Rabu, 05 Oktober 2016

GURU BANGSAKU GUS DUR & CANDANYA

Almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) sambil bercanda pernah berkata: “Hal yang misterius dan hanya Tuhan yang tahu, selain jodoh, maut, dan rezeki, adalah Gus Dur”.

Gus Dur -allah yarham,- memang begitu misterius, hingga sikap, ucapan dan kebijakan beliau sering disalah pahami orang lain, bahkan oleh sebagian warga Nahdhiyin (NU) sendiri. Apalagi musuh-musuh beliau menilai bahwa ucapan dan sikap beliau tidak masuk akal, malah mereka "men-cap" beliau sebagai orang gila.

Namun belakangan terlebih setelah Gus Dur wafat, sikap dan ucapan beliau yang dianggap tidak masuk akal ternyata terbukti benar. Seperti yang diceritakan para tokoh Vatikan, saat Gus Dur menjabat sebagai ketua PBNU, beliau mengunjungi Vatikan. Dan sambil guyon Gus Dur berkata bahwa beliau akan datang lagi ke Vatikan tapi tidak sebagai ketua PBNU tapi sebagai seorang Presiden.

Ucapan Gus Dur hanya dianggap candaan oleh para tokoh Vatikan. Dan ternyata pada kunjungan selanjutnya membuat tokoh Vatikan terkaget-kaget, Gus Dur memang datang sebagai seorang Presiden. Itulah mengapa beliau dijuluki "santo" oleh para tokoh Vatikan.

Saat Gus Dur diminta pertanggung jawaban oleh DPR, dengan gagah berani beliau datang ke gedung bundar dan menghadapi anggota DPR. Di hadapan mereka semua dengan lantang Gus Dur mengatakan bahwa DPR seperti Taman Kanak-kanak.

Saat itu banyak anggota DPR yang tersinggung dan menuding Gus Dur gila. Tapi pada kenyataan yang kita lihat, ternyata benar apa yang dikatakan Gus Dur. Anggota DPR senang ketika jalan-jalan dan tidur ketika sidang, senang rebutan proyek, hobbynya meminta-minta dari #papa_minta_saham, #mama_minta_softex dan sekarang  #si_papa_malah_minta_kasur dan masih banyak lagi.

Pak Sutarman adalah ajudan Gus Dur, dan Gus Dur pernah berkata pada Pak Sutarman: "Nanti Pak Tarman akan jadi Kapolda Metro setelah itu Pak Tarman akan menjadi Kapolri." Pada saat itu Pak Sutarman hanya tertawa karena mengganggap itu tidak akan terjadi, bahkan bermimpi menjadi Kapo

ri-pun belum pernah. Dan tepat pada tanggal 23 Oktober 2013, Pak Sutarman resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden SBY.

Pada 8 Januari 2006, Gus Dur pernah mampir ke rumah dinas walikota Solo untuk bertemu dengan beberapa tokoh agama. Saat itu Bung Joko baru 6 bulan menjabat walikota. Dan pada hari itu Gus Dur berkata: “Siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi Wali Kota yang bagus, kelak juga bisa jadi presiden." Bung Joko hanya senyam-senyum pada waktu itu.

Di pagi hari, Gus Dur meminta Kang Said (KH. Aqil Siradj) untuk menyediakan air putih dan roti tawar untuk sarapan. Lalu Gus Dur meminta Kang Said untuk membacakan kitab Ihya' Ulumuddin. Baru dibacakan dua paragraf Gus Dur sudah mendengkur. Lima menit kemudian beliau terbangun dan berkata pada Kang Said: "Sampean akan menjadi ketua PBNU di atas usia 55 tahun".

Pada Muktamar NU ke 30, Kang Said di usia 46 tahun mencalonkan diri menjadi ketua PBNU bersaing dengan KH. Hasyim Muzadi. Dan yang terpilih pada saat itu adalah KH. Hasyim. Dan pada muktamar NU ke 32, Kang Said mencalonkan diri lagi menjadi ketua PBNU dan beliau terpilih tepat di usia 56 tahun.

