Rabu, 12 Juni 2013

Abah Anom Suryalaya

Pendiri Pesantren Inabah, Suryalaya

Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin adalah nama asli Abah Anom.
Lahir 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Ia anak kelima
dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah
Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya. Sebuah pesantren tasawuf
yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah
(TQN).
Ia memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis,
pada usia 8 tahun. Lima tahun kemudian melanjutkan ke
madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Usai tsanawiyah,
barulah ia belajar ilmu agama Islam, secara lebih khusus di
berbagai pesantren.
Ia keluar masuk berbagai macam pesantren yang ada di sekitar Jawa Barat seperti, Pesantren
Cicariang dan Pesantren Jambudwipa di Cianjur untuk ilmu-ilmu alat dan ushuluddin.
Sedangkan di Pesantren Cireungas, ia juga belajar ilmu silat. Minatnya untuk belajar silat
diperdalam ke Pesantren Citengah yang dipimpin oleh Haji Djunaedi yang terkenal ahli “alat”,
jago silat dan ahli hikmat.
Kegemarannya menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu
keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung dengan ketertarikannya pada dunia
pesantren, telah mendorong ayahnya yang dedengkot Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN)
untuk mengajarinya dzikir TQN. Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif
muda.
Mungkin sejak itulah, ia lebih di kenal dengan sebutan Abah Anom. Ia resmi menjadi mursyid
(pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950. Sebuah masa yang rawan dengan
berbagai kekerasan bersenjata antar berbagai kelompok yang ada di masyarakat, terutama
antara DI/TII melawan TNI.
“Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil mengembalikan umat Islam
kepada keaslian agamanya pada kurun-kurun tertentu,” tegas Abah Anom, tentang eksistensi
tasawuf dalam ajaran Islam.
Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung
mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa). Menurutnya, sufi dan pengamal
tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syari’ah atau ilmu fiqih. Bahkan, menurutnya lagi, ilmu
syari’ah adalah jalan menuju ma’rifat.
Ia, sebagaimana lazimnya sosok sufi, tak ingin terkenal. “Ia amat sulit untuk diwawancarai
wartawan, karena beliau tak ingin dikenal orang,” ungkap Ustadz Wahfiudin, mubaligh Jakarta
yang menjadi salah seorang muridnya.
Kendati demikian, ia bukanlah sosok sufi yang lari ke hutan-hutan dan gunung-gunung, seperti
legenda sufi yang sering mampir ke telinga kita. Yang hidup untuk dirinya sendiri, dan
menuding masyarakat sebagai musuh yang menghalangi dirinya dari Allah swt. Ia akrab dengan
berbagai medan kehidupan, mulai dari pertanian sampai pertempuran.
Pada tahun 50-60-an kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan. Abah Anom turun
sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif membangun irigasi untuk mengatur
pertanian, juga pembangunan kincir angin untuk pembangkit tenaga listrik.
Bahkan Abah Anom membuat semacam program swasembada beras di kalangan masyarakat
Jawa Barat untuk mengantisipasi krisis pangan. Aktivitas ini telah memaksa Menteri
Kesejahteraan Rakyat Suprayogi dan Jendral A. H. Nasution untuk berkunjung dan meninjau
aktifitas itu di Pesantren Suryalaya.
Medan pertempuran bukanlah wilayah asing bagi Abah Anom. Pada masa-masa perang
kemerdekaan, bersama Brig. Jend. Akil bahu-membahu memulihkan keamanan dan ketertiban di
wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus (1965), ia bersama para santrinya melakukan
perlawanan bersenjata.
Bahkan tidak hanya sampai di situ, Abah Anom membuat
program “rehabilitasi ruhani” bagi para mantan PKI. Tak heran,
