya,
pastilah engkau taati semua perintah-Nya.
Sesungguhnya orang menaruh cinta,
Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya.
Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu,
setiap saat dan tak ada rasa syukur,
yang engkau panjatkan kepada-Nya.

KEPUASAN (QANA'AH)
Aku melihat bahwa kepuasan itu pangkal kekayaan,
lalu kupegang erat-erat ujungnya.
Aku ingin menjadi orang kaya tanpa harta,
dan memerintah bak seorang raja.

ANUGRAH ALLAH
Aku melihat-Mu pada saat penciptaanku,
yang penuh dengan anugerah.
Engkaulah sumber satu-satunya,
pada saat penciptaanku.
Hidarkan aku dari anugerah yang buruk.
Karena sepotong kehidupan telah cukup bagiku,
hingga saat Engkau mematikanku

Selasa, 03 Januari 2017

Syair Sufi

Syair Sufi

وَمَا سُمِّيَ الإنْسَانُ إِلا لِنَسْيِهِ * وَ سُمِّيَ القلبُ لأنه يتقلَبُ
Tidak dinamakan insan melainkan kerana sifat lupanya, 
dan dinamakan hati qalbu kerana ia berubah- ubah 
وعين الرضا عن كل عيب كليلة * كما أن عين السخط تبدىالمساويا 
Pandangan simpati menutup segala cela
Sebagaimana pandangan benci menampakkan segala cacat 
إذالم يكن إلا الأسنة مركب * فماحيلة المضطر إلا ر كوبها 
“Apabila tidak ada yang lain melainkan hanya tombak untuk dikendarai
Maka tidak ada jalan lain bagi yang terpaksa kecuali menaikinya.” 
اًحرام علي بلابله الوح * حلال للطير من كل جنس 
Apakah pohon besar itu haram bagi burung bulbul
Tetapi halal bagi burung jenis lainnya 
اًوكلما طن الذباب زجرتته إن الذباب إذاعلي كريم 
Apakah setiap lalat yang berisik haruskah kuusir
Kalau begitu lalat sangatlah mulia bagiku 
و من جعل غراب له دليل * يمربه علي جيف الكلاب 
“Barangsiapa yang menjadikan burung gagak sebagai dalil
Maka ia akan membawanya melewati bangkai-bangkai anjing” 
قل بما شئت في مسبة عرضي فسكوتي عند اللئيم جواب 
ما أنا عادم الجواب ولكن ما من الأسد أن تجيب الكلاب 
Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku 
Toh, diamku dari orang hina adalah suatu jawaban 
Bukanlah artinya aku tidak punya jawaban, tetapi 
Tidak pantas bagi seekor singa meladeni anjing-anjing 
(Diwan asy-Syafi’i hal. 44, tahqiq DR. Imil Badi’ Ya’qub) 
إذا ما الأصل ألفي غير زاك فما تزكو مدى الدهر الفروع
Apabila Pondasinya tidak kuat 
Maka cabangnya pun akan demikian sepanjang masa 
و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم 
Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar ? 
Sebabnya karena pemahaman yang salah/buruk 
وإذا الدعاوى لم تقم بدليلها بــ النص فهي على السفاه دليل 
Jika para pendakwa tidak menopang dalilnya dengan argumentasi 
Maka dia berada di atas selemah-lemahnya dalil 
والحق منصور وممتحن فلا تعجب فهذي سنة الرحمن 
Kebenaran itu akan menang dan mendapat ujian, maka janganlah 
Heran, sebab ini adalah sunnah ar-Rahman (sunnatullah). Imam Ibnul Qoyyim di dalam al-Kafiyah asy-Syafiyah (217) 
وإذا لم تر الهلال فسلم لأناس رأوه بالأبصار 
Apabila engkau tidak melihat bulan sabit maka serahkanlah 
Kepada manusia yang melihatnya dengan mata kepala 
لو كنت تعلم ما أقول عذرتني أو كنت أعلم ما تقول عذلتكا 
لكن جهلت مقالتي فعذلتني وعلمت أنك جاهل فعذرتكا
Seandainya kamu faham ucapanku niscaya kamu akan memaafkanku 
Atau aku mengetahui ucapanmu maka aku mengkritikmu 
Tetapi engkau tidak faham ucapanku sehingga mencelaku 
