Senin, 16 Januari 2017

Syair Syair Para Ulama' Tanah Jawa

Kalimat syair sangat indah, kalimat syair motivasi diri pendamai hati penyejuk hati dari para wali dan para kyai– bisa memberikan motivasi dan dampak psikologis pada seseorang. Kalimat syair  tersebut bisa mememotivasi seseorang berperilaku semakin baik, sopan, sholeh, sholehah, berkualitas dan bermutu.

Kalimat syair di bawah  ini berisi kumpulan nasehat kata bijak, pesan penuh hikmah, nasehat, serta motivasi para Sahabat Nabi Saw, para wali, para imam madzhab, ulama, shalihin, tokoh sufi, ahli hikmah, sebagai penuntun kita dalam menjalani roda kehidupan.

Semua nasehat berbentuk syair di bawah ini yang terucapkan bersumber dari al Qur’an dan Sunnah Baginda Nabi Saw. Pesan serta nasehat nasehat di dalamnya dapat membangkitkan semangat untuk giat dalam berbuat kebajikan. Sengaja syair ini disajikan dalam bahasa Indonesia, tujuannya agar semua dapat menikmatinya dan sebagai pendamai hati, penyejuk hati.

Aku Rindu Pada Allah Tuhanku 
Dimana Berada Tiadalah Tentu 
Itulah Awal Pada Sangkaku 
Ternyata Lebih Dekat Dari Daging Dengan Kuku

Tamatlah Sudah Riwayat Diri 
Yang Mulanya Dari Pada Mani 
Itulah Asal Kejadian Diri 
Tuntutlah Pada Guru Yg Benar Ahli

Inilah Sebenarnya Ujud Muhammad 
Mengandung Rahasia, Menghidupkan Jasad 
Hendaklah Diketahui Satunya Tempat 
Siang Dan Malam Selalu Diingat

Suatu Sipat Telah Menjadi 
Didalam Rahim Ibu Sendiri 
Sembilan Bulan Sembilan Hari 
Ini Yang Disebut Sifat Ma’ani

Sifat Ma’ani Sudahlah Nyata 
Lengkap Sekalian Tujuh Anggota 
Arash Dan Kursy Ikutlah Serta 
Sehingga Cukup Seluruh Anggota

Angin Itu Ujud Tariqat 
Menjadi Nyawa Pada Malaikat 
Membawa Wahyu Sgera Cepat 
Naik Dan Turun Tiada Terlambat

Ilmu Tariqat, Pakaian Nabi 
Itu Asal Mulanya Terjadi 
Dengan Qudrat Halikul Bahri 
Jatuh Kedalam Rahim Ibu Sendiri

Inilah Anugerah Jalan Tariqat 
Didalam Rahim Ia Bertempat 
Didalam Suluk Ia Berma’rifat 
Hendak Menjadikan Suatu Sifat

Roh Idafi Hendaklah Dikenal 
Zikir Yg Lima Menjadi Amal 
Mengucap Kalimah Itulah Asal 
Sholat Kita Disitulah Tinggal

Hasil Sholat Adalah Nikmat 
Karena Serahasia Allah Dgn Muhammad 
Sekalian Nabi Tiadalah Ingat 
Dibaitul Ma’mur Tempat Yg Rahmad

Sirrullah Itu Yg Utama 
Sholat Itu Tiang Agama 
Takbir Ikut Badan Dan Nyawa 
Rahmat Dan Lezat Akan Diterima

Hapus Sudah Goresan Hatiku 
Mendengar Suara Didalam Kalbu 
Asma-Nya Tiga, Hakikat Satu 
Sampailah Sudah Yg Kita Tuju

Ilmu Syariat Membelah Kata 
Yg Satunya Dibelah Dua 
Alim Ulama Jangan Dipercaya 
Kalau Mereka Merasa Kuasa

Amal Sholat Tiada Artinya 
Bila Hati Syirik Kotor Jiwanya 
Juga Niat Mencari Pahala 
Jadi Munafiq, Kan Nyata Kelihatannya
Kalau Bertemu Rindukan Bulan 
Tunjukan Muka Taruh Didepan 
Pantang Mundur Pahlawan Tuhan 
Mati Syahid Menjadi Jaminan

Hilangkan Keakuanmu 
Kalau Engkau Sudah Bertemu 
Allah Itu Tiada Tentu 
Yang Ada Itu Hanyalah Kamu

Jangan Engkau Bertaklid Buta 
Menuju Pimpinan Asal Semula 
Mari Kita Menuju Dia 
Tuhan Allah Tanpa Perantara

Biar Maling Kerjaan Dunia 
Ilmunya Ambil Asal Sempurna 
Tidak Sholat Bukan Ukurannya 
Siapa Benar, Itu Yg Diterima 
Iru Iru Padang Sibundan 
Patah Bilah Siular Lidi 
Janganlah Ragu Mencari Tuhan 
Rahasia Allah Didalam Diri

Tuhan Allah Telah Berperi 
Setiap Insan Sudah Diberi 
Asalkan Dia Sudi Mencari 
Tenangkan Diri Tengoklah Hati

Jangan Susah Mencari Bilah 
Bilah Ada Dibatang Buluh 
Jangan Susah Mencari Allah 
Rahasia Nya Ada Didalam Tubuh

Tidak Susah Mencari Bilah 
Bilah Didapat Dibuat Kipas 
Tidak Susah Mencari Allah 
Rahasia Nya Ada Didalam Nafas

Wahai Saudara Handai Taulan 
Mengenal Diri Janganlah Enggan 
Malu Bertanya Sesat Dijalan 
Diakhirat Nanti Pasti Dapat Siksaan

Pertama Air Dijadikan Zat Allah 
Kedua Tanah Dijadikan Sifat Allah 
Ketiga Api Dijadikan Sirrullah 
Keempat Angin Dijadikan Wujud Allah

Siapakah Orang Miskin itu…?

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhullah berkata :

“Definisi orang miskin : orang yang merasa tidak cukup atas rezeki yang telah diperolehnya.”

@almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA

======================

Istiqomah diatas Amal Sholeh

Syaikh DR.Shalah Budair hafizhullah berkata :

“Allah berfirman, “Apakah kamu tidak melihat orang yang berpaling (dari al Quran)? Dia memberi sedikit lalu menahan sisanya” (An Najm: 33-34).

Makna “menahan sisanya” adalah “memutuskannya”. Maka ayat ini mengandung dorongan untuk tetap konsisten dalam beramal shalih dan celaan bagi orang yang beramal baik kemudian putus atau tidak konsisten”

@slah1971 Dr. Shalah Budair, imam dan khatib Masjid Nabawi Asy Syarif dan Hakim di mahkamah agung Madinah Nabawiyah

======================-

Allah membeli jiwa dan harta mu….!

Syaikh DR.Abdul Aziz Tharifi hafizhullah berkata :

“Wahai Al Mushlih…! Wahai orang yang melakukan perbaikan…! Allah ingin menjaga agama-Nya melalui dirimu, bukan menjaga duniamu dengan menggunakan agama-Nya. Karena itu jika hilang sesuatu dari duniamu di jalan agamamu, maka itu adalah konsekuensi dari perjanjianmu dengan Rabb-mu. Karena sungguh Allah telah membeli jiwamu…”

@AbdulazizTarifi Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA

======================
Lihat, apa yang engkau kerjakan. Sebelum melihat kerja orang lain.

Syaikh DR.Khalid Al-Mushlih hafizhullah berkata :

“Banyak diantara kita sering membicarakan niat dan maksud seseorang tentang apa yang mereka kerjakan. Tidak bisakah kita hanya memperhatikan niat dan tujuan kita masing-masing terhadap apa yang kita kerjakan sendiri.”

@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

======================

Jika tangan mu pendek

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhullah berkata :

“Jika tanganmu terlalu “pendek” untuk membalas kebaikan sahabatmu, maka “panjangkanlah lisanmu” dengan memperbanyak terima kasih dan mendo’akannya”

@almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA sekilas tentang beliau klik di sini.

======================

Sulit ingat, Senang lupa.

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhullah berkata :

“Tidaklah Salah jika hamba mendekati Rabb-nya ketika berbagai ujian menimpa. Tapi yang Salah adalah jika dia lalai dari Rabb-nya dan lalai dari beribadah kepada-Nya ketika ujian telah usai.”

@almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA

Tambahan dari saya -prima- :Maka dari itu mari kita perbanyak membaca doa sebelum salam dalam sholat dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam :

اللهم أعني على ذكرك , وسكرك , وحسن عبادتك

Allahumma a’inni ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatik

Artinya : “Ya Allah, berilah pertolongan kepada ku untuk selalu mengingat mu, bersyukur kepada Mu, dan memperbaiki ibadah ku untuk Mu.”

[Shahih : Riwayat Abu Dawud no 2/86 dan An-Nasa’i 3/53. Syaikh Al-Albani menshahihkan didalam Shahih Abu Dawud no 1/284. Lihat, Husnul Muslim Bab 24 no 59]

======================

Ayo Tambah Lagi….!

Syaikh DR.Khalid Al-Mushlih hafizhullah berkata :

“Segala kebaikanmu, keutamaan-keutamaan yang engkau kerjakan dan kewajiban-kewajiban yang engkau laksanakan, janganlah engkau pikirkan itu semua. Akan tetapi bergegaslah dan bersegeralah untuk menambahnya lagi dan bersegeralah untuk selalu berdzikir mengingat Allah Ta’ala.”

@Dr_almosleh (Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia)

======================

Tersenyumlah…!

Syaikh DR.Yusuf al-Subailiy hafizhullah berkata :

“Salah satu kata hikmah yang indah : “Jika Anda tidak mampu menatap ke depan karena masa depan yang kelam, tidak pula mampu memandang ke belakang karena masa lalu yang menyakitkan, maka lihatlah ke atas, niscaya akan Anda temukan Allah di hadapanmu, dan tersenyumlah…!”

@yalshubaily Dr Yusuf Al Syubailiy, Riyadh, pengajar fiqh di Ma’had ‘Ali (perguruan tinggi) Hukum, anggota Asosiasi Ahli Fiqh Syari’ah Amerika


ODIEKU KONSEP FALSAFAH JAWA

Falsafah Hidup Orang Jawa

Sebuah peradaban yang tinggi akan memiliki pengalaman yang luas tentang arti dan makna kehidupan. Salah satu yang paling menonjol dari pengalaman itu adalah terdapatnya kemampuan dalam olah kata. Lihat saja bangsa Yunani yang memiliki kemampuan dalam ilmu sastra dan filsafat. Mereka dalam urusan ini tak perlu diragukan lagi dan memang sudah terkenal di seantero dunia. Begitu pula dengan bangsa Arab, Persia, Romawi, India, China, Indian, dll.

Tapi, bangsa kita khususnya orang Jawa pun memiliki kemampuan dalam olah kata (filsafat) ini. Ia tersebar di dalam beberapa media, termasuk yang termaktub di dalam serat-serat sejarah dan melalui tradisi lisan. Ini terjadi dengan sebuah kesadaran yang tinggi, karena memang sudah menjadi falsafah bangsa ini selama berabad-abad. Mereka tidak kalah dengan bangsa-bangsa lainnya, bahkan menurut saya lebih hebat dari semua bangsa di dunia.

Untuk membuktikan hal tersebut, mari ikuti penelurusan berikut ini:

1. Tentang konsep ketuhanan (tauhid)
“Pangeran iku ora ono sing padho. Mulo ojo nggambar-ngambarake wujuding Pangeran”
artinya: Tuhan itu tak ada yang bisa menyamainya. Oleh sebab itu jangan menggambar-gambarkan wujud Tuhan.

“Pangeran iku dudu dewo utowo manungso, nanging sekabehing kang ono iku, uga dewa lan manungso asale soko Pangeran”
artinya: Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang ada ini, termasuk dewa dan manusia itu berasal dari Tuhan.

“Pangeran iku biso ngawohi kahanan opo wae tan keno kinoyo ngopo”
artinya: Tuhan itu bisa mengubah segalanya tanpa mungkin dapat diperkirakan manusia.