Setelah gagal menjadi gubernur Bangka Belitung, Koh Ahok bertemu Gus Dur dan Gus Dur berkata: "Kamu akan menjadi gubernur".

Guru Besar UGM Profesor Suhardi, pernah menjadi Dirjen di Departemen Kehutanan di era Gus Dur. Di ruang ICCU berapa hari sebelum Gus Dur wafat. Gus Dur berkata pada Pak Hardi: “Pak Hardi saya titip bangsa ini. Tolong ikut dikawal Pansus Century di DPR. Besok Kamis saya akan pulang ke Tebuireng dengan diantar banyak orang. Saya sudah ditunggu ayah saya di sana,"

Dan masih banyak lagi kisah misterius tentang Gus Dur. Dan yang membuat tertawa adalah perkataan Gus Dur pada Fidel Castro: "Saya menjadi presiden dipilih oleh orang-orang gila". Sekarang kita saksikan sendiri bagaimana perilaku mereka yang memilih Gus Dur pada masa itu. [Gusdurfiles.Com

SI MBAH MAIYAH

Catatan Setelah Tiga Hari Bermaiyahan)

Si Mbah

ZULFAISAL PUTERA  •  5 Oktober 2016#Maiyahan

Perempuan muda yang duduk paling depan kanan panggung itu tampak menangis. Sapu tangan yang diusapnya berulang-ulang tak mampu menahan curah air matanya. Wajahnya memerah.

Dia tidak sendiri. Ada banyak orang lagi saat itu yang sesenggukan menangis. Bibir-bibir mereka bergerak-gerak ikut melantun. Larut dalam kesahduan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang tengah senandungkan Salawat Alfu Salam dan berlanjut Sidnan Nabi.

Zulfaisal Putera saat berkunjung ke Kadipiro.

Saya yang menyaksikan pemandangan itu dari atas panggung ini juga ikut terbawa keharuan yang sama. Sambil menikmati dan meniru lantunan syair-syair pujian kepada Rasullullah itu, pikiran saya terbawa kepada suasana pengajian Sekumpul yang dipimpin oleh almarhum Guru Zaini Ganie belasan tahun silam. Saat itu, ribuan orang bermajelis dua kali seminggu, selain untuk mendengarkan nasihat guru, juga bersama-sama bersalawat kepada baginda Rasul.

Atmosfer salawat guru Sekumpul itulah yang terasa saat acara Banjarmasin Bersyukur dalam rangka Hari Jadi ke-490 Kota Banjarmasin digelar. Cak Nun dengan warna suaranya yang khas dan indah  mampu memusatkan pikiran dan rasa penyaksi kepada satu titik : cinta Allah dan Rasulnya. Dan bukan hanya dilakukan Cak Nun saat pentas di Banjarmasin, yang masyarakatnya memang punya keterkaitan emosional dengan guru Sekumpul, tetapi juga di pengajian-pengajian lain di banyak tempat.

Setiap bulan, ada 5 pengajian rutin digelar Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Pertama, pengajian Phadangmbulan di Jombang tiap tanggal 15 bulan Hijriah atau saat purnama. Kedua, Mocopat Syafaat di Jogjakarta tiap 17 Masehi. Ketiga, Kenduri Cinta di TIM Jakarta tiap Jumat minggu kedua. Keempat, Gambang Syafaat tiap  25 Masehi. Dan kelima, Bambang Wetan di Surabaya, tiap 17 Hijriah. Juga puluhan pengajian lainnya di berbagai daerah. Di tempat-tempat itu, salawat nabi guru Sekumpul selalu dikumandangkan.

Itulah salah satu daya tarik pengajian yang digelar Cak Nun sejak 90-an. Dia sangat pandai menggerakan hati jamaah untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya melalui salawat. Dia juga mampu mengisi ruang pikir dan hati dengan asupan ilmu dan hikmah, dari soal politik, ekonomi, dan agama. Semua disampaikan dalam tuturan dan kemasan seni yang mudah dicerna, oleh orang awam sekali pun. Tak heran jika pengajiannya punya banyak nama: tadabur atau perenungan, sinau atau pencerahan, atau ngaji bareng. Dari pengajian ini, Cak Nun punya pengikut yang militan: maiyah.

