Sabtu, 04 Maret 2017

MARTABAT 7

PENJELASAN MARTABAT TUJUH



1. Martabat Ahadiyat.

yaitu martabat la Ta'yun dan ithlaq. Ialah tahap yang belum mengenal individuasi, inilah martabat yang tersembunyi (kosong), namanya Dzat Mutlak. Hakikat ketuhanan. Tak seorangpun dapat meraih-Nya, bahkan nabi-nabi dan wali-walipun tidak. Para malaikat yang berdiri dekat Allah tidak dapat meraih hakikat Yang Maha Luhur, tak seorangpun mengetahui atau merasakan hakikat-Nya. Sifat-sifat dan nama-nama belum ada, sebuah manifestasi yang jelaspun belum ada. Hanya Dialah yang ada dan nama-Nya ialah " wujud makal" Dzat Yang langgeng, hakikat segala hakikat. AdaNya ialah kesepian atau kekosongan (kosong tapi ADA). Siapakah gerangan yang tahu akan hal keadaan ini?

Ianya Martabat Tertinggi Ketuhanan. Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang tidak bisa disebut dengan apa pun. Inilah Tuhan Sejati bagi manusia. Dalam Islam sering disebut dengan keadaan Kunhi Dzat atau Dzat semata. Para sufi Jawa menyebutkan dengan istilah Aku. Pada keadaan ini, tidak ada sesuatu selain Dzat Tuhan. Kosong hampa. Sunyi-senyap. Tidak ada sifat, nama, atau perbuatan. Maka Ibn ‘Arabi pernah melontarkan gagasan kesatuan semua agama. Hal ini bisa diterima jika dipandang dalam keadaan ini, yakni keadaan Aku semata.


“Tiada satupun yang menyerupai-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS, Asy Syuura 42:11).

Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

“Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena "bagaimana" (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)".

hakikat Allah adalah Wujudnya, dan wujudnya sebenarnya adalah Dzatnya. Wujud-Nya Mutlak (tanzih) tidak mempunyai bentuk, rupa, had, awal dan akhir. Mestipun begitu Dia menzahirkan (tasybih) dalam pelbagai bentuk dan rupa, walaupun begitu penzahiran ini berlaku tanpa perubahan dalam Dzatnya.

Penzahiran ini dapat dianalogikan begini: (ini cuma untuk memudahkan pemahaman tetapi keadaan sebenarnya bukanlah begitu), di malam bulan purnama yang terang, letakkan pelbagai bekas yang mengisi air di kawasan nan lapang, maka akan didapati bayangan bulan nan satu kelihatan dalam pelbagai bekas air tersebut, dan bayangan bulan dalam bekas air itu tidak serupa antara satu dengan yang lain. Bayang-bayang bulan yang terdapat di dalam bekas air yang pelbagai itu, adalah juga pelbagai dari segi bentuk rupa dan saiz. Walaupun begitu banyak bayangan bulan, tapi bulan nan satu tetap tidak ada perubahan dari segi zatnya, bulan tetap seperti bulan yang asalnya (dahulunya). Dia sekarang tetapi seperti Dia yang dahulunya, dan kebalikannya Dia dahulunya tetap seperti Dia yang sekarang. Tiada satu pun yang besertanya, dan tidak satupun yang menyerupainya.

2. Martabat Wahdat.

Dalam Martabat Ahadiyat, Tuhan adalah Dzat yang Sifat-Nya Suci yang berdiri sendiri. Tak ada yang lain selain Diri-Nya. Dia rindu untuk dikenal, namun siapa yang akan mengenal-Nya karena tidak ada yang lain selain Diri-Nya. Tuhan berkehendak menciptakan makhluk agar Diri-Nya dikenal oleh makhluk tersebut. Inilah proses awal penciptaan. Tuhan hendak menciptakan makhluk. Untuk menciptakan sesuatu pastilah menggunakan bahan. Bahan tersebut diambil dari-Nya sendiri. Logis, karena tidak ada bahan lain selain Diri-Nya. Tidak tersisa ruang sedikit pun untuk selain Diri-Nya,maka otamatis Tuhan mengambil bahan dari Diri-Nya sendiri. Sebenarnya pencipaan ini lebih bersifat maknawi, Dia tidak pernah membuat sesuatu yang baru, namun hanya menampakkan Diri dengan penampakan lain atau tajalli.Tuhan menurunkan kualitas Diri-Nya, dari Dzat Mutlak yang teramat Suci menjadi dua sebagaimana dibayangkan akal. Tidak seperti itu sama sekali. Penurunan ini hanya sekedar ungkapan yang bermakna simbolis. Sama halnya dengan air laut yang menampakan diri dengan penampakan lain berupa gelombang. Sebenarnya tidak ada bedanya antara air laut dan gelombang, keduannya adalah satu juga.

Inilah martabat Tuhan yang kedua yakni Martabat Wahdat. Dia sudah melakukan proses pencipaan pertama. Ciptaan pertama-Nya ini berupa Nur Muhammad atau Cahaya Muhammad. Ranggawarsita menyebutnya sebagai Syajaratul Yakin atau Pohon Keyakinan. Ibnu ‘Arabi menjabarkannya sebagai Asyajaratul Kaun atau Pohon Kejadian. Cahaya ini memiliki nama agar mudah dikenali. Orang-orang Islam menyebut-Nya dengan sebutan Allah. Di berfirman : “Allah adalah Cahaya bagi langit dan bumi.” Nur Muhammad bukan Tuhan tapi juga bukan makhluk. Ia ada di tengah-tengah antara keduannya. Namun dalam Martabat Wahidiyat ini, Nur MUhammad lebih bersifat ketuhanan. Allah yang di sembah orang-orang hakikatnya adalah Tuhan yang sudah menurunkan Diri, bukan Tuhan Sejati. Tuhan Sejati itu adalah Dzat Mutlak atau Aku.

Martabat ini adalah tingkatan Sifat secara keseluruhan (Ijmal) dengan segala nama, disinilah hakikat Nabi kita Muhammad SAW, yaitu sebagai asal jadi dari segala yang jadi, Hawiyatul Alam atau Hakikat Alam. Segala apapun adalah dari pada Nur Nabi kita Muhammad SAW, sebagaimana sabda beliau :


“Mula-mula yang Allah jadikan adalah Nur Nabimu ya, Jabir. Dan Allah jadikan dari pada Nur itu, segala sesuatu ini, dan engkau hai, Jabir termasuk daripada sesuatu itu.”

Dalam Hadits lain Rosulullah SAW bersabda:


“Aku adalah daripada Allah, dan Orang Mu’min adalah daripada ku .”


“Sesungguhnya Allah ciptakan Ruh Nabi Muhammad dari pada Dzat-Nya, lalu Allah ciptakan alam dengan rahasiah-Nya daripada Nur Muhammad SAW.”

Adapun Alam Wahdat (Jabarut) adalah di dalam martabat Tain Awal artinya pernyataan yang pertama atau kecintaan yang pertama,

3. Martabat Wahidiyat.

Penampakan atau tajalli Tuhan berikut ini adalah Martabat Wahidiyat yaitu ASMA’. Pada martabat ini, Nur Muhammad yang bernama Allah dan bersifat ketuhanan menurunkan Diri menjadi Nur Muhammad yang bersifat kemakhlukan. Maka cahaya ini tidak lagi sebagai Tuhan, namun sebagai makhluk yang masih berupa satu kesatuan cahaya. Disinilah terjadi proses pencitaan sebagaimana digambarkan oleh Ibn ‘Arabi dalam pohon kejadian yang tidak pernah putus mengalir. Benih tersebut berasal dari Cahaya Satu, dan Cahaya yang satu tersebut berasal dari Dzat-Nya.

Dimana dari Martabat Wahdat, terciptalah empat nur sebagai berikut :

NURUN (Cahaya) = Gambaran Cahaya MerahHAWAAUN (Angin) = Gambaran Cahaya KuningMAAUN (Air) = Gambaran Cahaya PutihTUROBUN (Tanah) = Gambaran Cahaya Hitam

Dan disebut juga NUR MUHAMMAD. Ianya berasal dari JOHAR AWWAL, dan cahaya yang empat diatas, adalah Hakikatnya ADAM, yaitu ASMA ALLAH.

Gambaranya adalah sebagai berikut :

Cahaya Merah = Jadi Hakekatnya lafad AlifCahaya Kuning = Jadi Hakekatnya Lafad Lam AwwalCahaya Putih = Jadi Hakikatnya Lafad Lam AkhirCahaya Hitam = Jadi Hakikatnya Lafad HaJohar Awwal = Jadi Hakikatnya Tasydid.

Syari’atnya adalah Lafad ALLAH, itulah sumber semua makhluk yang berada di Tujuh lapisan Bumi, dan makhluk yang berada di Tujuh lapisan langit.

Demikian Halnya, RUKUN ISLAM juga berasal dari cahaya tersebut di atas, dan gambaranya adalah sebagai berikut :

Syahadat = Karena adanya Johar AwwalSholat = Karena adanya Cahaya MerahZakat = Karena adanya Cahaya KuningPuasa = Karena adanya Cahaya PutihNaik Haji = Karena adanya Cahaya Hitam

Demikian halnya Waktu Sholat juga berasal dari cahaya yang sama dan gambaranya adalah sebagai berikut :

Subuh = Bagian Nabi AdamDzuhur = Bagian Nabi IbrohimAshar = Bagian Nabi NuhMahgrib = Bagian Nabi IsaIsya = Bagian Nabi Musa

Demikian juga Rukunnya Sholat 5 Perkara :

BerdiriTakbiratul ikhramRukuSujudDuduk

Juga Para Sahabat empat, kelimanya Rosulullah :

Sahabat Abu bakar As ShidiqSahabat Umar bin KhatabSahabat utsman bin AffanSahabat Ali bin Abi ThalibKanjeng Rosulullah

Mazhab juga berjumlah empat kelima Baitullah:

Mazhab Syafi’iMazhab HanapiMazhab HambaliMazhab MalikiBaitullah

Demikian gambaran dari Asmanya Allah Ta’ala, Hakikatnya NUR MUHAMMAD adalah Cahaya yang empat kelima Johar Awwal.

Dari sini pula lahirnya “Kalam Qadim”, yaitu “ANNAHU ANALLAHU,, Artinya : Aku-lah Allah.

“ Dengan Aku ada, apa saja yang telah ada, dan dengan Aku akan ada apa saja yang akan ada. Maka adanya semua ‘alam ini adalah denganKu”.