Dan aku tahu bahwa kamu tidak faham maka aku memaafkanmu 
تكاثرت الظياء على خراش فما يدري خراش ما يصيد 
Kijang itu begitu banyak di hadapan Khirasy (sebangsa serigala) 
Sehingga dia tidak tahu mana yang harus diburu terlebih dahulu 
سارت مشرقة وسرت مغربا شتان بين مشرق ومغرب 
Dia berjalan ke timur dan aku berjalan ke barat 
Aduhai alangkah jauhnya timur dan barat 
احذر لسانك أن يقول فتبتلى إن البلاء موكل بالمنطق 
Jaga lidahmu untuk berujar dari petaka 
Sebab petaka itu bergantung pada ucapan
فالبهت عندكم رخيص سعره حثوا بلا كيل ولا ميزان 
Di sisi kalian dusta itu sangat murah harganya 
Tanpa ditakar dan ditimbang mereka menghamburkannya 
تَخُضْ فِيْ حَدِيْثٍ لَيْسَ مِنْ حَقِّكَ سِمَاعُهُ 
Janganlah engkau menyelam ke suatu pembicaraan yang engkau tidak berhak mendengarkannya 
و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم 
Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar ? 
Sebabnya karena pemahaman yang salah/buruk 
ستبدي لك الأيام ما كنت جاهلا ويأتيك بالأنباء من لم تزود 
Waktu akan menampakkan apa yang tidak kamu ketahui 
Dan datang memberimu berita tentang apa yang tak kamu ketahui 
لكل مقال مقام و لكل مقام مقال
“Setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada ucapannya tersendiri.” 
لاَ يَحْمُدُ السَّيْفُ كُلَّ مَنْ حَمَلَهُ 
Pedang itu tidak memuji setiap orang yang membawanya 
كل يدعى وصلابليلى وليلى لاتقرلهم بذاك 
Semua mengaku-ngaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila memungkiri pengakuan-pengakuan mereka tersebut 
فَعَلَيكَ بِالتَفصِيلِ وَالتَبيِينِ فَال إِطلاَقُ وَالإِجمَالُ دُونَ بَيَان
قَد أَفسَدَ هَذَا الوُجُودَ وَخَبَّطا ال أَذهَانَ وَالآراءَ كُلَّ زَمَانِ
Haruslah engkau memperinci dan menjelaskan
Penjelasan global tanpa perincian
Telah merusak alam ini dan membingungkan
Akal pikiran setiap zaman. Ibnul Qayyim 
وَمَنْ يَكُ ذَا فَمٍ مُرٍّ مَرِيْضٍ يَجِدُ مَرًّا بِهِ المَاءَ الزُّلالا
Barangsiapa yang merasa sakit mulutnya
Niscaya air yang tawar akan terasa pahit baginya 
قَوْمٌ إِذَ الشَّرُّ أَبْدَى نَاجِذَيْهِ لَهُمْ طَارُوا إِلَيْهِ زَرَفَاتٍ وَوُحْدَانٍ
Bila kejelekan menampakkan kedua taringnya pada suatu kaum maka mereka
akan menyerangnya secara berkelompok dan sendiri-sendiri 
شِرَاءُ النُّفُوسِ بِالإِحْسَانِ خَيْرٌ مِنْ بَيْعِهَا بِالعُدوَانِ
Membeli jiwa dengan berbuat kebajikan itu lebih baik daripada menjualnya dengan permusuhan 
حَيْثُمَا تَسْتَقِمْ يُقَدِّرْ لَكَ اللَّهُ نَجَاحًا
Sekiranya engkau menempuh jalan yang lurus niscaya Alloh akan memastikan kesukesan bagimu 
أَعَاذَكَ اللَّه مِنْ سِهَامِهِم وَمُخْطِئٌ مَنْ رَمِيُّهُ القَمَرُ
Semoga Alloh melindungi dari bidikan anak panah mereka
Sungguh naïf orang yang membidikkan anak panahnya ke bulan 
رَسْمِ دَارٍ وَقَفْتُ فِي طِلَلِهِ كِدْتُ أَقْضِي الحَيَاةَ مِنْ جَلَلِهِ
Telah berapa banyak bekas-bekas rumah yang aku telah berhenti pada bekas reruntuhannya
Yang hampir saja umurku kuhabiskan untuk itu… 
أَعَاذَكَ اللَّه مِنْ سِهَامِهِم وَمُخْطِئٌ مَنْ رَمِيُّهُ القَمَرُ
Semoga Alloh melindungi dari bidikan anak panah mereka
Sungguh naïf orang yang membidikkan anak panahnya ke bulan
Ketahuilah wahai saudaraku…
لاَ يَضُرُّ السَحَابَ نُبَاحُ الكِلاَبِ
Gonggongan anjing-anjing itu tidak membahayakan awan 