“Pengeran iku kuaso tonpo piranti, mulo soko kuwi ojo darbe pengiro yen manungso iku biso dadi wakiling Pangeran”
artinya: Tuhan itu berkuasa tanpa menggunakan alat pelengkap apa pun, oleh sebab itu jangan beranggapan manusia itu dapat mewakili Tuhan.

“Pangeran biso ngerusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan biso gawe kahanan anyar kang diperlokake”
artinya: Tuhan itu bisa merusak sesuatu yang tidak diperlukan, dan bisa menciptakan sesuatu yang baru yang diperlukan.

“Ora ono kesakten sing mandhi papesthen, awit papesthen iku wis ora ono sing biso murungake”
artinya: Tidak ada kesaktian yang bisa menyamai kepastian Tuhan, karena tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian Tuhan.

“Owah ono gingasring kahanan iku soko kersaning Pangeran Kang Murbahing Jagad”
artinya: Perubahan itu hanya atas kehendak Tuhan Yang Menguasai Jagad (alam semesta).

2. Tentang konsep Tuhan dan manusia
“Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe. Lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pangeran”
artinya: Mengakui adanya Tuhan berarti sudah mengenal dirinya sendiri. Jikalau belum mengetahui dirinya sendiri mustahil dapat mengenal Tuhan.

“Gusti iku sambatan naliko siro lagi nandhang kasengsaraan. Pujinen yen siro lagi nompo kanugerahing Gusti”
artinya: Sebutlah nama Tuhan jika engkau sedang menderita sengsara. Bersyukurlah pada-Nya jika engkau mendapat anugerah.

“Gusti iku dumunung ono jeneng siro pribadi, dene ketemune Gusti lamun siro tansah eling”
artinya: Tuhan itu ada dalam dirimu sendiri, dan pertemuan dengan-Nya akan terjadi jika engkau senantiasa ingat kepada-Nya.

“Ojo lali saben ari eling marang Pangeran niro. Jalaran sejatine siro ikuh tansah katunggon Pangeraniro”
artinya: Jangan lupa setiap hari untuk mengingat Tuhan. Sebab hakikatnya engkau selalu di jaga oleh Tuhanmu.

“Lamun ono jaman ora kepenak siro ojo lali nyuwun pangapuro marang Pangeran. Jalan Pangeraniro bakal aweh pitulungan”
artinya: Jikalau mengalami keadaan (zaman) yang tidak enak, jangan lupa memohon ampun kepada Tuhan. Karena Tuhan akan memberi pertolongan-Nya kepadamu.

“Sing sopo nyembah lelembut iku keliru. Jalaran lelembut iku sejatine rowangiro, lan ora perlu disembah koyo dene menembah marang Pangeran”
artinya: Menyembah makhluk halus itu keliru. Sebab makhuk halus itu sebenarnya adalah temanmu, dan tidak perlu di sembah seperti Tuhan.

“Sing sopo seneng ngerusak katentremaning liyan bakal di bendu dening Pangeran lan dielehake dening tumindake dhewe”
artinya: Barang siapa suka merusak ketenteraman orang lain akan mendapatkan murka Tuhan, dan akan di gugat karena ulahnya sendiri.

3. Tentang hakekat diri
“Lamun siro kepengin wikan marang alam jaman kelanggenan, siro kudu weruh alamiro pribadi. Lamun siro durung mikani alamiro pribadi adoh ketemune”
artinya: Jikalau engkau ingin mengetahui alam abadi, engkau harus lebih dulu mengenali alam pribadimu. Kalau engkau belum mengetahui alam pribadimu, masih jauhlah alam abadi itu dari dirimu.

“Lamun siro durung wikan kadangiro pribadi, cubo dulunen siro pribadi”
artinya: Jikalau engkau belum mengetahui alam pribadimu, maka tanyakanlah kepada yang mengetahuinya.

“Lamun siro wis mikani alamiro pribadi, alam jalan kalanggengan iku cedhak tanpo senggolan, adoh tanpo wangean”
artinya: Jikalau engkau telah mengetahui alam pribadimu, alam abadi akan menjadi dekat tanpa dengan menyentuhnya, jauh dari dirimu tanpa ada yang membatasinya.

“Lamun siro wis mikani alamiro pribadi, mara siro mulango marang wong kag durung wikan”
artinya: Jikalau engkau telah mengetahui alam pribadimu, hendaklah engkau mengajarkannya kepada yang belum mengetahui.

“Kadangiro pribadi ora bedo karo jeneng siro pribadi, gelem nyambut gawe”
artinya: Terkadang pribadimu itu tidaklah berbeda dengan dirimu sendiri, suka bekerja.

“Kahanan kang ono iki ora suwe. Mesthi ngalami owah gingsir. Mulo ojo lali marang sapadha-padning timitah”
artinya: Keadaan yang ada ini tak lama. Pasti mengalami perubahan. Oleh karena itu jangan melupakan sesama hidup.

“Rame ing gawe, sepi ing pamrih”
artinya: Selalu rajin bekerja dan tidak mengharapkan pamrih.

“Kudu angon wektu”
artinya: Harus pandai memperhatikan suasana.

4. Tentang konsep hidup
“Donya iki dalan iyo kudu diambah mesthine. Amanging dudu benere yen dirungkebana. Sing sopo ngambah dalan kudu sumurup kang ono ing ngarepa sanadyan diparanono mung bakal diliwati bae”
artinya: Dunia ini ibarat jalan yang harus ditempuh apa mestinya. Tapi bukan kebenaran yang dituju. Siapa bakal menempuh jalan harus tahu yang di depannya, meskipun akan didatangi, hanya di lewati saja.

“Urip iku ing donya tan lami. Umpamane jibeng menyang pasar tan langgeng neng pada wae, tan wurung nuli mantuk raring wismane sangkane uni. Ing mengko ojo samar sangkan paranipun ing mengko podho weruh yen asale sangkan paran duking nguni ojo nganti kesasar”
artinya: Hidup di dunia itu tidak lama. Ibarat orang pergi ke pasar tak abadi di pasar saja, kemudian juga pulang pada rumah asalnya itu. Nantinya jangan cemas asal mulanya tadi pada saatnya sama tahu kalau asal mula kehidupan tersebut jangan sampai tersesat.