“Aku adalah Rahasia (Perbendaharaan) Yang tersembunyi. Lalu Aku berkeinginan agar dikenal, kemudian aku Ciptakan alam serta makhluk (Muhammad) tidak lain agar mereka bisa Ma’rifat (mengenal) kepada Aku”.

“Alif Dzat adalah Mesra rahasiahnya pada segala zarrah, dan Ha adalah Hayatul Alam (Kehidupan alam semesta), dari situlah permulaannya dan menetapnya.”

Alif dan Ha yang dimaksud ini di I’tibarkan dari huruf-huruf yang tertera pada nama Nabi kita Muhammad SAW dengan nama yang lebih dikenal dilangit dengan sebutan “Ahmad”.

Jadi, jelaslah, benih-benih kejadian berasal dari Cahaya Tuhan. Setiap penciptaan berasal dari-Nya. Setiap gerakan, tindakan, perkataan, pemikiran, angan-angan, semuannya bermula dari benih tersebut. Tidak ada satu gerakan pun dari makhluk yang lepas dari benih tersebut.

Dalam martabat ini pula Tuhan melahirkan Kehendak-Nya. Kehendak atau Iradat tersebut Dia salurkan dalam setiap benih kejadian. Tumbuhlah benih tersebut menjadi akar yang menjalar ke bawah. Akar atau Kehendak Tuhan inilah yang menjadi pondasi setiap ciptaan, maka segala sesuatu memiliki akar kejadian yakni berada di bawah kendari Tuhan dan terjadi atas kehendak-Nya.

Kehendak Tuhan merupakan ketetapan yang pasti atau takdir. Tuhan menyimpan taikdir tersebut di suatu tempat yang tersembunyi hingga tak satu pun yang mengetahuinya, kecuali orang-orang tertentu yang Dia beri kekuasaan untuk mengetahuinnya. Tuhan pun berfirman: ” Sesungguhnya Allah memiliki takdir (ketetapan) terhada segala sesuatu.” Dengan takdir inilah benih tersebut tumbuh keatas menjadi batang. Batang tersebut mampu tumbuh keatas karena memiliki kemampuan atau kudrat yang berasal dari Kudrat-Nya. Semakin tinggi batang itu naik hingga bercabang menjadi dua. Inilah sifat makhluk sejati, yakni bercabang menjadi dua yang saling berpasangan. Tuhan membuat keadaan makhluk menjadi berpasangan sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Dia memerintahkan agar manusia mengenal dua sifat yang saling berlawanan ini, “Dan Aku menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka saling mengenal satu sama lain.” Ini menjadi petunjuk bagi manusia untuk tidak dalam penampakan kemakhlukan yang memiliki dua pasangan. Manusia yang masih mengagungkan salah satu sifat pasangan dan mengesampingkan sifat lainnya akan tersesat. Padahal dua-duanya berasal dari-Nya. Inilah martabat yang bersifat kemakhlukan namun masih menjadi satu dan belum terpisah-pisahkan. Semua kejadian makhluk masih berbentuk konsep yang tersimpan rapi dan terjadi di sisi-Nya.

Adapun alam Wahidiyat (malakut) itu adalah pada mertabat Tain Sani artinya pernyataan yang kedua, maka dinamakan Ismul ASMA 'Tuhan bernama WAHADIAH. Dinamakan Wahadiah itu adalah Zatul AHADIAH MAUSUP SIFATUL Wahdah.

Dinamakan juga A’YAN TSABITAH artinya : Benda-benda yang ada sebelum Dari wujudnya di luar. Tidak ada di sana itu melainkan zatnya dan segala sifatnya yang qadim ini, yaitu yang belum keluar lagi dari kalimat "KUN". Ia tidak mencium bau ada sekali-kali "kai-nun" yaitu setiap adanya itu ada permanen seperti ada jua. Benda-benda yang ada sebelum Dari wujudnya di luar.

Dinamakan AL Kanzul MAKHFI artinya perbendaharaan yang tersembunyi

Dinamakan AL-'AMA artinya yang kelam atau gelap

Dinamakan ALAM HAKIKAT, ROHANI, NYAWA ADAM, ALAM QALBI, ALAM akhirah, ALAM INSAN BATIN, ALAM KAYANGAN

Maka jadilah ROHANI yang dinamakan nyawa Adam, nyawa kita. Maka nyawa kita yang belum bertubuh dengan nama ROHANIUN. Maka Rohani itulah yang mendoakan jasadnya yang menjadi ADAM, maka jadilah Adam Awal. Di kala Tain Sani ada Nafi dan Isbat, berkumpul dan bercerai, karena itu Tuhan jadikan ALAM ROH dari alam malakut.

Maka dari alam Wahidiyat (malakut) itu turunlah: -

a. ALAM RUH/ARWAH

b. ALAM MISAL

c. ALAM AJSAM

d. ALAM INSAN

Adapun Rohani itu Afa’al Muhammad, adapun A’yan Sabitah itu Asma Muhamad, adapun Insan itu Sifat Muhammad, adapun Zatul Muqid itu Zat Muhammad. Maka semua yang tersebut itu adalah baru. Maka dari Afa,al Muhammad itu jadilah Pohon Dunia ini, maka dunia ini, dan dunia ini untuk tempat Roh-roh berjasad dengan lembaganya yang berupa manusia yaitu Adam. Dunia dijadikan supaya semua Rohani-rohani (Rohaniun) yang telah ada itu, yang di dalam Alam Roh itu agar dapat turun ke dunia dan memiliki tubuh yang dinamakan lembaga manusia dan dengan tubuhnya itu yang dinamakan jasad itu, dapatlah Rohani menunaikan dn tugasnya kepada Allah Taala sebagaimana yang diikrarnya, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Firman: - "Apakah tidak aku ini Tuhanmu, mereka mengatakan “Bala Syahiduna."

4. Alam Arwah

Martabatnya adalah Af’al ( AF’ALULLAH ). Konsep atau skenario Tuhan tidak akan berwujud nyata jika tidak dimasukkan kedalam suatu wadah. Proses penampakan atau tajalli Tuhan berikutnya adalah menciptakan wahana bagi kehendak-kehendak-Nya tersebut. Dalam martabat ini, Tuhan menciptakan makhluk yang sangat halus yakni ruh. Ruh adalah sarana sebagai sumber kehidupan. Ruh itu berasal dari Diri Tuhan. Mula-mula, Ruh tersebut masih satu dan akhirnya terbagi-bagi menjadi banyak sekali. Bagian-bagian ruh tersebut siap untuk mengisi tiap-tiap bentuk yang akan diciptakan-Nya kemudian.

Proses terciptanya alam dunia ini, bisa digambarkan dengan akliah seperti ini; Ibarat sebuah Proyektor film Alam Wahdat ( Johar Awwal ) digambarkan sebagai Sumber tenaga yang menghidupkan proyektor tersebut, sehingga mampu menghsasilkan cahaya yang pijar, dan dan Alam Wahidiyat (Nur Muhammad) digambarkan sebagai Kaca Lensa 4 (empat) susun yaitu :

NURUN = Diibaratkan Lensa MerahHAWAAUN = Diibaratkan Lensa KuningMAAUN = Diibaratkan Lensa PutihTUROBUN = Diibaratkan lensa Hitam

Kemudian kempat lensa tersebut di Sorot Kekuatan Super Cahaya “JOHAR AWWAL” dan keluarlah dari empat lensa tersebut gambaran :

Dari Lensa Merah = Keluarlah Api Alam DuniaDari Lensa kuning = Keluarlah Angin Alam DuniaDari Lensa Putih = Keluarlah Air Alam DuniaDari Lensa Hitam = Keluarlah Bumi Alam Dunia

Dengan Qodrat dan Iradat-Nya Allah Ta’ala, maka jadilah alam ini, dan disebut juga Alam Kabir, Demikian kejadian alam ini adalah dari NUR MUHAMMAD.

Dinamakan NUR MUHAMMAD dan sekalian rUh yang keluar dariapanya itu yang berkelanjutan menajdi alam eksternal yaitu dari Nur Muhammad melalui kata "KUN" maka jadilah:

Arsyur Rahman Alam gaib lagi gaibArsyul AzimArsyul Karim Alam gaibAl Kursi A'azam Alam NyataJabal Qaf7 lapis bumi7 lapis langitSegala galaksiBumi Kita 
Dinamakan ALAM ARWAH atau ROH yakni terkumpulnya arwah segala anbiya, mursalin dan segala mu'min.Dinamakan ASHLUL ARWAH yaitu Mazh harul atam, Jadi "Khatamun nabiyin wa syaidul mursalin wa rahmatul lil alamin"Dinamakan ALAM SUNYI dari tergantung dengan tabiat lagi basith.Dinamakan juga CAHAYA MUHAMMAD, ALAM NYAWA, martabat WUJUDIAH, Alam di bawah kalimat "KUN", Pemerintah Alam Saghir dan Alam Kabir, TAIN TSALASA, ALAM ROH, NYAWA KITA.

Adapun Alam Roh lebih dahulu dijadikan Allah dari Dunia yang fana ini. Adapun Dunia ini adalah ibarat layar putih dan pentas ke Rohaniun itu yang datang ke dunia menjalankan tugas dan peran masing-masing, yang jadi seniman dengan lakunnya.

Keranan adanya Rohani, maka adanya Jawahir Basit yaitu: -

a. FUAD

b. KALBUN

c. LABBIN

d. SUDUR

e. KABAD

f. SAUDA '

g. SYIFAP

Maka semuanya itu adalah hal Roh, maka jadilah: -

a. Berperang Sabil dengan nafsunya yang jahat

b. Membuat Ahsan

c. Melakukan Mujahidah masing-masing dengan tempat atau makamnya,

Dengan itu maka adanya jalan nafsu itu jadi dua yaitu: -

a. Jalan nafsu yang bernama Hati Sanubari

b. Jalan nafsu yang bernama Hati Nurani maka Roh-roh yang taat pada sisi

Tuhan, setelah berganti dengan nama nyawa karena ada memiliki jasad masing-masing maka jadilah Roh itu tiga mertabat yaitu: -

a. Martabat Amar Rabbi

b. Martabat Hati Nurani

c. Martabat Ubudiah

Mana-mana Roh yang tidak taat setelah ada memiliki jasad masing-masing itu, maka jadilah tiga mertabat yaitu: -

a. Bangsa hewan

b. Dinamakan bangsa setan

c. Dinamakan bangsa hati sanubari

Maka Alam Ruh itu adalah Alam Ghaib. Ia lebih adanya dari Dunia yang luas ini, di sanalah nyawa manusia yang sebelum bertubuh telah ada. Setelah 125 tahun Nur Muhammad itu telah ada dan semua nyawa-nyawa manusia itu di kenal dengan nama Roh, tetapi mertabat Ruh dewasa itu seperti mertabat binatang, karena tidak menanggung tugas dan tanggungjawab. Hanya setelah ia berjasad dan hidup di dalam dunia ini masing-masing memiliki tugas, maka baharulah ada derajat masing-masing di sisi Tuhan dan nyawa itu tidak lagi disebut Ruh, hanya ketika jasad itu mati ia akan berpulang menghadap Allah Taala dengan nama Ruh, yaitu diri atau Jiwa.