Maiyah bermakna kebersamaan. Nama ini dijadikan semacam sebutan bagi pengikut pengajian Cak Nun, ke mana dan di mana pun diadakan. Ada jutaan orang yang menyatu dalam simpul-simpul Maiyah di berbagai daerah. Dengan swadaya, mereka ‘diperjalankan’ dari kota ke kota, dan pulau ke pulau, bahkan menyeberang lautan, hanya untuk melingkar dalam pengajian Cak Nun. Saya menemukan beberapa orang militan semacam ini di banua. Mereka menyunting sedikit waktu untuk beredar dua sampai tiga tempat pengajian dalam sekali perjalanan.

Sekali pun titik sentral melingkar para jamaah Maiyah ini adalah Cak Nun, tetapi mereka tidak mengkultuskannya. Simbah, demikian biasa mereka menyebut, hanyalah guru, yang membagi pengetahuannya akan berbagai hal kepada murid-muridnya. Bagi mereka, bermaiyah bersama Cak Nun sama seperti sebuah proses recharger mind and soul. Ada semacam interaksi energi positif untuk terus berproses dalam meningkatkan pemahaman pentingnya  Allah dan agama dalam kehidupan.

Cak Nun sendiri tak mengistimewakan diri. Di setiap pengajiannya, dia berusaha tetap sama berkedudukan dan tak berjarak dengan jamaah. Misalnya, syarat tinggi panggung untuk pentasnya hanya sekitar 40-50 cm; jamaah langsung berhadapan dengannya tanpa dipisahkan oleh barisan pejabat yang biasanya duduk paling depan; dan semua lesehan. Cak Nun juga selalu membagi tugas bicara dan bersenandung dengan rekan di kiri kanannya dan membuka ruang tanya-jawab. Suasana semacam ini jarang ditemukan dalam pengajian-pengajian layaknya.

Cak Nun bukan sekadar sebuah fenomena melainkan juga keniscayaan. Di tengah krisis kepemimpinan, krisis idola, krisis kepercayaan akan tokoh spiritual dan motivator yang berkedok agama, kehadiran Cak Nun sejak belasan tahun lalu telah membuktikan sebuah keajekan keteladanan. Dia tidak bercokol di pusat kekuasaan, tetapi menyusur di tepi tepi kehidupan keseharian bersama rakyat kebanyakan. Tak heran jika kehadiran Simbah ini selalu dirindukan dan menyedot banyak jamaah untuk duduk bersama berjam-jam memahami hakikat kehidupan.

Senin, 25 April 2016

Shalat dalam bahasa Jawa Apakah Boleh

SOLAT BERBAHASA JAWA

Oleh: Jum’an

Pak Sri teman saya asli Solo mengatakan bahwa ia merasa lebih sreg bila berdoa dalam bahasa Jawa. Katanya lebih terasa kalau dia mengucapkan Duh Gusti dibandingkan Ya Robbi.

Dengan rendah hati ia mengatakakan seandainya diizinkan, ia ingin solat menggunakan bahasa Jawa: setidak-tidaknya pada tahiyat akhir saja. Saya tertegun mendengarkan curhatnya.

Saya hanya menimpali bahwa keinginannya mirip dengan keinginan saya dalam menjalankan profesi sehari-hari. Setiap kali berurusan dengan suhu, volume, berat atau jarak, selalu terasa ada yang janggal yang tidak sreg. Karena menerapkan teknologi Amerika, suhu terpaksa dinyatakan dalam derajat Fahrenheit, bukan dalam derajat Celcius (Centigrade), padahal saya lebih sreg menggunakan derajat Celcius karena lebih mudah dibayangkan. 0o C adalah sedingin menggenggam es batu dan 100o C sepanas tersiram air mendidih. Sedangkan 100o F tak terbayang seberapa panas, kecuali jika saya konversikan lebih dulu.