jika Abah mendapat berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani
Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat dan instansi
lainnya.
Medan pendidikan juga tak luput dari ruang aktivitasnya. Mulai
dari pendirian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah
pada tahun 1977, sampai pendirian Institut Agama Islam
Latifah Mubarokiyah pada tahun 1986.
Kiprahnya yang utuh di berbagai bidang kehidupan manusia,
ternyata berawal dari pemahamannya tentang makna zuhud.
Jika kebanyakan kaum sufi berpendapat zuhud adalah
meninggalkan dunia, yang berdampak pada kemunduran umat
Islam. Maka menurut pendapat Abah Anom,
“Zuhud adalah qasr al-’amal artinya, pendek angan-angan,
tidak banyak mengkhayal dan bersikap realistis. Jadi zuhud
bukan berarti makan ala kadarnya dan berpakaian compang camping.”
Abah merujuk pada surat An-Nur ayat 37 yaitu, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan
dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat, (dari)
membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati menjadi guncang.”
Jadi, menurut beliau seorang yang zuhud adalah orang yang mampu mengendalikan harta
kekayaannya untuk menjadi pelayannya, sedangkan ia sendiri dapat berkhidmat kepada Allah
swt semata. Atau seperti dikatakan Syekh Abdul Qadir Jailani,
“Dudukkanlah dirimu bersama kehidupan duniawi, sedangkan kalbumu bersama kehidupan
akhirat, dan rasamu bersama Rabbmu.”
Inabah
Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah Anom memiliki
landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode penyembuhan ruhani, semuanya ada
dalam nama pesantren itu sendiri yaitu, Inabah.
Abah Anom menjadikan Inabah tidak hanya sekedar nama bagi pesantrennya, tapi lebih dari
itu, ia adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena
ketergantungan terhadap obat-obat terlarang. Dalam kacamata tasawuf, ia adalah nama sebuah
peringkat ruhani (maqam), yang harus dilalui seorang sufi dalam perjalanan ruhani menuju
Allah swt.
“..Salah satu hasil dari muraqabatullah adalah al-inabah yang maknanya kembali dari maksiat
menuju kepada ketaatan kepada Allah swt karena merasa malu ‘melihat’ Allah,” jelas Abah yang
merujuk pada kitab Taharat Al-Qulub.
Dalam teori inabah, untuk menancapkan iman dalam qalbu, tak ada cara lain kecuali dengan
dzikir laa ilaha ilallah, cara ini di kalangan TQN disebut talqin. Demikian juga dalam mesikapi
mereka yang dirawat di pesantren Inabah. Mereka harus diberikan ‘pedang’ untuk menghalau
musuh-musuh di dalam hati mereka, pedang itu adalah dzikrullah.
Orang-orang yang dirawat di Inabah diperlakukan seperti orang yang terkena penyakit hati, yang
terjebak dalam kesulitan, kebingungan dan kesedihan. Mereka telah dilalaikan dan disesatkan
setan sehingga tak mampu lagi berdzikir pada-Nya. Ibarat orang yang tak memiliki senjata lagi
menghadapi musuh-musuhnya. Walhasil, obat untuk mereka adalah dzikir.
Shalat adalah salah satu bentuk dzikir. Menurut pandangan Abah Anom, para pasien itu belum
dapat shalat karena masih dalam keadaan mabuk (sukara), karena itu langkah awalnya adalah
menyadarkan mereka dari keadaan mabuk dengan mandi junub. Apalagi sifat pemabuk adalah
ghadab (pemarah), yang merupakan perbuatan syaithan yang terbuat dari api. Obatnya tiada
lain kecuali air.
Jadi, selain dzikir dan shalat, untuk menyembuhkan para pasien itu digunakan metode wudlu
dan mandi junub. Perpaduan kedua metode itu sampai kini tetap digunakan Abah Anom untuk
mengobati para pasiennya dari yang paling ringan sampai yang paling berat, dan cukup
berhasil. Buktinya, cabang Inabah tak hanya di Indonesia, di Singapura langsung berdiri sebuah
cabang serta Malaysia dua buah cabang. Belum lagi tamu-tamu yang mengalir dari berbagai
benua seperti Afrika, Eropa dan Amerika.