Dengan nama Ruh ia dikenal dengan nama Ruhani pulan bin pulan tertulis kepadanya. Dengan nama jiwa ia di kenal dengan nama jiwa, misalnya: -

a. Jiwa Amarah

b. Jiwa Lawamah

c. Jiwa Sawiah

d. Jiwa Natikah

e. Jiwa Mulhammah

f. Jiwa Mutmainnah

Maka pada jiwa itulah tertulis namanya pulan bin pulan, senang atau susah, bahagia atau celaka, menurut amal dan fielnya di dalam dunia ini menurut penilaian 'atikad-atikadnya dan tauhidnya serta makrifatnya kepada Allah Ta’ala.

5. Alam Mitsal.

Martabatnya adalah “ILMU” ianya adalah Alam segala rupa, perceraian Roh Muhammad. Alam segala warna. Alam Khayal. Alam ARDHUS SIMSIMAH, Ardhul haqiqah.

Dan siapapun yang sudah Ma’rifat dengan asal kejadianya yaitu Hakikat ADAM, maka ianaya sudahlah sampai pada PANGKAL MITSAL, Artinya sudah bisa menemukan Hakikat NUR MUHAMMAD, yaitu hakikat dari intisari bumi yang empat : Cahaya merah, cahaya kuning, cahaya putih, dan cahaya hitam ( Hakikat Muhammad ).

Di dalam Alam Mitsal maka Roh Muhammad bercerailah dengan Roh-roh yang lain yang berbagai nama, tetapi pada mulanya dinamakan Rohaniun (Rohani-rohani). Maka semua Rohaniun itu berasal dari Roh Muhammad Rasulullah SAW.

Karena itulah dasar dan dasar dari Ilmu Rohani adalah kita wajib beriman: -

a. Pada Allah Taala

b. Pada Nabi Muhammad SAW

c. Pada hari kiamat yang akan datang

Jika tidak berpegang pada dasar yang tiga diatas, maka bukanlah disebut spiritual dari orang-orang mukmin atau orang-orang Islam. Ruh Muhammad itulah jadi Ruh seseorang, yang jadi nyawa seseorang, yang jadi hati seseorang, tetapi ia telah bercerai di dalam mertabat Alam Misal. Segala ruh-ruh itu adalah jadi kata pepatah "Ulat lupakan daun". Nyawa-nyawa manusia yang bukan alim dalam Ilmu Ketuhanan, hanya Firman jalan nafsu yang bernama Hati Sanubari dengan syahwatnya dan jiwa raga yang memandang lahir alam ini semata-mata.

Ibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagian-bagian, tetapi masih bersifat halus, tidak dapat dipisah-pisahkan.

Alam Misal adalah tingkat kelima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalam menyatakan rahasia diri-Nya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya Allah SWT, terus menyatakan diri-Nya melalui diri rahasianya dengan lebih nyata dengan membawa diri rahasianya untuk di kandung pula oleh bapak yaitu dinamakan Alam Mitsal. Untuk menjelaskan lagi Alam Mitsal ini adalah dimana unsur rohani yaitu diri rahasia Allah belum menyatu dengan tubuh materi. Alam Mitsal jenis ini di alam malakut. Ia merupakan transisi dari alam Arwah (alam Ruh) menuju ke alam Nasut maka itu dinamakan ia Alam Mitsal di mana proses peryataan ini, perwujudan Allah pada martabat ini belum lahir, tetapi Nyata dalam tidak Nyata. Diri rahasia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan ke ubun-ubun bapa, yaitu perpindahan dari alam ruh ke alam Bapa (Mitsal).

Alam Mitsal ini terkandung ia di dalam "Walam yakullahu" dalam surat Al-Ikhlas yaitu dalam kondisi tidak bisa di bagaikan. Dan seterusnya menjadi "Madi", "Wadi", "Mani", yang kemudian di salurkan ke satu tempat yang berafiliasi di antara diri rahasia batin (ruh) dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang disebut rahim ibu. Maka terbentuklah apa yang di katakan "Manikam" ketika terjadi bersetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapak)Perlu diingat tubuh rahasia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalam kondisi rupa yang elok dan tidak binasa dan belum lagi lahir. Dan ia tetap hidup tidak mengenal ia akan mati.

6. Alam Ajsam.

Martabatnya adalah “Hakikinya Manusia” setelah adanya dunia. Allah menciptakan manusia (Adam) dengan menyuruh Malaikat turun ke alam dunia guna mengambil saripati dari sari Api, Sari Angin, Sari Air, Sari Bumi, kemudian melalui proses menjadi :

 Saripati BUMI menjadi Kulit Bulu AdamSaripati Api menjadi Darah Daging AdamSaripati AIR menjadi Urat Balung AdamSaripati ANGIN menjadi Otot Sumsum Adam

Dengan kuasanya Allah Ta’ala terjadilah Lafadz MUHAMMAD, Mim, Ha, Mim, Dal yaitu CAHAYA :

Hitam menjadi hakikat lafadz Mim awalPutih menjadi hakikat lafadz HaKuning menjadi hakikat lafadz Mim AkhirMerah menjadi hakikat lafadz DalJauhar Awal menjadi hakikat Tasjid

Secara syariat menjadi lafadz Muhammad, atau sebaliknya menjadi lafadz Allah.

Mim Awal dari lafadz MUHAMMAD menjadi KEPALA AdamHa dari lafadz MUHAMMAD menjadi DADA AdamMim Akhir dari lafadz MUHAMMAD menjadi PUSAR AdamDal dari lafadz MUHAMMAD menjadi KAKI Adam

Ketika itu masih belum bisa bergerak, tergeletak, seperti wayang golek. Kemudian diberi lubang sebanyak empat yaitu:

Lubang Mata,Lubang Telinga,Lubang Hidung danLubang Mulut.

Kemudian kepada lubang-lubang itu dimasukkan NUR MUHAMMAD. Kejadian itu menyebabkan berfungsinya indra dan bergerak hidup. Jelasnya hidupnya manusia itu syariatnya dengan adanya Cahaya. Begitu juga matinya dengan tidak adanya cahaya. Bila sudah tidak ada Cahaya, si jasad/jasmani atau jagad saghir, sudah tidak ada lagi kekuatannya terbukti gampang ambruknya jadi lemah dan mati.

Begitu juga dengan Nur Muhammad di jagad kabir yaitu di alam dunia yang paling kuat. Tidak ada daya kalau tidak adanya cahaya yaitu Matahari, bulan, bintang tentu saja akan rusak alam dunia ini yang tinggal hanya gelapnya, api tinggal panasnya, air tinggal dinginnya, angin tinggal hawanya. Lalu siapa yang akan mengisinya atau penghuninya neraka, neraka ini tidak lain Idajil la’natullah dan semua ruh manusia yang tidak bisa kembali lagi kepada Allah ta’ala disebabkan waktu didunia terkena godaan syaitan lantaran tidak beriman kepada Allah dan Rasulullah.

Sebetulnya Idajil itu adalah Malaikat kekasih Allah. Sebabnya ia dimurkai Allah, dia disuruh turun ke dunia sebelum adam tercipta sampai dengan tiga ribu tahun dan tidak kembali ke surga lagi. Dia kerasan tinggal di dunia. Maka Allah menetapkan tempatnya Idajil nanti di neraka paling bawah. Karena membangkangnya Idajil menerima saja. Tetapi dengan permohonan izin untuk menggoda anak cucu Adam yang akan dijadikan temannya di dunia dan di neraka; Allah mengijinkannya kecuali hamba Allah yang beriman kepada Allah dan Rasulullah saja yang tidak bisa menjadi temannya.

Kita kembali kepada diciptakannya Adam Majazi itu dari sari pati Api, Angin, Air, dan Bumi tanpa ada keempat unsur ini tidak akan tumbuh dan berkembang hidup baik berupa kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang bahkan manusia sekalipun, renungkanlah baik-baik. Bahwa semua yang hidup ini saling berkaitan bersirkulasi, berkorelasi menjadi sistem yang diterapkan Allah di alam semesta ini.

Selanjutnya setelah ada Adam dan Babuhawa atau ibu bapak / orang tua kita, buah-buahan, daging dan lain sebagainya yang dimakan lebih dahulu oleh kita menjadi wadi, madi, mani, manikem, bertemu kontak dengan Nur Muhammad cahaya yang empat perkara tadi, terjadilah jabang bayi di dalam rahim ibu (mengandung). Bila ada yang tidak jadi, karena tidak bertemu kontaknya dengan Nur (Ruh) dengan kuasanya Allah yang berwenang menjadikannya, kita sebagai manusia tidak ada kekuasaan, tidak ada daya dan upaya hanya sekedar menjadikan sebab untuk itu ditempati Ruh-Nya.

Ketika bayi di dalam kandungan belum ada nyawa, baru ada hidup saja yaitu ruh suci karena itu tidak ada rasa apa-apa, ketika lahir dari perut ibu, ruh suci kontak artinya bertemu dengan hawa alam dunia ini yaitu dari Bumi, Api, Angin, Air. Kemudian bernafaslah dia dengan sifatnya nyawa. Hakikatnya nyawa ialah rasa jasmani, pada waktu itu mata terbuka belum bisa melihat, kuping belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa bicara hanya ada suaranya saja. Setelah diberi air susu atau makanan apa saja yang berasal dari saripati Bumi, Angin, Api dan Air tadi, saripati yang empat ini menjadi Darah yang ada empat macam:

1. Darah yang hitam dari saripati Bumi, adanya pada kulit, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui telinga hingga bisa berbicara.