“Sing sopo mung arep gawe seriking liyan, kuwi uga arep memahi ciloko”
artinya: Barang siapa yang membuat sakit hati orang lain, ia juga akan celaka.

“Sing sopo seneng udur, iku bakal keno bebendu dening Pangeran”
artinya: Barang siapa yang suka bertengkar, akan terkena amarah/hukuman Tuhan.

“Wani marang penggawe kang ora bener, kuwi kaholong titah kang orang becik tumindahke”
artinya: Berani menjalankan perbuatan yang tidak baik, itu tergolong makhluk yang tidak baik tabiatnya.

“Mungsuh sing wis nungkul ojo dipateni”
artinya: Musuh yang sudah menyerah jangan di bunuh.

5. Tentang konsep keluarga
“Sing sopo mung arep oleh wae nanging emoh kangelan, iku aran wong kesed. Iku kabeh ojo ditiru, jalran keluarwargo lan bongso uga rugi”
artinya: Barang siapa yang hanya ingin enaknya saja, tapi tidak suka bekerja keras, itu orang yang malas. Itu semua jangan ditiru, sebab keluarga dan bangsa juga rugi.

“Wong tuo kudu memulung kang prayogo marang putra wayah”
artinya: Orang tua harus mengajarkan yang baik dan pantas kepada anak cucunya.

“Anane keluwargo baek margo wong-wonge batik. Mulo ojo darbe pengiro lamun wong-wonge podho olo kaluwargane bisa batik”
artinya: Kaluarga akan baik jika anggota keluargnya baik. Oleh karena itu jangan berpikir bahwa keluarga akan menjadi baik jika anggotanya tidak baik.

“Sedulur iku apik lamun kabeh darbe panjangka amrih rahayu”
artinya: Saudara itu baik kalau semuanya mencita-citakan kebahagiaan.

“Wong tuo ora keno dadi mungsuhe anake”
artinya: orang tua tidak boleh menjadi musuh anaknya.

“Cedhak keluwargo kang becik, enajan ketularan becik”
artinya: Dekat dengan keluarga yang baik, tentu akan ketularan yang baik.

“Mikul dhuwur, mendem jero”
artinya: memikul tinggi, memendam dalam (nasehat agar anak bisa menjaga nama baik keluarga dan menutup rapat aib keluarga)

6. Tentang konsep bertetangga
“Tonggo iku podho karo bapak biyung”
artinya: Tentanggga itu sama dengan bapak dan ibu.

“Sing sopo ora seneng tetanggan kelebu wong kang ora becik”
artinya: Barang siapa yang tidak suka hidup bertetangga tergolong orang yang tidak baik.

“Tonggo kang ora becik atine ojo dicedhaki, nanging oo dimusuhi”
artinya: Tetangga yang tidak baik hatinya jangan di dekati, tetapi jangan pula di musuhi.

“Tonggo iku singkirono lamun darbe sipat kang kurang prayogo”
artinya: Jauhi tetangga yang mempunyai sifat tidak sepantasnya.

“Tetangga iku kadyo ulo umpamane, keno diingu nanging yo gelem nyokot”
artinya: Tetangga itu seumpama ular, bisa dipelihara tapi juga mau menggigit.

“Tonggo sing gelem tetulung iku titenono. Yen mangku arep iku bakal ketoro. Nanging yen sarana bebarengan urip bakal dadi konco selawase”
artinya: Perhatikan tetangga yang suka menolong. Kalau punya pamrih pasti lekas terlihat. Tetapi kalau hanya sebagai sarana hidup bersama, akan menjadi teman selamanya.

7. Tentang konsep menuntut ilmu
“Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkoro”
artinya: Ilmu itu terwujud dengan laku. Di mulai dengan kemauan. Kemauan membuat sentosa. Budi setia penghancur nafsu angkara.

“Sasmitaning ngaurip puniki yekti ewuh yen nora weruha. Tan jumeneng ing uripe. Sakeh kang ngaku-aku pangrasane pan wus utami, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu rasaning rasa punika. Upayanen darapon sampurneng dhiri ing kauripaniro”
artinya: Makna kehidupan itu sungguh sayang bila tak tahu. Tidak kokoh hidupnya. Banyak orang mengaku perasaaanya sudah utama, padahal belum tahu rasa, rasa yang sesungguhnya. Hakikat rasa itu adalah usahakan supaya diri sempurna dalam kehidupan.

“Yen siro nggeguru kaki amiliha manungsa kang nyoto. Ingkang becik martabate sarto kang weruh ing khukum. Kang ibadah lan kang wirangi sokur oleh wong topo. Iya kang wus mungkul tan mikir piwewehing liyan. Iku panyes yon den gurunono kaki sertane kawrihana”
artinya: Jika kamu berguru pilihlaj manusia nyata. Yang baik martabatnya serta tahu hukum. Yang beribadah dan sederhana syukur dapat bertapa. Yang sudah menanggalkan pamrih pemberian orang. Itu pantas kamu berguru serta ketahuilah.

“Lamun ono wong micoro ilmu, tan mufakat ing patang prekoro, ojo siro age-age. Anganggep nyatanipun saringono dipun bersih limbangen kang patang prekoro rumuhun dalili hadis lan ijmak lan kiyase papat iku salah siji adate kang mufakat”
artinya: Kalau ada orang yang bicara ilmu, tak setuju empat perkara, jangan cepat-cepat percaya padanya. Saringlah yang teliti, pertimbangkan empat hal perkara terdahulu, dalil hadits dan ijma` dan keempat Qiyas. Semua telah disepakati.

“Wong kang ahli sastra ingarane luhur sastrane. Layak yen mangsi lan kertas. Pantes yen luhur ngakal ning sastra suraosipun. Luhur sejatining sastra, sastra praboting negoro. Lumaku saben dino mang migar pradata hukum, sanadyan tan kanthi ngakal”
artinya: Orang yang ahli sastra disebut luhur sastranya. Tepat jika tinta dan kerta. Patas jika luhur akalnya pada satra maknanya. Luhur sejatinya sastra, sastra sarana negara. Berjalan tiap hari serta wujud perdata hukum, meskipun tiada dengan akal.