Kamis, 15 Desember 2016

MBAH MUQOYYIM

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren

Written by Admin.

Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren menggelar bedah buku Sang Kyai Rakyat karya Bintang Irianto. Kegiatan tersebut dilaksanakan

dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan.

Bedah buku yang digelar di aula MANU Putra pada Sabtu (12/11) menghadirkan penulisnya dan pemerhati sejarah Buntet H Farid Wajdi sebagai pembandingnya. Kegiatan ini dipandu guru bahasa Arab MANU Putra, R. M. Zidni Ilman.

Buku tersebut berkisah tentang perjalanan hidup Mbah Muqoyyim, pendiri Pondok Buntet Pesantren. Dia merupakan cucu dari Ki Lebeh Mangku Negara Warbita yang merupakan santri Sultan Demak Abdul Fatah. Ki Lebeh juga pernah nyantri ke Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Ki Lebeh memiliki anak bernama Abdul Hadi dari pernikahannya dengan Nyi Gede Kerangkeng. Abdul Hadi yang disebut juga Anjasmara ini menikah dengan Anjasmani dan lahirlah Muqoyyim kecil.

Mbah Muqoyyim menggantikan ayahnya Abdul Hadi sebagai kadi di Keraton Kanoman. Namun pada akhirnya, ia keluar, meletakkan jabatannya karena VOC sudah mempengaruhi kebijakannya.

“Kiai Muqoyyim meletakkan jabatannya sebagai kadi dan keluar dari Keraton Kanoman dikarenakan VOC sudah mengubah dan mengganggu kebijakan-kebijakan keagamaan dan tradisi dengan menggunakan aturan-aturan mereka,” tulis Bintang dalam makalahnya.

Dari situlah, Mbah Muqoyyim kemudian mendirikan Pondok Buntet Pesantren pertama kali di Cimarati, Dawuhan Sela, Desa Buntet, sekitar 500 Meter dari Buntet Pesantren saat ini. Tak berapa lama, banyak orang berdatangan untuk mengaji berbagai ilmu ke Mbah Muqoyyim. Namun pesantrennya itu diketahui oleh Belanda.

Khawatir akan mengobarkan pemberontakan, Belanda pun menyerangnya. Tiba di pesantren, Belanda tak mendapati siapa pun di sana. Mbah Muqoyyim dan seluruh santrinya sudah mengetahui rencana penyerangan tersebut sehingga Mbah Muqoyyim berkelana lagi. Pesantren yang sudah tak berpenghuni itu lalu dibakar oleh Belanda.

Seusai berkelana ke berbagai daerah, yakni Tuk Cirebon, Pemalang, dan Aceh, Mbah Muqoyyim kembali lagi ke Buntet atas permintaan tamu dari kesultanan Cirebon untuk mengatasi penyakit yang mewabah di Cirebon. Mbah Muqoyyim mengajukan dua syarat untuk itu, yakni dipulangkannya kembali Pangeran Kanoman dan penguasa mendirikan masjid di wilayah Cirebon.

Dua syarat itu langsung dikabulkan Belanda. Akhirnya, ia kembali ke Buntet dan merintis kembali pesantren yang sempat ditinggalkannya selama beberapa tahun.

Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Hal ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir ke moderator. (Syakir Niamillah/Abdullah Alawi)