2. Darah yang merah dari saripati Api, adanya pada daging, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui telinga hingga bisa mendengar.

3. Darah yang Putih dari saripati Air, adanya pada tulang, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui mata hingga bisa melihat.

4. Darah yang Kuning dari saripati Angin, adanya pada sumsum, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui hidung hingga bisa mencium dan merasa.

Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar (banyak) sumsumnya, maka keluarlah hawanya yaitu nafsu yang ada empat yaitu:

1. Nafsu Amarah;

2. Nafsu Lawamah;

3. Nafsu Sawiyah;

4. Nafsu Mutmainah. 

Semuanya itu adalah bukti dari adanya segala keinginan yang buruk dan keinginan yang baik. Begitulah bukti tumbuh dan berkembangnya jasad ini, walaupun ada tenaga, akal pikiran, beserta penglihatan, pendengaran, ucapan dan penciuman juga rasa, tidak ada kemampuan kecuali dengan pertolongan ruh api, air, angin dan bumi. Apa sebabnya itu bisa terjadi? Tidak lain segala apa yang terjadi darinya itu, supaya peralatan itu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kehidupan.

Peralatan-peralatan tadi harus digunakan untuk menge-tahui kepada asalnya yaitu Allah ta’ala supaya nanti kita bisa sempurna membawanya pulang/kembali kepada Allah ta’ala. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Hanya manusia yang mempunyai ilmunya saja yang mampu menyempurnakan ruh-ruh sealam dunia yang membawa balik kepada Allah ta’ala. Makanya ruh-ruh sealam pada masuk ke dalam diri manusia, apalagi ruh bumi, api, air dan angin itulah yang sehari-harinya bersama kita baik yang halal maupun yang haram, yang bersih dan yang kotor, yang najis dan yang mubah semuanya ikut masuk.

Walaupun pada kenyataannya tidak dimakan, tapi apabila ada anjing, babi yang mati di air, tentu bangkainya di makan ikan, lalu ikan di makan manusia. Kalau mati didarat jadi pupuk diserap oleh tumbuh-tumbuhan, lalu buahnya di makan manusia. Jelaslah sudah bahwa manusia ini menjadi tempat lalulintas menyebrangnya ruh-ruh se alam dunia kembali kepda Allah ta’ala. Keterangan lainnya :

o Ruh Api akan menjadi neraka panas

o Ruh Air akan menjadi neraka dingin

o Ruh Bumi akan menajdi neraka gelap

o Ruh Angin/Hawa akan menajadi neraka sengatan neraka yang menggigit/menyengat nyawa manusia

7. Alam Insan Kamil.

Adapun Alam Insan atau disebut juga dengan Alam Insan Kamil. sudah terkandung didalam surah Al-Ikhlas

Diri manusia pada martabat INSANUL KAMIL adalah sebatang diri yang suci mutlak pada zahir dan batin. Tiada cacat dan celanya dengan Allah s.w.t. yaitu tuan Empunya Rahasia, sebab itu Rasulullah s.a.w pernah menegaskan dalam sabdanya, bahwa kelahiran seorang bayi itu dalam kedaan yang suci, tetapi yang membuatnya menjadi kotor itu adalah ibu bapaknya dan masyarakat, serta hanyutnya manusia itu sendiri di dalam gelombang godaan kehidupan di dunia ini.

Adalah menjadi tanggung jawab seorang manusia yang ingin menuju ke jalan kesucian dan makrifat kepada Allah Ta’ala untuk mengembalikan dirinya ke suatu tahap yang bernama manusia KAMIL atau AL-KAMIL (sempurna) ataupun dinamakan tahap martabat Alam INSAN.

Dinamakan juga ALAM HIMPUNAN SEGALA ALAM yakni bersatunya alam yang tujuh ianya adalah :

AhdatWahdatWahdiatAlam ArwahAlam MitsalAlam AjsamAlam Insan Kamil

Adapun Alam Insan itu, perhimpunan pada segala martabat. Pada sisi Allah martabat Insan itu tiga hal: -

a. Martabat manusia Rabbubiah, yaitu Insan Khusus Ul Khusus

b. Martabat manusia Mausup, yaitu Insan Kamil Wa Mukamil

c. Martabat Insan Ubudiah, yaitu Insan Kamil Mukamil

Maka Pada Alam ini Allah Ta’ala menurunkan Diri menjadi manusia sempurna sebagai gambaran Diri-Nya yang sempurna. Melalui manusia sempurna inilah Dia menikmati hasil ciptaan-Nya. Maka manusia dibekali akal dan hati sebagai sarana kehadiran Tuhan. Kelebihan utama manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah kemampuan untuk menampung kehadiran Tuhan hingga menjadi wakil (khalifah) bagi-Nya. Melalui manusia sempurna inilah harapan-Nya untuk mengenal dan dikenal akan terlaksana.

Akal Manusia Adalah Singgasana Kemakmuran-Nya

Hati Manusia Adalah Singgasana Kemuliaan-Nya

Sifat Malu Manusia Adalah Singgasana Kesucian-Nya

Ketiga bagian tubuh manusia ini menjadi sarana vital kehidupan, sebagai tempat hadirnya Tuhan untuk menikmati keelokan hasil karya-Nya.

Sedangkan Alam Insan itu sendiri, terbagi dalam beberapa bagian , yang juga banyak disebut dalam banayak keterangan, diantaranya :

a. Dinamakan Insan (Rahasia Allah)

b. Dinamakan Insan Kamil

c. Dinamakan Insan Kamil dan Mukamil

d. Dinamakan Insan Mukamil

e. Dinamakan Insan Sawaan

f. Dinamakan Insan Sawaatun

g. Dinamakan Insan Batin

h. Dinamakan Insan Zahir

i. Dinamakan Insan Mutaiz

j. Dinamakan Insan Ghaib

k. Dinamakan Insan Nakus (Insan Hewan)

l. dinamakan Insan Syaitani

Senin, 13 Februari 2017

Pengulangan

Pengulangan
===========
Dalam kesadaran diri, sangat jelas nampak dimata hati kita sendiri, betapa bebalnya kita ini. Seumpama keledai yang sering jatuh dilubang yang sama, bahkan lebih bebal dari keledai, karena sebebal bebalnya keledai, mereka jarang juga terperosok dilubang yang sama......
Inilah alasan yang terang mengapa ayat ayat Qur'an itu terlalu sering diulang ulang. Ayat ayat yang sama atau serupa berkali kali diturunkan....
Kita mengambil pelajaran dari pengulangan pengulangan ini, karena kenyataan hidup ini pun sama sama memiliki pengulangan pengulangan ataupun kemiripan peristiwa, kemiripan suasana..... Dan kita selalu saja "sering lupa", hanya hal hal yang menimbulkan trauma saja yang membekas dalam.... Itu sebabnya, kadang kadang kita memerlukan "hantaman keras" dalam hidup, agar ingatan kita terpatri kuat.... Lalu bisa jera dan mengambil pelajaran berharga, hikmah yang kuat dari peristiwa demi peristiwa.....
Karenanya, kesusahan berat itu mestinya sangat kita hargai, karena dimasa turunnya kesusahan berat itulah kesadaran yang dalam terbit..... Itu semacam titik balik hidup, yang akan merubah seseorang untuk selama lamanya......
Apakah setelah hantaman keras, akan menjadi lebih baik, lebih tertata dalam hidup, ataukah malah hancur berantakan...... ??
Pada akhirnya semua berpulang kediri masing masing, "alam" selalu menyediakan pelajaran berharga, namun hanya sedikit manusia yang belajar darinya...... yang beruntung adalah yang selalu eling lan waspodo, selalu ingat dan waspada, berhati hati dan bersungguh sungguh..... Hidup hanya sekali didunia, sekali hancur, bisa jadi hancur selama lamanya, sekali mulia bisa jadi mulia selama lamanya..... Harus hati hati agar tidak menyesal "selama lamanya"

Selasa, 07 Februari 2017

Misteri sebuah pesan di balik tembang Jawa Sluku Sluku Bathok

Misteri sebuah pesan di balik tembang Jawa Sluku Sluku Bathok

MusliModerat.net -Banyak berbagai penafsiran yang berbeda tentang Makna Filosofi Tembang Sluku Sluku Bathok ini. Namun kali ini makna tembang ini disarikan berdasarkan Khozinatul Asror (Sayyid Muhamad Haqqi Anazli 1261H).

Di dalam menyebarkan agama Islam, para wali songo pada waktu itu menyampaikan pesan dan wejangannya melalui berbagai macam cara, termasuk diantaranya melalui tembang tembang jawa, lagu dolanan dan lain sebagainya.

Sedangkan salah satu hasil karya peninggalan para wali pada waktu itu dan yang terkenal dan populer di masyarakat Jawa diantaranya adalah Tembang “Sluku Sluku Bathok “. Namun tentang siapa yang menciptakan tembang ini adalah masih simpang siur, ada yang mengatakan tembang ini diciptakan oleh Sunan Giri (Syaih Ahmad Ainul Yaqin) dan ada pula yang mengatakan itu adalah ciptaan sunan Kali Jaga atau bahkan yang lainya.

Tapi yang jelas bahwa lagu ini diciptakan oleh salah satu dari wali sembilan atau ulama pada zaman itu. Yaitu pada kira-kira th 1400-an. Pada tahun 1261H atau sekitar th 1800-an, Sayyid Muhammad Haqqi Annazli menulis kitab Khozinatul Asror dan di dalamnya ditemukan sebuah kata-kata yang sangat mirip bila disandingkan dengan syair tembang ini.

Sedangkan kitab tersebut banyak menjelaskan tentang ilmu Haq filqolbi, seperti misalnya tentang Dzikir dan tentang Thoriqoh.

Filosofi tembang Jawa Sluku Sluku Bathok
Dikutip dari puspotajem.com, syair tembang Sluku Sluku Bathok dan kalimat-kalimat Syair yang ada di kitab Khozinatul Asror tersebut yang ternyata mengandung makna filosofi yang tinggi, yaitu tentang cara atau jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan ilmu Haq Filqolbi.