8. Tentang konsep kepemimpinan dan bernegara
“Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”
artinya: Seorang pemimpin itu harus bisa berada di depan sebagai suri tauladan, harus bisa berada di tengah untuk senantiasa membaur dengan rakyatnya dan sebagai pengayom, dan harus bisa berada di belakang sebagai motivator demi kemajuan yang dipimpinnya.

“Lamun ono penguasane asale soko wong olo, iku ora luwes bakal konangan alane. Sebab kabeh mau wis kewoco soko tumindhake panguasa mau”
artinya: Jikalau ada penguasa yang tidak berasal dari orang yang baik, tiada lama pastinya akan ketahuan jeleknya. Sebab akan tampak dari tindakan si penguasa itu.

“Janma iku tan keno kiniro kinoyo ngopo. Mula ojo siro seneng ngaku lan rumongso pinter dhewe”
artinya: Manusia walau bagaimanapun tidak bisa diterka. Oleh karena itu janganlah engkau suka mengaku dan merasa paling pandai.

“Ratu iku durung mesthi kepenak uripe, lamun ora biso ngaweruhi kawulane”
artinya: Penguasa itu belum tentu enak hidupnya, bila tak mengetahui aspirasi rakyatnya.

“Ratu kang mung seneng uripe margo akeh bandane, ing tembe matine orang kajen. Mulo dadi rata ojo sawiyah-wiyah marang kawulane”
artinya: Penguasa yang enak hidupnya hanya karena banyak harta benda kelak matinya tak akan terhormat. Oleh sebab itu jangan kejam dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

“Ratu kang murang sarak iku ojo diajeni, jalaran ratu kang koyo mengkono iku gawe rusaking negoro”
artinya: Penguasa yang kejam dan serakah jangan dihormati, sebab penguasa yang seperti itu akan merusak negara.

“Ratu iku kudu gawe tentrem poro kawulane, mergo yen ora mengkono biso dadi kawulane ngrebut negoro”
artinya: Penguasa itu harus bisa membuat tenteram rakyanya, karena jika tidak rakyatnya akan merebut kekuasaan dalam negara itu.

“Pathokaning negoro iku dumunung ono angger-anggering negoro”
artinya: Tiang sebuah negara itu terletak pada undang-undang negara.

“Dhasaring negoro iku ono limo, kapisan paserah anane negara iki marang kang Murbeng Dumadhi. Kapindo percoyo marang anane manungso iku soko kang Murbeng Dumadhi. Kaping telu ojo siro ngilwatake bongso niro pribadi. Kaping papat siro ojo mung kepingin menang dhewe, mulo perlu rerembungan amrih becike. Kaping limo kewajiban aweh sandhang kalawan pangan lan uga njogo katentraman lehir kalawan batin”
artinya: Dasar sebuat negara itu adal lima. Pertama, pasrah adanya negara kepada Tuhan. Kedua, percaya bahwa manusia itu adanya dari Tuhan. Ketiga, jangan mengabaikan bangsamu sendiri. Keempat, engkau jangan ingin menang sendiri, karena itu harus suka bermusyawarah bagaimana baiknya. Kelima, berkewajiban memberi sandang dan papan serta ketenteraman lahir batin.

“Bongso iku minangka sarana kuwating negoro. Mulo ojo ngiwarake kebangsaniro pribadi. Supoyo kenugerhan bongso kang handana warih”
artinya: Bangsa itu sebagai sarana kuatnya negara. Oleh karena itu janganlah mengabaikan rasa kebangsaanmu sendiri, agar memiliki bangsa yang berjiwa kesatria.

“Para muda ojo ngungkurake kawruh kang nyoto, amrih karya ungguling bongso lan biso gawe rahayuning sesama”
artinya: Para pemuda jangan mengabaikan ilmu pengetahuan yang nyata, agar negaranya menjadi makmur
dan dapat membuat keselamatan sesamanya.

*****


1. Sistem penanggalan musim, bukti kepandaian ilmu astronomi
Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran.

Dalam masyarakat Jawa dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit. Menurut Daldjoeni di bukunya “Penanggalan Pertanian Jawa Pranata Mangsa”, Pranoto Mongso tergolong penemuan brilian. Kompleksitasnya tak kalah bobot dari sistem penanggalan yang ditemukan bangsa Mesir Kuno, China, Maya, dan Burma. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan model Farming Almanac ala Amerika, Pranata Mangsa jauh lebih maju.

Gambar 1: Pranoto mongso (kalender musim)

Meskipun teknologi sudah semakin canggih seperti sekarang ini, penerapan perhitungan pranata mangsa masih relevan. Hal itu dikarenakan nenek moyang kita dulu mempelajari gejala-gejala alam seperti musim hujan/kemarau, musim tanaman berbunga/berbuah, posisi rasi bintang, pengaruh bulan purnama, dan sebagainya. Dengan mempelajari gejala-gejala alam tersebut nenek moyang kita dapat lebih menghargai kelestarian alam.

2. Teknologi terbaik dalam menempa logam, tidak ada bandingannya di dunia
Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di nusantara. Para empu sudah mengenal berbagai kualitas kekerasan logam. Keris memiliki teknologi penempaan besi yang luar biasa untuk ukuran masyarakat di masa lampau.

Gambar 2. Foto: Keris Nogo Sosro Sabuk Inten

Keris dibuat dengan teknik penempaan, bukan di cor. Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan-bahan besi masih komposit dengan materi-materi alam lainnya. Keris yang mulanya dari lembaran besi yang dilipat-lipat hingga kadang sampai ribuan kali lipatan sepertinya akan tetap senilai dengan prosesnya yang unik, menarik dan sulit. Perkembangan teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji = berharga).

Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium sebagai bahan keris, juga merupakan penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan. Titanium lebih dikenal sebagai bahan terbaik untuk membuat keris karena sifatnya ringan namun sangat kuat. Kesulitan dalam membuat keris dari bahan titanium adalah titik leburnya yang mencapai ±1.600 derajat celcius, jauh dari titik lebur besi, baja atau nikel yang berkisar ±1.100 derajat celcius.

Titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat. Unsur logam titanium baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi. Dalam peradaban modern sekarang, titanium dimanfaatkan orang untuk membuat pelapis hidung pesawat angkasa luar, serta ujung roket dan peluru kendali antar benua.

Sebenarnya masih banyak lagi teknologi-teknologi yang digunakan oleh nenek moyang kita yang tidak dituliskan disini. Seperti dalam teknologi perkapalan, pembangunan gedung (candi), dan berkesenian.

*****

Sungguh, dengan memahami setiap makna dari falsafah di atas, maka terlihat jelas bahwa orang Jawa memiliki kemampuan budaya yang sangat tinggi. Dan ini baru segelintirnya saja, karena masih banyak lagi yang lain namun tidak bisa disampaikan disini. Sehingga tidak salah bila dikatakan melebihi peradaban bangsa-bangsa lain di dunia.

Sebuah kebanggaan yang tak terkira, karena leluhur kita telah mewariskan sesuatu yang sangat berharga. Tapi, sangat disayangkan bahwa saat ini banyak dari kita – termasuk orang Jawa – yang sudah tidak lagi memahami falsafah ini. Bahkan tinggal sedikit saja yang masih mengenal dan mau mengenalinya. Sehingga tidak usah heran bila keadaan negara ini pun terkena dampak buruknya. Makin lama maka kian carut marut saja tatanan kehidupannya, karena para pemimpinnya sendiri – khususnya orang Jawa – sudah tidak mau lagi menjadikan falsafah Jawa ini sebagai pedoman hidup. Sehingga yang tertinggal hanyalah “Akeh wong jowo, ning ora jowo: Banyak orang Jawa, tapi tidak jowo (benar)“

Semoga dengan adanya tulisan ini semakin menyadarkan kehidupan kita, bahwa di dalam diri kita ini – khususnya warisan leluhur – telah memiliki kemampuan yang besar dan tidak akan kalah dengan bangsa lainnya di dunia. Agar kian bertambah cinta pada warisan leluhur dan terus percaya diri demi kemajuan negara.




Okeh Mashudi Oentoro

KAHLIL GIBRAN PETIKAN SANG NABI

CINTA SANG NABI - KAHLIL GIBRAN -

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kautempuh keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia berbicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang memporakporandakan petamanan.

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu
Menumbuhkan dan memangkasmu
Mengangkatmu naik, membela ujung-ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke matahari

Tapi cinta juga akan mencengkeram, menggoyang akar-akarmu hingga tercerabut dari bumi
Bagai seikat gandum ia satukan dirimu dengan dirinya
Menebahmu hingga telanjang
Menggerusmu agar kau terbebas dari kulit luarmu
Menggilasmu untuk memutihkan
Melumatmu hingga kau menjadi liat
Kemudian ia membawamu ke dalam api sucinya, hingga engkau menjadi roti suci perjamuan kudus bagi Tuhan.
Semuanya dilakukan cinta untukmu hingga kau mengetahui rahasia hatimu sendiri, dan dalam pengetahuan itu kau akan menjadi bagian hati kehidupan.

Jangan biarkan rasa takut bersarang, agar kau tak hanya menjadikan cinta tempat mencari senang.
Karena akan lebih baik bagimu untuk segera menutupi ketelanjangan dan berlalu dari lantai penebahan cinta,
Menuju dunia tanpa musim dimana engkau akan puas tertawa, gelak yang bukan tawamu, dan engkau akan menangis, air mata yang bukan tangismu.

Cinta tidak memberi apapun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apapun selain cinta itu sendiri,
Ia tidak memiliki dan tidak dimiliki
Karena cinta hanya untuk cinta

Ketika engkau mencinta jangan katakan, “Tuhan ada dalam hatiku”; tapi katakan, “Aku ada di hati Tuhan”
Dan jangan berpikir engkau dapat memilih jalan sendiri karena cintalah, jika ia berkenan, yang akan mengarahkan jalanmu.

Cinta tidak pernah berhasrat selain pemenuhan dirinya
Namun jika engkau mencinta dan harus memiliki hasrat, biarlah ini yang menjadi hasratmu :
Melebur diri dan menjadi anak sungai yang mengalir melantunkan nyanyian ke peraduan malam
Mengetahui sakitnya rasa kelembutan
Terluka oleh pemahamanmu sendiri tentang cinta;
Berdarah dengan ikhlas penuh suka cita
Terbangun di saat fajar dengan hati bersayap dan menghaturkan puji syukur untuk hari-hari yang penuh cinta;
Beristirahat di terik siang dan merenungkan puncak-puncak cinta
Pulang di petang hari dengan syukur sepenuh hati

CINTA SEJATI

"Cinta tidak pernah berhasrat selain pemenuhan dirinya
Namun jika engkau mencinta dan harus memiliki hasrat, biarlah ini yang menjadi hasratmu :
Melebur diri dan menjadi anak sungai yang mengalir melantunkan nyanyian ke peraduan malam
Mengetahui sakitnya rasa kelembutan
Terluka oleh pemahamanmu sendiri tentang cinta;
Berdarah dengan ikhlas penuh suka cita
Terbangun di saat fajar dengan hati bersayap dan menghaturkan puji syukur untuk hari-hari yang penuh cinta;
Beristirahat di terik siang dan merenungkan puncak-puncak cinta
Pulang di petang hari dengan syukur sepenuh hati"

KAHLIL GIBRAN SYAIR THE PROPHET

Puisi Dari Petikan Sang Nabi (The Prophet) Khalil Gibran
PERENGGAN 12
Seorang ahli hukum menyusul bertanya;
Dan bagaimana tentang undang-undang kita?

Dijawabnya;
Kalian senang meletakkan perundangan,
namun lebih senang lagi melakukan perlanggaran,

Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai,
yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara,
kemudian menghancurkannya sendiri,
sambil gelak tertawa ria.

Tapi,
selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu,
sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,

Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,
sang laut pun turut tertawa bersamamu.

Sesungguhnya,
samudera sentiasa ikut tertawa,
bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka,
yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudera,
dan melihat undang-undang buatannya sendiri,
bukan ibarat menara pasir?