sumber:dari Suara Hidayatullah, 1999

Syehk Yusuf Al Makasari

Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di
kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian
kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh
Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai
dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah,
Syattariyah, Ba'alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam
pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung
pertentangan antara Hamzah Fansuri yang
mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin
Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.
Syekh Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam. Ia
diajar mengaji Alquran oleh guru bernama Daeng ri
Tasammang sampai tamat. Di usianya ke-15, Syekh Yusuf
mencari ilmu di tempat lain, mengunjungi ulama terkenal
di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit, yang
mendirikan pengajian pada tahun 1640.
Syekh Yusuf meninggalkan negerinya, Gowa, menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22
September 1644 dalam usia 18 tahun. Ia sempat singgah di Banten dan sempat belajar pada
seorang guru di Banten. Saat ia mengenal ulama masyhur di Aceh, Syekh Nuruddin ar Raniri,
melalui karangan-karangannya, pergilah ia ke Aceh dan menemuinya.
Setelah menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf berusaha ke Timur
Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka.
Di Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru pada Sayed Syekh
Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi.
Ia dianugerahi ijazah tarekat Naqsyabandi dari gurunya ini.
Perjalanan Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh Maulana
Sayed Ali. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah tarekat Al-Baalawiyah. Setelah tiba
musim haji, beliau ke Mekah menunaikan ibadah haji.
Dilanjutkan ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim Hasan bin
Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Belum
juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui
Syekh Abu Al Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat
Khalwatiyah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang dialami oleh Syekh
Yusuf.
Melihat jenis-jenis alirannya, diperoleh kesan bahwa Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang
tinggi, meluas, dan mendalam. Mungkin bobot ilmu seperti itu, disebut dalam lontara versi
Gowa berupa ungkapan (dalam bahasa Makassar): tamparang tenaya sandakanna (langit yang
tak dapat diduga), langik tenaya birinna (langit yang tak berpinggir), dan kappalak tenaya
gulinna (kapal yang tak berkemudi).
Cara-cara hidup utama yang ditekankan oleh Syekh Yusuf dalam pengajarannya kepada murid-
muridnya ialah kesucian batin dari segala perbuatan maksiat dengan segala bentuknya.
Dorongan berbuat maksiat dipengaruhi oleh kecenderungan mengikuti keinginan hawa nafsu
semata-mata, yaitu keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu
itulah yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama yang harus
ditempuh oleh seorang murid (salik) adalah mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang
menunjukkan kemewahan duniawi.
Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat.
Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali.
Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus
dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi
ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.
Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara
duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup
menuju pencapaian anugerah Tuhan.
Dengan demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan kebebasan
dalam menempatkan Allah Yang Mahaesa sebagai pusat orientasi dan inti dari cita, karena hal
ini akan memberi tujuan hidup itu sendiri.
Sumber : Dari berbagai Sumber

Syeh Abdul Qodir Jailani Menampar Setan

Kisah Jin bernama Setan.Memang setan ini dikenal sebagai makhluk yang pantang
menyerah dalam menjerumuskan manusia menuju kemaksiatan dan berpaling dari
Allah SWT.Akan tetapi tidak semua manusia bisa dibujuknya.Buktinya adalah ketika
setan mencoba membujuk ulama terkenal yang bernama Syeikh Abdul Qadir Jaelani,
siasat setan tak berhasil sama sekali.Malah setan tersebut ditampar oleh Sang Syeikh.
Berikut Kisahnya.Pada suatu hari Syeikh Abdul Qadir didatangi setan yang MENYAMAR
sebagai manusia biasa. Sosok tubuhnya buruk menjijikkan, pakaiannya compang-
camping dan bau badannya busuk.Setan berkata,"Saya datang jauh-jauh untuk
menghadapmu semata dengan maksud menjadi pelayan Syeikh. Semoga saya dapat
diterima."Permintaan setan diacuhkan oleh Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani yang
kemudian menampar wajah setan tersebut. Setelah ditampar, seketika itu juga setan
tersebut menghilang tanpa bekas.
Setan Membawa Obor Menyala.Setelah ditampar, tak berapa lama kemudian setan
muncul lagi sambil membawa obor yang menyala. Obor tersebut hendak digunakan
untuk membakar Sang Syeikh.Begitu melihat kedatangan setan yang membawa obor
yang menyala, Syeikh lalu mengambil sebilah pedang yang tergantung di tembok.
Ketika pedang itu hendak ditebaskan, setan langsung lari terbirit-birit.
Setan tak jera.Seolah-olah taj jera, setan masih datang lagi tiada kapoknya.Kali ini
setan datang dengan berpura-pura menangis. Tapi ya karena yang di godanya adalah
bukan orang yang sembarangan,setan kesulitan.Setan tersebut menangis sambil
meminta ampun kepada Sang Syeikh.
Setan berjanji tidak akan menggoda Syeikh lagi. Akan tetapi, diam-diam setan
membawa peralatan untuk menggoda manusia."Saya datang untuk meminta maaf
darimu wahai Syeikh," kata setan."Enyah engkau, berkali-kali kamu datang dan
menggodaku dan aku tidak akan terperdaya dengan rayuanmu," bentak Syeikh.Dengan
cekatan Sang Syeikh merampas peralatan yang dibawa setan dan di redamnya.Akibat
dari kegagalan usahanya, setan itu akhirnya kabur dan tidak nongol lagi sambil
berkata,"Dengan ilmumu dan rahmat Allah, engkau selamat dari tipuan dan rayuanku,
padahal aku telah menggoda dan menyesat sebanyak 70 orang yang sedang menuntut
ilmu ketauhidan."