Dan syair/lirik bahasa arab nya beserta maknanya adalah sebagai berikut:

 SLUKU SLUKU BATHOK ..BATHOKE ELA ELO..Usluk sulukal baqo’…baqo’uhu laailaaha illalloohSIROMO MENYANG SOLO ,OLEH – OLEHE PAYUNG MOTHASirro maa yashilu ilalloh fahayyun laa yamuut..TAKJENTHIT LOLO LOBAH .. WONG MATI ORA OBAHFajadid lahul hubbah ..fabatinuhu bil makrifah..YEN OBAH MEDENI BOCAH.. YEN URIP GOLEKO DUIT..Bayyinul mahabbah bidawaamil muroqobah.. Bayyinul makrifah bil baqoo’I tafwidz...

Arti bahasa jawa nya kira kira: Nyilem, Nyilemo siro kanti langgeng.. kelanggengan iro klawan Laa ilaaha illallooh.Rahasianing ati iro bakal iso wushul maring Alloh kang tansah urip ora tau mati.Lan bakal Nukulke katresnan iro mareng Alloh.. lan batin iro biso makrifah.Wujute tresno iku langgenge takorup mareng Alloh.. wujute makrifah iku kekale manunggal marang sifate gusti.


Dan berikut ini penjelasan singkatnya, 

SLUKU SLUKU BATHOK BATHOKE ELA ELO
USLUK SULUKAL BAQO' BAQOO'UHU LAA ILAAHAILLALLOOH

“Menyelam lah (laku suluk dan Dzikir) dengan jalan Holwat dan uzlah, dengan terus menerus melatih dan melafalkan kalimah dzikir Laa ilaahaillalloh di lisan maupun di dalam hati (tentu dengan bimbingan seorang guru mursyid).

Sedangkan pengertian Holwat dan uzlah secara simpelnya adalah menyepikan diri dari keramaian dengan niat memutuskan diri dari segala urusan duniawi sementara, dan semasa Holwat 

Jumat, 03 Februari 2017

Apa yang Dibaca Rasulullah saat Ziarah Kubur?

Apa yang Dibaca Rasulullah saat Ziarah Kubur?

Ilustrasi

Mahbib, NU Online | Jumat, 15 April 2016 10:15

Ziarah kubur termasuk di antara amalan yang dianjurkan dalam Islam. Mengunjungi makam lalu melantunkan dzikir dan doa-doa menjadi sarana (wasilah) seorang hamba untuk menghormati para pendahulu, mendoakan mereka, atau merenungi hidup yang kelak pasti akan berakhir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk orang yang tak hanya mempraktikkan ziarah kubur tapi mengajarkan apa yang hendaknya dibaca saat seseorang berkunjung ke tempat pembaringan terakhir itu. Dalam Shahih Muslim dipaparkan bahwa setiap kali keluar rumah pada akhir malam menuju Baqi’ (makam para sahabat di Madinah yang kini menjadi makam Rasulullah sendiri), Rasulullah menyapa penduduk makam dengan kalimat berikut:

السَّلامُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ دَارَ Ù‚َÙˆْÙ…ٍ Ù…ُؤْÙ…ِنينَ ÙˆَأتاكُÙ…ْ ما تُوعَدُونَ غَداً Ù…ُؤَجَّÙ„ُونَ Ùˆَإنَّا إنْ شاءَ اللَّÙ‡ُ بِÙƒُÙ…ْ لاحقُونَ

Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn (Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian).

Usai membaca salam ini, Rasulullah lalu menyambungnya dengan berdoa “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan di Baqi’.” Doa ini bisa kita ganti dengan memohonkan ampun kepada para ahli kubur tempat peziarah berkunjung.

Istiri Baginda Nabi, Siti A’isyah pernah bertanya tentang apa yang seharusnya dibaca kala ia pergi ke kuburan. Rasulullah mengajarkan bacaan dengan redaksi lain, namun dengan substansi yang tetap mirip, yakni mengucapkan salam, mendoakan kebaikan bagi ahli kubur, dan menyadari bahwa peziarah pun suatu saat akan berbaring di dalam tanah. Berikut jawaban Rasulullah: 

السَّلامُ على أهْÙ„ِ الدّيارِ Ù…ِÙ†َ المُؤْمنينَ Ùˆَالمُسْلمينَ ÙˆَÙŠَرْØ­َÙ…ُ اللَّÙ‡ُ المُسْتَÙ‚ْدِÙ…ِينَ Ù…ِÙ†ْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙ…ِÙ†َّا Ùˆَالمُسْتأخِرِين Ùˆَإنَّا إنْ شاءَ اللَّÙ‡ بِÙƒُÙ…ْ لاحِÙ‚ُونَ

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn yarhamukumuLlâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn (Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan [yang telah mendahului dan akan menyusul] kami.  Sesungguhnya kami insyaallah akan menyusul kalian."  

Jawaban Nabi atas pertanyaan Siti A’isyah yang terekam dalam Shahih Muslim itu sekaligus memberi isyarat bahwa ziarah juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Hanya saja, para peziarah dilarang menangis di atas kuburan. Imam Nawawi dalam Al-Adzkâr mengatakan, para peziarah disunnahkan memperbanyak baca Al-Qur'an, dzikir, dan doa untuk penghuni kubur yang diziarahi serta seluruh umat Islam yang telah meninggal dunia. Ziarah dianjurkan dilaksanakan sesering mungkin dan diutamakan ke kuburan orang-orang saleh

Minggu, 29 Januari 2017

SULUK LINGLUNG SUNAN KALIJAGA

SULUK LINGLUNG SUNAN KALI JAGA

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman hidup, baik itu pengalaman hidup pribadi maupun orang lain. Orang Jawa menyebut belajar pada pengalaman orang lain itu sebagai “kaca benggala”. Nah, kini kita belajar pada pengalaman dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Ketika itu, Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga dijuluki Syech Malaka berniat hendak pergi ke Mekkah. Tetapi, niatnya itu akhirnya dihadang Nabi Khidir. Nabi Khidir berpesan hendaknya Kanjeng Sunan Kalijaga mengurungkan niatnya untuk pergi ke Mekkah, sebab ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yakni kembali ke pulau Jawa. Kalau tidak, maka penduduk pulau Jawa akan kembali kafir. Bagaimana wejangan dari Nabi Khidir pada Kanjeng Sunan Kalijaga? Hal itu tercetus lewat Suluk Linglung Sunan Kalijaga. Inilah kutipan wejangannya:

Birahi ananireku,
aranira Allah jati.
Tanana kalih tetiga,
sapa wruha yen wus dadi,
ingsun weruh pesti nora,
ngarani namanireki

Timbullah hasrat kehendak Allah menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku,
ingkang kinen angarani,
pepakane ana ika,
akon ngarani puniki,
iya Allah angandika,
mring Muhammad kang kekasih.

Adapun sifat jamal (sifat terpuji/bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya.

Yen tanana sira iku,
ingsun tanana ngarani,
mung sira ngarani ing wang,
dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira,
aranira aran mami.

Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut; Hanya dengan sebab ada kamulah yang menyebutkan keberadaan-Ku; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu. Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku.

Tauhid hidayat sireku,
tunggal lawan Sang Hyang Widhi,
tunggal sira lawan Allah,
uga donya uga akhir,
ya rumangsana pangeran,
ya ALLOH ana nireki.

Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu.

Ruh idhofi neng sireku,
makrifat ya den arani,
uripe ingaranan Syahdat,
urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,
rukuk pamore Hyang Widhi.

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan pilihan.

Sekarat tananamu nyamur,
ja melu yen sira wedi,
lan ja melu-melu Allah,
iku aran sakaratil,
ruh idhofi mati tannana,
urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati; Hidup mati, mati hidup.

Liring mati sajroning ngahurip,
iya urip sajtoning pejah,
urip bae selawase,
kang mati nepsu iku,
badan dhohir ingkang nglakoni,
katampan badan kang nyata,
pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,
Syekh Malaya (Sunan Kalijogo) den padhang sira nampani,
Wahyu prapta nugraha.

Mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yang menjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Dari wejangan tersebut kita bisa lebih mengenal GUSTI ALLAH dan seharusnya manusia tidak takut untuk menghadapi kematian. Disamping itu juga terdapat wejangan tentang bagaimana seharusnya semedi yang disebut “mati sajroning ngahurip” dan bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia ini

Sabtu, 28 Januari 2017

Selubung sang Sufi

Dalam kajian Epistemologi terdapat banyak bagian-bagian yang masing-masing sebagai rancang bangun, yang kemudian membentuk sebuah disiplin ilmu secara otonom. Salah satunya adalah Epistemologi Irfani, yang dikatakan merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat islam, seperti halnya Burhani dan Bayani. Namun ketika pembahasan berlanjut ke ranah ilmu pengetahuan secara umum, maka tentu Epistemologi Irfani juga mempunyai andil di dalamnya. Mungkin Epistemologi Irfani dianggap merupakan bagian kecil dari cabang filsafat secara keseluruhan. Namun dalam pembahasannya akan ditemukan fenomena-fenomena menarik yang justru dapat dijadikan sebagai awal dari ideology selanjutnya
filsof besar iran mendirikan aliran isyraqi yang memang menggabungkan filsafat dengan spiritualitas dalam cara yang pernah direncanakan adalah Ibnu Sina. Prinsip dasar Iluminasionis adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperoleh pengalaman tentangnya, serupa dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Pengetahuan tentang sesuatu berdasarkan pengalaman dianalisis hanya setelah pemahaman intuitif yang total dan langsung tentangnya

Epistemologi Irfani
Pengertian Epistemologi Irfani
Irfan dari kata dasar bahasa Arab semakna dengan ma’rifat, berarti pengetahuan. Tetapi ia berbeda dengan ilmu (`ilm). Irfan atau ma’rifat berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung lewat pengalaman (experience), sedang ilmu menunjuk pada pengetahuan yang diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasionalitas (aql). Karena itu, irfan bisa diartikan sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran haqqi qat oleh Tuhan kepada hamba-Nya setelah adanya olah ruhani yang dilakukan atas dasar cinta. Kebalikan dari epistemologi bayani, sasaran bidik irfani adalah aspek esoterik syariat, apa yang ada di balik teks. Sedangkan secara epistemologis, irfani merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan cara pengolahan batin/ruhani bersifat intuitif, yang kemudian diungkapkan secara logis.