Merekalah yang memandang kehidupan,
laksana sebungkal batu karang,
dan undang-undang menjadi pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
menurut selera manusia,
sesuai hasrat kemahuan.

Bagaimana dia,
si tempang yang membenci para penari?

Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,
dam mencemuh kijang,
menamakannya haiwan liar tiada guna?

Lalu betapa ular tua,
yang tak dapat lagi menukar kulitnya,
dan kerana itu menyebut ular lain sebagai telanjang,
tak kenal susila?

Ada lagi dia,
yang pagi- pagi mendatangi pesta,
suatu keramaian perkahwinan,
kemudian setelah kenyang perutnya,
dengan badan keletihan,
meninggalkan keramaian dengan umpatan,
menyatakan semua pesta sebagai suatu kesalahan,
dan semua terlibat melakukan kesalahan belaka.

Apalah yang kukatakan tentang mereka,
kecuali bahawa memang mereka berdiri di bawah sinar mentari,
namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?

Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.

Apakah erti sang suria bagi mereka,
selain sebuah pelempar bayangan?

Dan apakah kepatuhan hukum baginya,
selain terbongkok dan melata di atas tanah,
mencari dan menyelusuri bayangan sendiri?

Tapi kau,
yang berjalan menghadapkan wajah ke arah mentari,
bayangan apa di atas tanah,
yang dapat menahanmu?

Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu,
hukum mana yang mengikatmu,
bila kau patahkan pikulanmu,
tanpa memukulnya pada pintu penjara orang lain?

Hukum apa yang kau takuti,
jikalau kau menari-nari,
tanpa kakimu tersadung belenggu orang lain?

Dan siapakah dia yang menuntutmu,
bila kau mencampakkan pakaianmu,
tanpa melemparkannya di jalan orang lain?

Rakyat Orphalese,
kalian mungkin mampu memukul gendang,
dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
namun katakan,
siapakah yang dapat menghalangi,
burung pipit untuk menyanyi.

PERENGGAN 13
Seorang ahli pidato maju ke depan;
bertanyakan masalah kebebasan.

Dia mendapat jawapan;
Telah kusaksikan,
di gerbang kota maupun dekat tungku perapian,
dikau bertekuk lutut memuja Sang Kebebasan.

Laksana hamba budak merendahkan diri di depan sang tuan,
si zalim yang disanjung puja,
walaupun dia hendak menikam.

Ya, sampai pun di relung-relung candi,
dan keteduhan pusat kota,
kulihat yang paling bebas pun diantara kalian,
mengendong kebebasannya laksana pikulan,
mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.

Hatiku menitikkan darah dalam dada,
kerana kutahu,
bahawa kau hanya dapat bebas sepenuhnya,
pabila kau dapat menyedari;
bahawa keinginan untuk kebebasan pun,
merupakan sebentuk belenggu jiwamu.

Hanya jikalau kau pada akhirnya,
berhenti bicara tentang Kebebasan,
sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil perbincangan,
maka kau akan bebas,
bila hari-hari tiada kosong dari beban fikiran,
dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan kesedihan.

Bahkan justeru Kebebasanmu berada dalam rangkuman beban hidup ini,
tetapi yang berhasil engkau atasi,
dan jaya kau tegak menjulang tinggi,
sempurna, terlepas segala tali-temali.

Dan bagaimana kau kan bangkit,
mengatasi hari dan malammu,
pabila kau tak mematahkan belenggu ikatan,
yang di pagi pengalamanmu,
telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu?

Sesungguhnyalah,
apa yang kau namai Kebebasan,
tak lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,
walau kilaunya gemerlap cemerlang di sinar suria,
serta menyilaukan pandang matamu.

Dan sedarkah engkau,
apa yang akan kau lepaskan itu?
tiada lain adalah cebisan dari dirimu,
jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu.

Pabila yang akan kau buang itu,
suatu hukum yang tak adil,
akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,
serta kau pahatkan diatas permukaan keningmu.

Mustahil kau akan menghapusnya,
dengan hanya membakar kitab-kitab hukummu,
tak mungkin pula dengan cara membasuh kening para hakimmu,
walau air seluruh lautan kaucurahkan untuk itu.

Pabila seorang zalim yang hendak kau tumbangkan,
usahakanlah dahulu,
agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di hatimu,
kau cabut akarnya sebelum itu.

Sebab bagaimanakah seorang zalim,
dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,
jika bukan engkau sendiri membiarkannya,
menodai kebebasan yang kaujunjung tinggi,
mencorengkan arang pada harkat martabat kemanusiaanmu peribadi?

Pabila suatu beban kesusahan yang hendak kautanggalkan,
maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi pilihanmu,
bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.

Bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan,
maka perasaan ngeri itu bersarang di hatimu,
bukannya berada pada dia yang kau takuti.

Sebenarnyalah, segalanya itu bergetar dalam diri,
dalam rangkulan setengah terkatup, yang abadi;
antara;
yang kauinginkan dan yang kau takuti,
yang memuakkan dan yang kausanjung puji,
yang kaukejar-kejar dan yang hendak kau tinggal pergi.

Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,
bagaikan Sinar dan Bayangan,
dalam pasangan-pasangan,
yang lestari berpelukan.

Dan pabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang,
maka sinar yang tinggal, wujudlah bayangan baru,
bagi sinar yang lain;
demikianlah selalu.

Seperti itulah pekerti Kebebasan,
pabila ia kehilangan pengikatnya yang lama,
maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,
bagi Kebebasan yang lebih agung,
sentiasa.

~ Kahlil Gibran ~

Sabtu, 14 Januari 2017

JALAN CINTA SANG KYAI

JALAN CINTA SANG KYAI

“Apakah yang dapat mengantarkan seseorang kepada tujuan? Tiada lain adalah cinta. Jika bukan karena cinta, ia tak akan menempuh jalan, dan ia tak akan pernah sampai pada tujuan. Puncak tujuan adalah Allah, maka untuk sampai pada wajah-Nya, kita harus menempuh jalan cinta. Itulah jalan para kekasih Allah, wali Allah. Dalam cinta hanya ada keindahan. Meskipun sulit jalan yang harus ditempuh, keindahan tetaplah indah pada dirinya sendiri. Itulah jalan sunyi, Dur. Jalan para wali.” (Nasihat Kyai Chudlori kepada Gus Dur dalam novel PECI MIRING).