Hal Hal yang berlawanan @ar rumi

Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia,
sang Maha Pengampun, untuk
memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya.
Tetapi takkan sesuatu dikenali
kecuali jika ada lawannya,
dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan.
Maka diangkatnya seorang khalifah,
seorang insan pemilik qalb,
agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya.
Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga,
dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya,
yang berasal dari kegelapan.
Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam:
Yang pertama Adam;
dan lainya Syaithan, sang penghalang jalan
menuju kepada-Nya. [1]
Diantara ke dua kubu ini,
berlangsung pertentangan dan perang;
dan melalui hal-hal itu terjadilah
apa-apa yang harus terjadi.
Demikianlah, pada generasi berikutnya
tampil lah Habil, sedangkan saudaranya Khabil
menentang cahaya murninya. [2]
Lalu , pertentangan ke dua panji itu:
keadilan melawan ke-tidak-murni-an,
memasuki masa kekuasaan Namrud.
Dia menentang dan memusuhi Ibrahim,
dan tentara ke duanya berperang
dan bertempur satu sama lain.
Sampai akhirnya,
Dia berkehendak mengakhiri sengketa itu,
api-Nya menjadi alat penentu diantara mereka.
Lalu dia mengangkat hamba-Nya, sang Api,
menjadi pemutus perkara ini: sehingga persoalan
diantara mereka dapat ditentukan. [3]
Generasi demi generasi berlalu,
sampai pertentangan ke dua kubu itu
memasuki masa Fir'aun dan Musa yang bertakwa.
Pertentangan diantara ke duanya
berlangsung bertahun-tahun.
Terjadi bermacam pelanggaran berat
yang melampaui batas,
dan menyebabkan banyak penderitaan.
Saat itu, Dia menjadikan Air sebagai utusan-Nya,
Laut lah yang menentukan siapa yang benar
diantara mereka yang bersengketa. [4]
Pada masa ketika Mushtafa hadir bertugas,
dia berhadapan dengan Abu Jahl,
pemimpin ke-tidak-adilan.
Di masa kaum Tsamud,
Dia mengutus Suara sebagai abdi-Nya,
gelegar Suara dahsyat mematikan mereka. [5]
Di dalam penghancuran kaum 'Ad,
hamba-Nya yang bertugas adalah Angin, [6]
yang bergemuruh, bergerak naik, dengan cepat.
Ketika Dia mengutus hamba-Nya yang teliti, Bumi,
sebagai utusan kepada Qarun:
dihias-Nya sifat lembut bumi dengan permusuhan.
Saat itu, kelembutan Bumi berubah
menjadi kemurkaan, sehingga
ditelannya Qarun beserta harta-bendanya. [7]
Perhatikanlah fungsi makanan bagi tegaknya tubuhmu,
roti itu ibarat baju zirah yang menahan tombak lapar.
Tapi ketika Dia menaruh kemurkaan dalam rotimu,
roti akan melekat pada kerongkonganmu,
dan membuatmu tersedak sampai terasa tercekik.
Atau ketika pakaianmu
--yang seharusnya melindungimu dari hawa dingin-- dibuat-Nya dingin, setajam es.
Maka segera kau tanggalkan baju-bulu hangat,
dan beralih berlindung kepada hawa dingin.
Pengetahuanmu belum memadai;
ibarat air, jumlah dan kemurniannya
masih tak mencukupi untuk bersuci:
kau lupakan azab yang menimpa
pada hari ketika awan menaungi. [8]
Di kota dan desa,
kepada setiap rumah dan dinding,
turunlah perintah -Nya: "Jangan beri naungan,
Jangan tepis hujan maupun cahaya matahari;"
sehingga kaum itu semua bergegas
menemui Syu'aib, Sang Utusan,
Sambil menjerit, Kasihanilah kami,
wahai Pangeran! Kami seperti telah mati.
Baca lah kisah selanjutnya dalam Al Qur'an.
Kenanglah bagaimana Dia yang Maha Terampil
mengubah tongkat Musa menjadi seekor ular-naga,
itu saja cukup sebagai contoh bagimu,