Sumber Asal Irfani
Para ahli berbeda pendapat tentang asal sumber irfan. Pertama, menganggap bahwa irfan dalam Islam berasal dari sumber Persia dan Majusi, seperti yang disampaikan Dozy dan Thoulk. Alasannya, sejumlah besar orang-orang Majusi di Iran utara tetap memeluk agama mereka setelah penaklukan Islam dan banyak tokoh sufi yang berasal dari daerah Khurasan di utara Iran. Di samping itu, sebagian pendiri aliran-aliran sufi berasal dari kelompok orang-orang bekas Majusi, seperti Ma`ruf al-Kharki dan Bayazid Busthami.
Kedua, irfan berasal dari sumber-sumber Kristen, seperti dikatakan Von Kramer, Ignaz Goldziher, Nicholson, Asin Palacios dan O’lery. Alasannya, (1) adanya interaksi antara orang-orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah maupun zaman Islam; (2) adanya segi-segi kesamaan antara kehidupan para Sufis, dalam soal ajaran, tata cara melatih jiwa (riyâdlah) dan mengasingkan diri (khalwât), dengan kehidupan Yesus dan ajarannya, juga dengan para rahib dalam soal pakaian dan cara bersembahyang.
Ketiga, irfan ditimba dari India, seperti pendapat Horten dan Hartman. Alasannya, kemunculan dan penyebaran irfan (tasawuf) pertama kali adalah di Khurasan, kebanyakan dari para sufi angkatan pertama bukan dari kalangan Arab, seperti Ibrahim ibn Adham , Syaqiq al-Balkh dan Yahya ibn Muadz. Pada masa sebelum Islam, Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan Timur serta Barat. Mereka memberi warna mistisisme lama ketika memeluk Islam. Konsep dan metode tasauf seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih adalah praktek-praktek dari India.
Keempat, irfan berasal dari sumber-sumber Yunani, khususnya neo-platonisme dan Hermes, seperti disampaikan O’leary dan Nicholson. Alasannya, ‘Theologi Aristoteles’ yang merupakan paduan antara sistem Porphiry dan Proclus telah dikenal baik dalam filsafat Islam. Kenyataannya, Dzun al-Nun al-Misri (796-861 M), seorang tokoh sufisme dikenal sebagai filosof dan pengikut sains Hellenistik. Al-Jabiri agaknya termasuk kelompok ini. Menurutnya, irfan diadopsi dari ajaran Hermes, sedang pengambilan dari teks-teks al-Qur`an lebih dikarenakan tendensi politik. Sebagai contoh, istilah maqâmat yang secara lafdzi dan maknawi diambil dari al-Qur`an (QS. Al-Fusilat 164), identik dengan konsep Hermes tentang mi`raj, yakni kenaikan jiwa manusia setelah berpisah dengan raga untuk menyatu dengan Tuhan. Memang ada kata maqâmat dalam al-Qur`an tetapi dimaksudkan sebagai ungkapan tentang pelaksanaan hak-hak Tuhan dengan segenap usaha dan niat yang benar, bukan dalam arti tingkatan atau tahapan seperti dalam istilah al-Hujwiri.

Sejatinya, ilmu irfani yang lahir dari perkembangan ilmu tashawwuf adalah lahir dari khazanah Islam sendiri, karena semua paradigma, dogma, doktrin, dan mitos keilmuannya ditopang oleh Al-Qur’an, Hadits Qudsy, Hadits, dan tradisi asketisme yang sudah dijalankan oleh sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw yang disebut Ashabul Shaffa, yang tinggal bersama-sama Nabi Muhammad Saw di masjid Nabawi. Pandangan sarjana-sarjana dan orientalis Barat tentang pengaruh agama luar terhadap tashawwuf, sejatinya merupakan kebiasaan klaim khas Barat terhadap ilmu pengetahuan apa pun yang dimiliki bangsa-bangsa Timur sebagai tiruan dari Barat. Dalam ilmu filsafat, misal, Barat menetapkan filsuf tertua adalah Thales yang hidup abad ke-5 SM. Apakah tokoh Thales itu ada dan merupakan orang Yunani paling bijak meski tidak jelas keberadaannya, fakta membuktikan bahwa filsuf-filsuf India seperti Kapila, sudah hidup 2000 tahun SM, Muni Tirtangkara, yang hidup 4000 tahun SM.  Jadi dalam konteks tashawwuf pun, para sufi dianggap menjiplak saja pengetahuan dan amaliah ruhani yang sudah dimiliki Barat meski tanpa bukti.

Konsep Epistemologi Irfani
Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti halnya bayani, tidak juga didasarkan pada rasio seperti halnya burhani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Disebutkan juga bahwa Irfani ini erat kaitannya dengan konsep tasawuf. Karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, yang disebut zauq, di mana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan.

a. Persiapan
Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak; Taubat, Wara` (menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subhat), Zuhud (tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia), Faqir (mengosongkan seluruh pikiran, tidak menghendaki apapun kecuali Tuhan SWT), Sabar, Tawakkal, Ridla (hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan suka cita).

b. Penerimaan
Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara illuminatif (pencerahan). Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyâhadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya, yang dalam kajian Mehdi Yazdi disebut ‘Ilmu Huduri’ atau pengetahuan swaobjek (self object knowledge).
Menemukan kebenaran dengan cara ini juga diakui John S. Brubacher dalam bukunya, Modern Philosophies of Education, bahwa salah satu dari teori tentang kebenaran adalah Teori Religius (Religious), yaitu kebenaran adalah kebenaran ilahi (divine truth), kebenaran yang bersumber dari Tuhan, kebenaran disampaikan melalui wahyu (ilham). Kebenaran tidak cukup diukur dengan interes dan rasio individu, akan tetapi harus bisa menjawab kebutuhan dan memberi keyakinan pada seluruh umat. Karena itu kebenaran haruslah mutlak, berlaku sepanjang sejarah manusia.
Pengetahuan semacam ini di dunia islam sering disebut dengan ilham, seperti yang dikatakan Ali Issa Othman, bahwa Pengetahuan yang diperoleh di dalam “kebangkitan” disebut ilham. Tetapi ilham bukan merupakan wahyu atau kenabian. Wahyu merupakan kata-kata yang menggambarkan hal-hal yang tidak dapat dilihat secara umum, yang diurunkan Allah dengan maksud supaya disampakan kepada orang-orang lain sebagai petunjuk-petunjuk dari Allah, sedangkan ilham hanya merupakan “pengungkapan” kepada manusia pribadi yang disampaikan melalui batinnya. Wahyu hanya diberikan kepada nabi-nabi, sedang ilham diberikan kepada siapa saja yang diperkenankan Allah.

c. Pengungkapan
Yakni pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau tulisan. Namun, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan. Hal ini dibenarkan pula oleh Ali Issa Othman.
”Pengetahuan tentang kebenaran tidak dapat diungkapkan secara umum dan hanya dapat diketahui secara pribadi. Usaha-usaha untuk merumuskannya ke dalam kata-kata hanya akan menyesatkan. Kata-kata tidak dapat melukiskan kenyataan, karena kata-kata hanya diciptakan untuk mengutarakan hal-hal secara sepakat, dan kebenaran itu tidak dikenal secara sepakat”.
Kemudian beberapa cara pengungkapan makna atau dimensi batin yang diperoleh dari hasil kasyf tersebut adalah : Pertama, dapat diungkapkan dengan cara i`tibâr atau qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zahir yang ada dalam teks. Kedua, diungkapkan lewat syathahât, suatu ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdân) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan ‘Maha Besar Aku’ dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau ‘Ana al-Haqq’ dari al-Hallaj (w. 913 M). Ungkapan-ungkapan seperti itu menjadi tidak beraturan dan diluar kesadaran, karena keluar saat seseorang mengalami suatu pengalaman intuitif yang sangat mendalam, sehingga sering tidak sesuai dengan kaidah teologis maupun epistemologis tertentu, sehingga karena itu pula ia sering dihujat dan dinilai menyimpang dari ajaran islam yang baku. Meski demikian, secara umum, syathahat sebenarnya diterima dikalangan sufisme, meskipun dikalangan sufisme sunni yang membatasi diri pada aturan syariat, dengan syarat bahwa syathahât tersebut harus ditakwilkan, yakni ungkapannya harus terlebih dahulu dikembalikan pada makna zahir teks. Artinya, syathahat tidak boleh diungkapkan secara ‘liar’ dan berseberangan dengan ketentuan syariat yang ada.
Metode analogi seperti di atas, menurut al-Jabiri, juga dikenal dalam pemikiran di Barat, yakni dalam aliran filsafat esoterik, yang disebut analogi intuitif. Namun, dalam analogi filsafat esoterik, perbandingan (qiyas) bukan dialakukan atas dasar kesamaan tetapi karena adanya keterpengaruhan. Bagi al-Jabiri, dengan tidak adanya kesetaraan atau kesamaan diantara dua hal yang dianalogikan berarti analogi (qiyas) tersebut telah jatuh. Karena itu, dan ini merupakan kesalahan al-Jabiri, ia menggunakan metode analogi Barat tersebut untuk menganalisa irfani Islam, sehingga menganggap bahwa pengetahuan irfani yang dibangun diatas dasar qiyas bukan sesuatu yang luar biasa tetapi hanya kreatifitas akal yang didasarkan atas imajinasi. Lebih lanjut, irfani akhirnya hanya merupakan filsafatisasi mitos-mitos, yang tidak memberikan kontribusi apapun terhadap pembangunan masyarakat. Padahal, irfani islam sama sekali berbeda dengan mistik di barat, meski di beberapa bagian ada kesamaan. Irfani lebih berkaitan dengan kebersihan jiwa, rasa dan kayakinan hati, sementara mistik barat kurang berkaitan dengan semua itu tetapi lebih bersifat positifistik

Aliran iluminasionis (Isyraqi)
Aliran Isyraqi
Aliran Iluminasionis (Israqi). Didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi Al Maqtul. Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan. Baginya Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al anwar), cahaya di atas cahaya.
Prinsip dasar Iluminasionis adalah bahwa mengetahui sesuatu berarti memperoleh pengalaman tentangnya, serupa dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Pengetahuan tentang sesuatu berdasarkan pengelaman dianalisis hanya setelah pemahaman intuitif yang total dan langsung tentangnya.
Sebagai salah satu aliran filsafat islam, filsafat Iluminasi tentu memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan aliran-aliran yang lain, ditinjau dari sudut metodologis, ontologis dan kosmologis. Berbeda dengan aliran peripatetik, yang lebih menekankan penalaran rasional sebagai metode berpikir dan pencarian kebenaran, filsafat iluminasionis mencoba memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (‘irfan), sebagai pendamping bagi dasar bagi penalaran