Begitu juga volume, berat dan jarak saya lebih sreg menggunakan liter, kilogram dan meter daripada feet, pound dan gallon. Lebih terbayang. Pak Sri juga ingin doa dan solatnya lebih terasa, seperti manisnya rasa buah, tidak seperti menelan kapsul vitamin meskipun mungkin sama khasiatnya. Meskipun tak pernah terlintas untuk solat menggunakan bahasa Jawa, saya memahami pentingnya ibadah yang terasa sampai kehati tidak verbalististis dan mekanistis. Bagi Pak Sri bahasa Jawa tidak hanya enak diucapkan tetapi terasa meresap sampai kehati dibanding bahasa Arab yang tidak ia kuasai dengan baik. Saya maklum karena sebagai orang Banyumas saya juga setali tiga uang.

Konon suatu saat Raden Ajeng Kartini merasa bosan mengaji dan menghafal dalam bahasa Arab tanpa memahami artinya. Ia dimarahi dan dikeluarkan oleh guru ngaji yang mengaharapkannya menjadi wanita yang soleh. Ia lalu menulis surat kepada sahabatnya Estella Zeehandelaar, seorang tokoh feminis Yahudi Belanda. Salah satu baris surat bertanggal 6 November 1899 itu berbunyi: “Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella?” Ini tragis!

Karena guru ngaji yang mungkin tidak pandai menyajikan materinya dalam bahasa Jawa yang difahami dan diresapi, Kartini berpaling kepada komunitas Belandanya. Tetapi bukan salah sang guru ngaji. Kartini memang dibawah pengaruh mereka; bahkan ia memandang Dr. Snouck Hurgronje orientalis-kolonialis Balanda sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam.

Kepada Rosa Abendanon istri Menteri Agama & Kebudayaan Hindia Belanda waktu itu, Kartini menulis: “… sudikah nyonya menanyakan kepada beliau apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” Mempertentangkan arti soleh dan baik hati adalah tidak relefan; bahkan dalam hal ini terdengar provokatif dan menunjukkan ketidak sukaan kepada bahasa Arab, padahal RA Kartinii adalah cucu dari pasangan KH Madirono seorang guru agama dan Nyai Hajjah Siti Aminah.

Kebanyakan kita menyangka bahwa apa yang kita ungkapkan dengan kata-kata sama persis dengan yang kita rasakan dalam pikiran. Yang kita ucapkan tergantung dari apa yang kita gambarkan dalam pikiran kita. Tetapi ada pendapat yang sebaliknya yaitu apa kita rasakan, apa yang kita lihat, tergantung dari kata yang kita ucapkan.

Artinya persepsi seseorang tergantung dari bahasa orang itu. Menurut Hipotesa Sapir-Whorf  bahasa menentukan atau sangat mempengaruhi cara berfikir dan perilaku masyarakat pengguna bahasa itu dan bahwa  macam-macam bahasa tidak dapat diterjemahkan satu dengan lainnya. Bahasa seseorang memang berpengaruh terhadap persepsi dan pemikirannya, sebagaimana terbukti dari penelitian dua orang dari Ben-Gurion Univ. Israel dan Bangor Univ. Inggris.

Subyek dalam penelitian mereka adalah orang-orang Arab warga Israel, yang fasih dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab, yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang menggunakan bahasa Ibrani. Terbukti bahwa asosiasi positif mereka dengan bangsanya sendiri (sesame Arab) lebih lemah ketika mereka diuji dalam bahasa Ibrani daripada ketika mereka diuji dalam bahasa Arab. Mereka berfikir Arab lebih positif ketika mereka dalam lingkungan berbahasa Arab daripada lingkungan berbahasa Ibrani. Padanan awamnya, Kartini yang fasih berbahasa Belanda dan Jawa berkurang simpatinya kepada guru ngaji bangsa sendiri ketika ia bergaul dengan komunitas yang berbahasa Belanda. Karena itu ia memilih bertanya kepada Snouck Hurgronje daripada kepada ulama Islam berbahasa Jawa.