seandainya kau cukup cerdas. [9]
Kau miliki perangkat akal,
tapi tak cukup dalam kau merenung:
bagai musim dingin membeku,
tak kunjung mengalir ke musim semi.
Karenanya, sang Maha Perancang,
yang membentuk pikiran berkata,
Wahai hambaku, renungkan lah dalam-dalam.
Dia tak berkata, tempa lah besi yang dingin, [10]
tapi maksudnya, wahai engkau yang sekeras besi,
dedikasikanlah dirimu bagi Dawud. [11]
Jika tubuhmu seperti mati,
cari lah pertolongan Israfil; [12]
jika hatimu membeku,
cari lah kehangatan Ruh al-Quds.
Jika berlama-lama kau kungkung dirimu
dalam selimut pakaian khayalan,
segera kau dapati pikiranmu berubah jahat.
Sehingga Akal Sejati tanggal:
tak didapati persepsi yang sejati
tak pula diperoleh pengalaman kesejatian.
Disini aku harus menahan lisanku,
jika kukatakan yang sebenarnya,
akan banyak penyingkapan yang mempermalukan.
Apakah sebenarnya arti iman?
Maknanya: yang menyebabkan mata-air-sumber mengalir.
Ketika janin keluar dari rahim,
ia disebut rawan. [13]
Filsuf yang sejati itu
orang yang jiwanya telah dimerdekakan
dari kungkungan penjara tubuh,
lalu berkelana (rawan) di taman Kesejatian.
Ke dua hal pokok di atas itu didapat melalui anugerah,
maka perhatikan lah dengan cermat;
Semoga engkau terberkati.
Catatan:
[1] "... Dan syaithan jadikan mereka memandang baik perbuatan mereka, dan menghalangi
mereka dari jalan (Allah) ..." QS [Al 'Ankabuut [29]: 38)
[2] Ketika ke dua putera Adam a.s, Qabil dan Habil diperintahkan berkurban, maka kurban Qabil
ditolak. Adiknya, Habil, berkata, "... Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan dari (orang-orang)
al-Mutaqiin." (QS Al Maa-idah [5]: 27)
[3] "Kami berfirman, 'Wahai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatan bagi
Ibrahim.'" (QS Al Anbiyaa [21]: 69)
[4] "... maka Kami tenggelamkan dia serta mereka yang bersamanya, seluruhnya." (QS Al Israa
[17]: 103)
[5] Kaum Tsamud yang tinggal di daerah Hijr akhirnya "... dibinasakan oleh suara yang
menggelegar di waktu subuh." (QS Al Hijr [15]: 83)
[6] "Adapun kaum 'Aad, mereka telah dibinasakan oleh angin yang sangat dingin lagi
kencang." (QS Al Haaqqah [69]: 6)
[7] "Maka Kami benamkan ia beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tiada baginya suatu
golonganpun yang menolong dari adzab Allah, dan tiada pula ia yang dapat membela diri." (QS
Al Qashash [28]: 81)
[8] "Kemudian mereka mendustakannya (Syu'aib), lalu mereka ditimpa 'adzab, pada hari mereka
dinaungi awan. Sesungguhnya 'adzab itu hari yang agung ('adziim)." (QS Asy Syu'araa [26]: 189)
[9] "Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tongkat itu menelan apa yang mereka ada-
adakan" (QS [Asy Syu'ara [26]: 45)
[10] Maksudnya, menghabiskan daya dan waktu dalam pemikiran spekulatif. [11] Nabi Dawud
a.s, Insan Kamil yang bertugas ketika Bani Israil diboikot habis sehingga tak memiliki kekuatan
apa pun; "Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud, membuat baju besi untukmu, guna
melindungimu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kau bersyukur." (QS Al Anbiyaa [21]: 80)
Maksudnya, agar orang-orang kuat, cerdik-cendekia atau berkuasa, tidak sekedar tenggelam
asyik dalam pagelaran kecerdasan atau kekuasaan mereka tapi mendaya-gunakannya untuk
mencari amal-shaleh dalam bimbingan insan kamil, yang yang dihadirkan hidup pada zaman
mereka.
[12] Sang malaikat Pemegang Sangsakala Hari Kiamat.
[13] Yang bergerak, mengalir.