Konsep Aliran Isyraqi
Aspek ontologis aliran iluminasionis, yang diwakili oleh konsep metafisika cahaya, yang merupakan ciri khas lainnya dari aliran ini. Sebagian filosof pernah mengibaratkan Tuhan sebagai matahari dan alam sinarnya. Suhrawardi, adalah seorang filosof Muslim memanfaatkan simbolisme cahaya untuk menjelaskan filsafatnya. Baginya Tuhan adalah Cahaya, sebagai satu-satunya realitas yang sejati. Ketika dihubungkan dengan cahaya-cahaya lain, Tuhan adalah Cahaya di atas Cahaya (Nûr Al-Anwar). Ia adalah sumber dari segala cahaya, dari mana semua cahaya lainnya berasal atau memancar.
Airan filsafat iluminasionis merupakan kritik yang cukup fundamental atas prinsip hylomorfis, karena sementara bagi hylomorfisme bentuk-bentuk benda bersifat relatif. Bagi yang terakhir sesuatu bisa dilihat secara relatif “lebih atau kurang dan tidak dibagi secara kategorik ke dalam substansi-substansi yang tetap.
Selain kritik terhadap filsafat atau prinsip atau prinsip hylomorfisnya peripatetik, filsafat iluminasionis juga memberikan kritik yang tajam atas prinsipialitas wujud, seperti yang diyakini Ibn Sina. Sementara bagi Ibn Sina dan dikemudian hari Mulla Sadra, wujud adalah yang real, yang fundamental, sementara bagi Suhrawardi esensi (mahiyah)-lah yang real, sedangkan wujud tidak memiliki hubungan realistik dengan realitas. Sebagai pengikut Plato yang percaya bahwa esensilah yang sejati, sedangkan wujud hanyalah abstraksi subyektif manusia saja.
Ciri khas ketiga dari aliran iluminasionis bisa dilihat dari ajaran kosmologis mereka, berupa teori emanasi, namun lebih ekstensif dari teori emanasi kaum Peripatetik. Seperti halnya kaum Peripatetik, Suhrawardi juga percaya bahwa alam semesta memancar dari Tuhan. Hanya saja dalam teori emanasi Suhrawardi, kita menjumpai bukan hanya istilah-istilah yang berbeda, tetapi juga struktur kosmik yang berbeda dalam jumlah maupun tatanannya. Tidak seperti Ibn Sina, yang menyebut Tuhan dengan Wâjib al-Wujûd (Wujud Niscaya/Senantiasa Aktual), Suhrawardi menyebut-Nya Nûr al-Anwâr (Cahaya dari segala cahaya), kalau dilihat dari sifat sejatinya sebagai cahaya dan sumber bagi cahaya yang lainnya, dan al-Ghani (Yang Independen) dilihat dari kemandirian-Nya yang absolut dari alam. Sedangkan alam sendiri pada gilirannya disebut al-fakîr (berbanding dengan mumkîn al-wujûd-nya Ibn Sina), untuk menunjukkan ketergantungan alam kepada Tuhan.

Tahap Aliran Isyraqi
Terdiri atas tiga tahap yang menggarap persoalan pengetahuan, yang diikuti oleh tahap keempat yang memaparkan pengalaman. Tahap pertama ditandai dengan kegiatan persiapan pada diri. Tahap kedua adalah tahap Iluminasi(pencerahan), ketika filosof mencapai visi (melihat) “Cahaya Ilahi” (Al-Nur Al-Ilahi). Tahap Ketiga, atau tahap kontruksi, ysng ditandai dengan perolehan dan pencapaian pengetahuan tak terbatas, yaitu pengetahuan Iluminasionis (Al-Ilm Al-Isyraqi) itu sendiri. Tahap keempat dan terakhir adalah pendokumentasian, atau bentuk pengalaman visioner yang ditulis ulang. Jadi, tahap ketiga dan keempat seperti yang didokumentasikan dalam tulisan-tulisan Suhrawardi, merupakan satu-satunya komponen filsafat Iluminasi.
Awal tahap pertama ditandai dengan kegiatan-kegiatan seperti melakukan uzlah selama empat puluh hari, tidak makan daging dan mempersiapkan diri untuk menerima ilham dan “wahyu”. Aktivitas-aktifitas itu tergolong dalam kategori umum praktik-praktik asketik dan mistik, meskipun tidak persis sama dengan maqam-maqam dan ahwal yang ditentukan oleh tarekat sufi, sebagaimana yang diketahui dalam karya-karya tasawuf pada masa Suhrawardi. Oleh karena itu, tahap pertama terdiri dari (1) aktifitas, (2) suatu syarat (yang dipenuhi oleh setiap orang, karena konon setiap orang mempunyai intuisi dan dalam diri setiap orang terdapat suatu bagian tertentu dari cahaya Tuhan) dan (3) “ilham” pribadi.
Tahap pertama membawa seseorang ketahap kedua, dan cahaya Ilahi memasuki wujud manusia. Kemudian, cahaya ini mengambil bentuk serangkaian “cahaya apokaliptik” (Al-Anwar Al-Sanihah) , dan melalui cahaya-cahaya itu diperoleh pengetahuan yang berfungsi sebagai fondasi ilmu-ilmu sejati (Al-‘Ulum Al-Haqiqiyyah).
Tahap ketiga adalah tahap mengontruksi suatu ilmu yang benar (‘Ilm Shahih). Dalam tahap ini, sang filosof menggunakan analisis diskursif. Pengalaman diuji coba, dan cara pembuktian yang digunakan adalah demonstrasi (burhan) Aristotelian dalam posteriory analitik. Kepastian yang sama yang diperoleh dengan bergerak dari data indrawi (pengamatan dan pembentukan konsep) ke demonstrasi berdasarkan akal, yang merupakan basis pengetahuan ilmiah diskursif, dikatakan terjadi ketika data visioner tempat filsafat Iluminasi bersandar didemonstrasikan. Ini dipenuhi melalui proses analisis dengan tujuan mendemonstrasikan pengalaman dan mengkonstruksi suatu sistem yang meletakkan pengalaman pada tempatnya kemudian mengabsahkannya, bahkan setelah pengalaman itu berakhir

Jumat, 20 Januari 2017

Kumpulan status dp bbm dan wa

Mulailah sekarang, mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya. Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.
Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain.
Saudaramu adalah orang yang berkata benar kepadamu. Teman sejati adalah orang yang mengatakan apa adanya. Tidak menjilat, tidak mengada-ada.
Selemah-lemah manusia ialah orang yang tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang menyia – yiakan sahabat yang telah dicari.

Rintihan hujan dalam wktu berkalut dengan malam, para pecinta bersenandung pnh dgn puisi kehidupan mencari kata arti sbuah kebahagiaan.
Terbayang satu wajah Penuh cinta penuh kasih Terbayang satu wajah Penuh dengan kehangatan Kau ibu Oh ibu.

Kami bekerja sehari-hari Untuk belanja rumah sendiri, walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya.
Wahai Rosulullah, Kau telah ajarkan hidup ini untuk saling mengasihi ku tanamkan dalam hati ku amalkan sejak dini Engkaulah nabi pembawa cinta Kau bimbing menuju cinta.

Tiada keutamaan seperti jihad dan tiada jihad seperti menentang hawa nafsu.

Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya.

Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, menghindarkan bala`, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba.

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. (Imam An Nawawi)

Ucapkanlah kepada orang lain kata-kata terbaik yang kalian senang jika mereka mengatakan itu kepadamu.

Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. (Ali bin Abi Thalib).

“Janganlah malas dan suka marah, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Barang siapa yang malas, ia tidak akan dapat melaksanakan hak (orang lain), dan barang siapa yang suka marah, maka ia tidak akan sabar mengemban kebenaran”.

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.(Umar bin Khattab).

Orang yang paling menyesal di hari kiamat adalah orang yang berbicara keadilan dan ia sendiri tidak melaksanakannya.

“Seorang alim yang dapat dimanfaatkan ilmunya lebih utama dari tujuh puluh ribu ‘abid”.

“Jika mulut seseorang berkata jujur, maka perilakunya akan bersih, jika niatnya baik, maka rezekinya akan ditambah, dan jika ia berbuat baik kepada keluarganya, maka umurnya akan ditambah”.

“Alangkah mungkin orang yang tamak kepada dunia akan mendapatkannya di dunia. Akan tetapi, ketika ia mendapatkan seluruhnya, dunia itu akan menjadi bala` baginya dan ia menjadi sengsara karenanya. Dan alangkah mungkin seorang membenci urusan akhirat. Akan tetapi, ia dapat menggapainya kemudian dan ia hidup bahagia karenanya.”

“Jika kita mendapat rejeki dari arah yang tak di sangka-sangka, jumlahnya tak diduga-duga. Itu tandanya Allah sudah mulai memperhatikan kita lebih dekat. Jika kita masih bisa duga, mungkin kedekatan kita dengan Allah masih biasa saja.”

“Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat, tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan kebahagiaan selamanya.”

“Jika sore tiba, janganlah tunggu waktu pagi, jika pagi tiba, janganlah tunggu waktu sore. Manfaatkan masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu dan manfaatkan masa hidupmu sebelum tiba ajalmu.” — Ibnu Umar, Putra Umar bin Khattab.

“Tiada makanan yang lebih baik daripada hasil usaha tangan sendiri.” — (HR. Bukhari), Hadist

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” — (HR. Ahmad), Hadist

Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya

Kejahatan dibalas dg kejahatan adalah sebuah akhlaq ular, tetapi kalau kejahatan dibalas dg kebajikan itulah akhlaq manusia (Nasirin)

Bersyukur adalah cara terbaik agar merasa cukup, bahkan ketika berkekurangan. Jangan berharap lebih sebelum berusaha lebih

Sesungguhya Allah mengampuni beberapa perilaku umatku, yakni (karena) keliru, lupa dan terpaksa ( HR. Ibnu Majah)

Amal yg paling banyak menentukan masuk surga ialah takwa kepada Allah perangai yang baik

Jangan mengingat kebaikan yang pernah kamu lakukan, tapi ingatlah kebaikan yang orang lain lakukan kepadam

Allah akan menolong seorang hambanya, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya (HR. Muslim)

Berharap itu bukan hanya diam, tapi tetap berdoa dan berusaha. Impian bukan untuk ditunggu, tapi juga dijemput

Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit

Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seorang hamba untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya

Tak ada kesulitan yang kekal, begitu juga dengan kebahagiaan. Berharaplah hanya kepada Allah SWT

Silaturahmi dapat membersihkan amalan, memperbanyak harta, mempermudah hisab (di hari kiamat) dan menunda ajal tiba

Aku mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada SABAR

Sekuat apapun berusaha untuk sempurna, tak akan bisa. Akan selalu ada kekurangan. Akan selalu ada kelemahan. karena kesempurnaan hanya milik Allah semata

Ambillah nasihat baik dari orang yang mengucapkannya meskipun ia tidak mengamalkannya

Dan pada setiap nikmat yang kita terima, ucaplah Alhamdulillah..