Saya juga sering berdoa dalam bahasa Indonesia atau Jawa terutama bila harus menyebut hal-hal yang bersifat masa-kini atau khas-pribadi. Tetapi melakukan solat menggunakan bahasa Jawa, … tidak akan! Karena seperti dikatakan Edward Sapir diatas, pada hakekatnya suatu bahasa tidak dapat diterjemahkan kedalam bahasa lain. Apalagi ayat suci Qur’an. Anda tidak akan solat dalam bahasa selain bahas Arab bukan? Saya dan Pak Sri juga tidak.

Blangkon Naik Haji

Tidak ada yang aneh sebenarnya dalam tradisi berpakaian ala Nusantara, apalagi ala Jawa. Namun jika tradisi berpakaian ala nusantara khususnya blankon ini terlihat di Masjid Nabawi, kontan saja mata orang-orang seperti tersihir dengan keberadaannya. Meskipun hanya orang yang tidak sehat saja yang mempersalahkan perihal penutup kepala ini. 


Hal ini seperti yang terjadi pada jamaah Haji Indonesia yang berpakaian salah satu pakaian khas Nusantara, para jama'ah haji Indonesia yang disebut-sebut sebagai jama'ah haji Nusantara kloter 12 dari Jepara Jawa Tengah melaksanakan ibadah di Masjid Nabawi Madinah berupakan i'tikaf dan ibadah lainnya.

Keberadaan mereka di Masjid Nabawi menjadi pemandangan yang unik karena mereka mengenakan penutup kepala khas Jawa berupa Blankon, serta pakaian yang kebanyakan berwarna hitam.

Kekhasan mereka yang menghiasi ruang di masjid Nabawi menjadikan orang-orang yang melihatnya akan mudah menebak bahwa mereka berasal dari jama'ah haji Indonesia, khususnya Jawa.

Sabtu, 23 April 2016

Tarian Sufi


mendekatkan diri kepada Allah bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan berzikir. Sufi Jalaludin Rumi mengembangkan metode zikir dengan gerakan berputar sehingga terciptalah tari yang indah…

Tari sufi atau whirling dance adalah karya seorang sufi dari Turki, Maulana Jalaludin Rumi, pujangga sufi dari tanah Persia. Tari ini merupakan bentuk ekspresi dari rasa cinta, kasih, dan sayang seorang hamba kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad saw.

Salah satu tuntunan Nabi Muhammad untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan berzikir. Rumi mengembangkan metode zikir dengan gerakan berputar sehingga terciptalah tari sufi.

Dalam Islam, para darwis yang terlibat dalam tarian ini mengenakan jubah putih yang melambangkan warna pakaian kematian (kain kafan). Namun, pada awal tarian, pakaian ini ditutupi oleh jubah hitam yang melambangkan pusara. Mereka juga mengenakan tutup kepala yang tinggi dan bundar, berwarna cokelat atau putih yang melambangkan batu nisan mereka.

Tarian berawal dengan gerak para sufi mencium tangan pimpinan mereka. Kemudian mereka menanggalkan jubah hitam sebagai perlambang perpisahan mereka dari pusara menuju ke haribaan Sang Pemilik Alam Semesta. Mereka mulai berputar berlawan dengan arah jarum jam secara perlahan. Gerakan ini melambangkan alam semesta yang selalu berputar mengelilingi garis edarnya masing-masing. Tangan kanan dengan telapak tangan menghadap ke atas di muka, sedangkan di belakang tangan kiri menghadap ke bawah. Itulah simbol bahwa apa yang mereka dapatkan dari kemurahan dan kasih sayang Allah mereka sebarkan ke seluruh semesta.

Lalu mereka berputar semakin lama semakin cepat. Melalui tarian itulah para sufi mencapai suatu tingkatan yang terkendali untuk mencapai dan menyentuh puncak kesempurnaan.