Sumber: Rumi: Matsnavi VI:2151 - 2189. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.
Ngrumi.blogspot.com

Nafs dan Hawa

Allah Ta’âlâ berfirman kepada orang-orang yang memiliki hati, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati.” (QS Qaf, 50:37)Dan ketika menyebut nafs Allah Ta’âlâ berfirman, “Sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan…” (QS Yusuf, 12:53) Allah berfirman kepada Musa as, “Salahkanlah nafs-mu, karena yang paling layak untuk disalahkan adalah nafs. Ketika bermunajat kepada-Ku, bermunajatlah dengan lisan yang shidq dan hati yang takut.” Ketahuilah, setiap kali hati memiliki sesuatu yang baik, maka nafs pun memiliki hal serupa yang dapat mengaburkan. Sebagaimana Allah memberi hati keinginan (irâdah), maka Allah juga memberi nafs angan-angan kosong (tamanniy). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan cinta (mahabbah), maka Allah memberi nafs hawa nafsu (hawâ). Sebagaimana Allah memberi hati harapan (rojâ`), maka Allah memberi nafs ketamakan (thoma’). Sebagaimana Allah memberi hati perasaan takut (khauf), maka Allah memberi nafs perasaan putus asa (qunûth). Perhatikan dan renungkan kata-kataku ini. Salah satu contoh yang dapat memberikan gambaran jelas kepadamu adalah keadaan orang yang terlilit hutang. Kamu seringkali melihat orang yang tidak mau melunasi hutangnya. Namun ketika memperoleh harta, ia justru menyedekahkannya, dan tidak berusaha melunasi hutangnya. Itulah contoh perbuatan baik yang timbul dari nafs. Sebab, di antara sekian banyak jenis nafs, ada nafs yang suka melakukan murûah dan merasakan kenikmatan ketika memberi. Orang yang nafs-nya seperti ini merasakan kenikmatan dalam memberi sebagaimana orang jahat merasakan kenikmatan ketika menolak permohonan pertolongan. Demikian pula halnya dengan mereka yang mengerjakan sunah, tapi meninggalkan yang wajib. Misalnya: orang yang mengerjakan ibadah haji berulang kali dengan uang halal dan haram serta mengabaikan ketakwaan dalam urusan-urusannya yang lain. Di antara mereka ada yang menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki, tapi meremehkan salat. Hasan Al-Bashri rhm berkata, “Ada seseorang berkata,’ Aku telah haji, aku telah haji.’ Kamu telah menunaikan ibadah haji, oleh karena itu sambunglah tali silaturahmi, bantulah orang yang sedang kesusahan, dan berbuat baiklah kepada tetangga.” Contoh lain adalah orang-orang yang mencari harta haram kemudian membelanjakannya dalam kebaikan. Sebagaimana telah kuberitahukan kepadamu, semua perbuatan ini digerakkan oleh nafs, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan hati. Allah menjadikan “perbuatan yang dilakukan secara berlebih-lebihan” untuk nafs dan “perbuatan yang dikerjakan secara wajar” untuk hati. Jika kamu melihat perilaku, atau pencarian ilmu dan ibadah dikerjakan dengan tenang (thuma’ninah), maka ketahuilah bahwa perbuatan itu muncul dari hati dan pelakunya adalah orang berakal. Tetapi, jika kamu melihat seseorang yang perilaku, cara menuntut ilmu dan ibadahnya tidak dilakukan dengan