Kyai Chudlori adalah salah satu guru utama yang menempa jiwa Gus Dur pada masa awal pertumbuhannya. Beliau adalah pengasuh Pesantren Tegalrejo, Magelang, sahabat Kyai Hasyim Asy’ari. Melalui Kyai Chudlori, Gus Dur belajar banyak tentang kearifan budaya Jawa. Pernah suatu hari datang rombongan dari sebuah kampung yang sowan ke Kyai Chudlori. Mereka bersengketa tentang penggunaan dana desa. Satu kelompok ingin memanfaatkan dana desa untuk membeli gamelan, satunya lagi bersikukuh untuk membangun masjid desa. Jawaban Kyai Chudlori mengagetkan Gus Dur saat itu: “Sebaiknya dana yang terkumpul itu dipergunakan untuk membeli gamelan. Nanti kalau gamelannya sudah ada, kelak masjidnya akan jadi dengan sendirinya.”

“Novel ini mengisahkan banyak hal yang jarang diketahui orang tentang kehidupan Gus Dur sebelum beliau dikenal sebagai guru bangsa.”
—KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Sabtu, 07 Januari 2017

Syair jawa Gus Dur

Ngawiti ingsung nglaras syi’iran

Kelawan muji marang Pangeran

Kang paring rahmat lan kenikmatan

Rina wengine tanpa pitungan.

Duh bala kanca, pria wanita

Aja ming ngaji syari’at blaka

Gur pinter ndongeng, nulis lan maca

Tembeh mburine bakal sangsara

Akeh kang hafal Qur’an Haditse

Seneng ngafirke marang liyane

Kafire dewe dak digatekke

Yen isih kotor ati, akale.

Gampang kabujuk nafsu angkara

Ing pepaese gebyare ndunya

Iri lan meri sugihe tangga

Mula atine peteng lan nista.

Ayo sedulur ja nglaleake

Wajibe ngaji sapranatane

‘Nggo ngandelake iman tauhide

Baguse sangu mulya matine.

Kang aran shaleh bagus atine

Karana mapan sari ‘ngelmune

Laku thariqat lan ma’rifate

Uga hakiqat manjing rasane.

Al-Qur’an Qadim wahyu minulya

Tanpa tinulis bisa diwaca

Iku wejangan guru waskita

Den tancepake ing jero dada.

Kumantil ati lan fikiran

Mrasuk ing badan kabeh jeroan

Mu’jizat rasul dadi pedoman

Minangka dalan manjinge iman.

Kelawan Allah Kang Maha Suci

Kudu rangkulan rina lan wengi

Ditirakati diriyadhai

Dzikir lan suluk ‘ja nganti lali.

Uripe ayem rumangsa aman

Dununge rasa tanda yen iman

Sabar narima najan pas-pasan

Kabeh tinaqdir saking Pangeran.

Kelawan kanca, dulur lan tangga

Kang pada rukun aja gawe sia

Iku sunnahe rasul kang mulya

Nabi Muhammad panutan kita.

Ayo nglakoni sekabehane

Allah kang bakal ngangkat drajate

Senajan asor tata zhohire

Ananging mulya maqom drajate.

Lamun palastro ing pungkasane

Ora kesasar roh lan sukmane

Den gadang Allah suarga manggone

Utuh mayite uga ulese.

Syair Al Rumi

SYAIR CINTA KARYA JALALUDIN RUMI

I.

Cinta mengubah kepahitan menjadi manis

tanah dan tembaga menjadi emas

yang keruh menjadi jernih

si pesakitan menjadi sembuh

penjara menjadi taman

derita menjadi nikmat

kekerasan menjadi kasih sayang

II.

Cintalah yang telah melunakkan besi

mencairkan batu

membangkitkan yang mati

meniupkan kehidupan pada jasad tak bernyawa

mengangkat hamba menjadi sang majikan

.

III.

Cinta bagaikan sayap

dengannya manusia terbang di angkasa

menggerakkan ikan menuju jala sang nelayan

menghantar si kaya meraih bintang di langit ketujuh

Cinta berjalan di gunung

maka gunungpun bergoyang menari

IV.

Cinta itu kekayaan sejati

takkan bersatu dengannya

singgasana raja dan sultan

siapa yang telah mencicipi

takkan ada lagi anggur yang melebihi

Cinta adalah raja diraja

kekuasaan rajapun bersujud di hadapannya

sultan dan khalifah menjadi budaknya

V.

Cinta bagaikan penyakit tanpa obat

setiap penderita meminta ditambahkan penderitaannya

dengan suka cita mereka berharap

kepedihan dan derita dilipatgandakan

Takkan ada minuman di dunia

yang manisnya melebihi racun ini

Takkan ada lagi kesehatan di dunia

yang lebih baik dari penyakit ini

Cinta memanglah penyakit

tetapi, penyakit yang menyembuhkan semua penyakit

siapa saja yang pernah mengidapnya

takkan pernah lagi menderita penyakit lain

VI.

Cinta adalah warisan Sang Adam

sedangkan kecerdikan itu barang dagangan syetan

tempat si cerdik dan bijaksana bersandar pada jiwa dan akalnya

Cinta berarti penyerahan dri

karena akal bagaikan seorang perenang

yang terkadang sampai ke tepian

sering juga tenggelam di tengah jalan

Tak sebanding dengan Cinta ini

ibarat bahtera Nuh yang terselamatkan

VII.

Tidak setiap kita berhak dicintai

karena syarat dicintai adalah akhlak dan keutamaan

namun ambil bagianmu sebagai pecinta dan nikmatillah

Jika dirimu tidak menjadi yang dicintai

maka jadilah yang mencintai

Jika dirimu tidak beruntung menjadi Yusuf

tak ada halangan bagimu menjadi Ya’kub

Siapakah penghalang bagimu untuk mecintai…