Kunci sukses adalah kegigihan untuk memperbaiki diri dan kesungguhan untuk memberikan yang terbaik dari hidup ini

Ya Allah hamba takut dg semua dosa-dosaku, jangan engkau cabut nyawaku saat tubuh ini tak pantas di surga

Ketika perjalanan hidup terasa MEMBOSANKAN. Maka Allah menyuruh kita untuk banyak BERSYUKUR.

Ketika kesedihan menjatuhkan AIR MATA Maka Allah meminta kita untuk berusaha TERSENYUM .

Ketika kita menginginkan sesuatu yang tak kunjung DIDAPATKAN. Maka Allah meminta kita untuk sabar MENUNGGU.

Ku hampiri seribu wajah, menampilkan bayangmu.. Berpendar suka cita dalam harap cinta..

Sesungguhnya SABAR akan indah jika kita selalu dekat dgn ALLAH InsyaAllah.

Karena hidup ini terlalu singkat dan berharga jika di buang dengan orang yang TIDAK TEPAT (bukan jodoh kita)…

Lebih baik MENUNGGU orang yang benar-benar kita harapkan.. Daripada menghabiskan waktu dengan orang yang tidak tepat..

Cinta bukan tentang bagaimana perasaan itu muncul.. Tapi bagaimana perasaan itu agar tetap utuh…

Cinta bukan tentang jarak yang memisahkan.. Tapi tentang kepercayaan satu sama lain..

CINTA itu seperti menanam sebuah pohon, Jika kita SABAR pohon itu bisa menjadi pohon yang sangat besar dan kuat..

Aku tak berharap kesempurnaanmu.. Kerana aku ingin melengkapinya dengan kekuranganku..

Aku tak berharap di pertemukan denganmu.. Tapi aku meminta dipersatukan dalam cinta_NYA..

Jika aku disini menanti, ku harap kau disana menjaga.. Jika aku disini berdo’a, ku harap kau disana setia..

Semoga kasihmu pada_NYA membuatmu mampu bertahan dalam perpisahan yang panjang ini..

Semoga cintamu pada_NYA menjagamu dari angin2 keburukan yang mampu membuatmu lalai akan perintah_NYA.

Untukmu yang jauh disana.. Ku harap kau slalu menjaga hatimu.. Seperti disini aku menjaga hatiku..
Untukmu yang jauh disana, Berdinding jarak dan waktu, Berbatas ruang diantara kita..

Tanpa pernah merasa kecewa karena dia tidak bisa menjadi sempurna seperti apa yang kamu minta..

Jagalah ia dengan segenap jiwa ragamu.. Dan trimalah ia apa yang ada pada dirinya

Cintailah ia dengan hatimu.. Sayangilah ia dengan penuh ketulusan..

Di saat engkau menyakitinya.. Maka lihatlah saat dia rela meneteskan air matanya untukmu agar engkau selalu bahagia

Disaat engkau ingin mncapakkannya begitu saja Maka ingatlah dia yg slalu brusaha untuk menjadi pelangi ketika awan kelabu menyelimuti dirimu

Disaat engkau ingin mnduakan pasangan hidupmu Maka ingatlah dia yg slalu setia dsampingmu ketika kamu butuh seseorang yg mampu mbuatmu tegar

Cintailah seperti kamu mencintai dirimu sendiri.. Begitu juga sayangilah, orang yang kamu sayangi seperti kamu menyayangi dirimu sendiri

“Sesunguhnya dibalik kesusahan ada kemudahan” “dibalik kesedihan ada kebahagiaan” “Maha suci Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan”

Allah Menjanjikan bahwa semua itu akan INDAH PADA WAKTUNYA.

Menitipkan Sukacita di setiap dukacita Menitipkan Harapan di setiap keraguan

Allah menitipkan kelebihan di setiap kekurangan Menitipkan Kekuatan di setiap kelemahan

Kita merancang, Allah juga merancang.. Tetapi perancangan Allah lebih baik..

Saat segalanya terasa “MEMBOSANKAN”, namun ALLAH berkata “TERUSLAH MELANGKAH”

Saat AIR MATA harus menetes, namun ALLAH berkata “TERSENYUMLAH”

RENCANA ALLAH itu BAIK Saat hati berkata ” INGIN “, namun ALLAH berkata “TUNGGU”.

Ya Allah, jika dia memang bukan untukku, berikan aku keikhlasan untuk bisa merelakannya bersama dengan orang lain.”

Jika suatu saat nanti kehilangan.. Maka LEPASKANLAH DENGAN PENUH KEIKHLASAN

Cintailah seseorang dengan kesedrhanaan Rindukanlah seseorang dengan kesederhanaan

karena : Jika Suatu saat Nanti engkau kehilangannya..engkau tidak akan terlalu berat untuk melepaskannya.

jika engkau merindukan seseorang.. Maka Rindukanlah sekedarnya saja.. Janganlah Terlalu berharap Janganlah terlalu menginginkan

Untuk mu Sekarang… Jika engkau mencintai seseorang.. Maka Cintailah sekedarnya saja

Dan Kini aku Sadar.. Bahwa Terlalu berharap padamu adalah suatu kesalahan yang besar bagiku..

Aku sadar.. Bahwa Terlalu menginginkanmu adalah Suatu kesalahan yang Fatal bagiku

Aku sadar.. Bahwa Terlalu mencintaimu adalah suatu kesalahan besar bagiku

Aku sadar.. Bahwa terlalu merindukan kehadiranmu adalah suatu kesalahan bagiku

jika kamu berlayar pada lautan cinta pastikanlah kamu tau cara untuk mengarunginya

ta’aruf adalah cara pdkt dalam islam

Cinta yg taakan terkhianati adalah cinta kepada Illahi

Dan dialah sebenarnya yang masih mempedulikan kita. Yang akan membuat hidupmu berbalut bahagia penuh senyuman

Ketika kita pergi bersembunyi hanyalah untuk ditemukan. Ketika kita berjalan jauh hanyalah untuk melihat siapa yang masih setia mengikuti.

Pilih seorang mampu mengerti pikiranmu disaat engkau terdiam. Yg mampu merasakan kasih sayangmu disaat kemarahanmu.

Terkadang engkau harus berbicara pelan.. Agar engkau tahu siapa yang masih mau mendengarkanmu

Bantulah sesama yang sedang membutuhkan, karena suatu saat akan terasa sakit jika tidak ada orang lain yang menolong disaat kita membutuhkan.

Ucapkan syukur kepada Tuhan setiap pagi ketika bangun tidur karena anda masih punya sesuatu untuk dikerjakan, lepas dari anda suka atau tidak.

Saat anda menginginkan kemewahan, terkadang justru hanya kesederhanaan yang bisa membawanya kepada anda.

Kegagalan membuat kita menjadi lebih hebat JIKA kita selalu bekerja keras,PANTANG untuk menyerah.

Ada tiga hal yang harus dimiliki dalam hidup, Perubahan, Pilihan, dan Prinsip.

Dalam hidup ini, ada yang namanya ” kata”, tak mengenal waktu. Ucapkanlah dan Tuliskan kata yang baik, karena tulisan dan perkataan akan abadi bahkan ketika tubuh tak lagi ada didunia ini.

Masa kejayaan ada dihadapan kita, karena ia bukanlah hal yang telah berlalu.

Jangan berkecil hati. Seringkali anak kunci yang bisa membuka kunci adalah anak kunci terakhir dalam rentengan.

kebahagiaan itu laksana kupu-kupu. jika anda mengejarnya, ia akan luput dari genggaman. tapi jika anda duduk diam bertafakur, ia justru mendatangi telapak tangan – Nathaniel Hawthorne

kegembiraan hidup datang dari pertemuan kita dengan pengalaman baru. tiada kegembiraan yg lebih besar daripada menghadapi cakrawala yg selalu berubah dimana setiap harinya ada mentari baru – Christopher McCandless

malas adalah cara tercepat menuju kematian. rajin adalah jalan kehidupan, orang bodoh memelihara sifat malas, orang bijak selalu rajin – Buddha

ketika saya masih muda, saya selalu mengira uang adalah hal yg terpenting dalam hidup ini. sekarang setelah saya menua, ternyata memang benar! – Oscar Wilde

semua orang punya tujuan dan aspirasi hidup, tapi semua orang juga pernah berada di satu titik dimana tidak ada orang lain yg memercayai tujuan dan aspirasi mereka! – Eminem

dengan humor, kesulitan hidup terasa ringan. dengan tertawa, pahitnya kehidupan tidak akan terasa dan tahu-tahu anda sudah menjadi penyintas (survivor) ! – Bill Cosby

kehidupan hanya bisa dipahami dengan melihat ke belakang, tapi kehidupan harus dijalani dengan melihat ke depan! – Soren Kierkegaard

menang itu bagus. tentu saja. tapi jika anda ingin menemukan hal yg berharga dalam kehidupan, belajarlah untuk kalah! tidak ada orang yg akan menang selamanya. jika anda dapat bangkit dari kekalahan yg menyakitkan dan bersiap untuk bertarung lagi. itulah tanda seorang juara sejati! – Wilma Rudolph

hari paling berharga dalam hidupmu dan hidupku adalah hari dimana kita mengambil tanggung jawab penuh atas segala tindakan-tindakan kita. pada hari itulah kita benar-benar dewasa – John C. Maxwell

sedikit sekali hal-hal dari luar yg dapat membuatmu bahagia. semua bahan pembentuk bahagia sudah ada di dalam dirimu, tepatnya di dalam pikiranmu! – Marcus Aurelius

mari memimpikan hari esok, dimana kita dapat benar-benar mencintai dari jiwa dan mengetahui bahwa cinta adalah kebenaran tertinggi dalam semua ciptaan – Michael Jackson

pikiran baik, talenta, kreativitas dan cinta adalah mata air awet muda. jika anda belajar menemukan keempat hal ini, maka usia senja bukan lagi halangan – Sophia Loren