Keinginan Rumi hanyalah menyatu dengan Allah. Dan, menurutnya, Tuhan bukan menjelma dalam alam semesta, melainkan dalam hati manusia. Karena itulah manusia lebih cenderung menggunakan hatinya dalam berbuat daripada berdasarkan pikiran.

Terkadang masyarakat awam mengira bahwa orang yang menarikan tarian sufi ini kesurupan karena bisa berputar-putar begitu lama. Tidak, jangan keliru sangka, mereka bukan kesurupan, tapi justru tengah berada dalam kesadaran yang tinggi dan mampu mengidentifikasi keadaan di sekitarnya dengan lebih baik. Bahkan membuat mereka semakin sadar tentang siapa mereka sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Ingin mencoba? Monggo …

@@@

Meditasi TQN


Ilmu yang bermanfaat adalah yang sinarnya melapangkan shudur (dada), dan membuka hijab qalb (hati). Sebaik-baik ilmu tersebut, yang disertai oleh rasa takut (al-khasya’) kepada Allah SWT. Jika ilmu itu disertai rasa takut kepada Allah menguntungkanmu, jika tidak, itu bahaya bagimu.”


Ilmu adalah sumber kekuatan. Jika kita tidak mendekatinya dengan sikap yang benar, ia akan membuat kita menderita dan menguasai kita. Kita hendaknya memiliki kepekaan, kesadaran, kewaspadaan, dan kehati-hatian agar kita dapat mengambil manfaat dari ilmu sejati.

Sedangkan kehidupan kita terbatas sesuai dengan jumlah hari kita hidup dan kesempatan yang datang. Sekali kita mengabaikan satu peluang besar, ia takkan pernah datang lagi. Terdapat siklus dan titah (amr) yang alamiah. Jika kita tidak menyikapinya dengan tepat, maka siklus dan titah itu niscaya melindas kita.

Ilmu yang bermanfaat itu ma’rifat (mengetahui) Dzat, Sifat, Asma dan Af’al (Perbuatan) Allah SWT. Juga mengerti bagaimana mengabdi (ubudiyyah) kepada Allah Ta’ala serta beradab (santun) terhadap-Nya.

Nabi Daud as. berkata, “Ilmu di dalam shudur (dada) bagaikan lampu di dalam rumah.”

Imam Malik bin Anas ra. berkata,“Bukanlah ilmu itu kepandaian atau banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu adalah nur (cahaya) yang diturunkan Allah ke dalam qalb (hati) hamba-Nya. Dan bermanfaatnya ilmu itu untuk mendekatkan (taqarrub) manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Junaid al-Baghdadi ra. berkata,“Ilmu adalah mengenal Rabb-mu dan tidak melampaui kedudukan dirimu (yakni menyadari kehambaanmu).”

Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya yang sungguh-sungguh takut kepada Allah (yakhsyallaha) dari para hamba itu, hanya al-ulama (orang-orang yang berilmu/arif.” (QS. Fathir 35:28)

Rasulullah saw. bersabda,“Orang yang menuntut ilmu (tentang Allah) itu Allah jamin rezekinya.”

Rasulullah saw. juga bersabda,”Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu, karena gemar pada apa yang dituntutnya. Kemudian Rasulullah saw berlindung kepada Allah,”Allahumma inni a’uudzu bika min ilmin laa yanfa’ (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).” Ilmu yang tidak bermanfaat yaitu ilmu yang tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah.

Al-Junaid ra. ketika ditanya, “Apakah ilmu yang bermanfaat itu?” beliau menjawab,“Ilmu yang dapat mengarahkanmu kepada Allah SWT, dan menjauhkan dari menurutkan hawa nafsu dan syahwatmu.”

Sumber: triboedihermawan.com

Read more: http://www.dokumenpemudatqn.com/2013/04/alhikam-ilmu-yang-bermanfaat.html?m=1#ixzz46f4Tynxs