tenang, pelakunya emosional dan bodoh, maka ketahuilah bahwa kegiatan itu digerakkan oleh nafs dan hawâ. Sebab, hawâ merusak dan menggoncangkan akal. Di mana pun berada, hawâ akan selalu merusak. Demikianlah sifat hawâ. Jika hawâ berinteraksi dengan akal, hawâ akan merendahkan dan menggoyahkannya. Jika berinteraksi dengan agama, hawâ akan mengotori dan merusaknya. Sehingga kamu dapat melihat bahwa orang yang agamanya dan cara ber-sulûk-nya baik bila dikuasai oleh hawâ, urusannya menjadi kacau, keadaannya menjadi buruk dan dibenci masyarakat. Begitulah sifat kebatilan, ia akan merusak kebenaran, jika keduanya bercampur. Jika hawâ mampu merusak orang yang berakal dan beragama, lalu bagaimana menurutmu jika hawâ merasuki para pecinta dunia yang jiwanya lemah? Bagaimana keadaan mereka nanti? Segala hal yang dirusak oleh hawâ dapat diperbaiki oleh akal, karena hawâ mempunyai tingkat setaraf dengan akal. Hawâ akan merendahkan dan menjerumuskan manusia, sebaliknya akal akan memuliakan dan meninggikannya. Sungguh besar perbedaan keduanya! Kamu lihat orang yang dipengaruhi hawâ tampak seperti orang buta, tidak tahu jalan (menuju Allah). Hawâ menghambatnya dari mencari sesuatu yang memiliki hakikat, membuatnya tidak memikirkan akibat perbuatan yang ia lakukan, membuatnya suka bertengkar dan bermusuhan, membuang-buang umur dalam mencintai dan membanding-bandingkan keutamaan para imam. Lain halnya dengan orang-orang yang berakal, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, menyempurnakan semua amal mereka dengan niat-niat yang baik, memanfaatkan waktu yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya, berusaha keras untuk berbuat kebajikan, dan menyesali perbuatan baik yang tidak dapat mereka kerjakan. (Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn, Putera Riyadi) Catatan:Hawâ adalah makanan nafs. Hal ini membuat nafs sangat bergantung dan sulit melepaskan diri dari cengkeraman hawâ. Oleh karena itu, jauhilah hawâ dan bebaskanlah nafs- mu darinya. Sebab, hawâ akan menodai agama dan murûah-mu. Jika kamu perhatikan dan beda-bedakan semua peristiwa yang terjadi, maka akan kamu dapati bahwa hawâ-lah yang menjadi sumber segala fitnah dan bencana dalam peristiwa-peristiwa itu. Karena, hawâ merupakan sumber kebatilan dan kesesatan. Hawâ bak minuman memabukkan. Seseorang yang meneguknya akan dikuasai oleh minuman itu dan akan hilang akal sehatnya. Murûah: usaha seseorang untuk melaksanakan semua hal yang dianggap baik dan menjauhi semua hal yang dianggap buruk oleh masyarakat sumber: Sufi Road

Senin, 10 Juni 2013

RIWAYAT HIDUP ABAH ANOM

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi. Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang- ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah. Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik. Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya. Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.

Sufi Road: Madrasah Hadhramaut : Fase-fase Takabbur

Sufi Road: Madrasah Hadhramaut : Fase-fase Takabbur