Tahap tahap memperkenalkan islam. Kita musti bersyukur karna kita d lahirkan dikalangan keluarga muslim. Sehingga Orang tua kita mengenalkan kita kepada Allah dan beriman kepada Al. Qur'an serta percaya kepada hari Akhir..... Saat kita tumbuh menjadi bhaliq kita mulai berguru kepada ustad untuk belajar membaca Al Qur'an serta hukum hukum Islam serta hadistnya. Dan saat kita mulai dewasa. Kita mulai mencari mursyid. Untuk pendamping kita di saat kita sudah mulai belajar.....toreqhot.....haqeqhot ...Lalu berguru kepada Semesta Alam Raya.agar dapat mahabah dan ma'rifat. Kepada Allah. Bagaimana bisa kita melupakan jasa orang orang yg telah berperan sebagai pembimbing kita. Jika kita sebagai orang orang yg gemar mencari RidhoNYA. Dan berangkat dari sinilah... kita semestinya belajar mendengar bahwa hidayah....dan peringatan Allah Dapat turun melalui Siapa Saja ataupun Alam Dunia sesuai kehendakNYA. Belajar menghormati sesama manusia Wajib. Tapi menggunjing orang yg sudah membantu menyebarkan Ajaran Ajaran Islam Dan Sejarah kebudayaan......??? ( bagai anak yg durhaka ) Nb: Di dalam kitab tafsir Ruhul Bayan disebutkan bahwa iman menurut syari’at adalah meyakini dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengerjakan dengan amal perbuatan. Adapun pengertian Islam menurut syari’at adalah tunduk dan patuh. Maka setiap yang beriman berarti telah Islam, namun tidak setiap yang Islam berarti telah beriman. Adapun pengertian Islam menurut hakikat yaitu sebagaimana sabda Nabi SAW: ْﻥَﺍ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍَﻥْ ﺗَﺸْﻬَﺪُ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ Menyaksikan tiada Tuhan selain Allah, sedangkan pengertian iman secara hakikat adalah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 16 : ْﻢَﻟَﺃ ﻟِﻠَّﺬِﻳْﻦَ ﺃَﻣَﻨُﻮﺍْ ﻳَﺄْﻥِ ﻟِﺬِﻛْﺮِﺍﻟﻠﻪِ ﻗُﻠُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﺗَﺨْﺸَﻊَ ﺍَﻥْ Belumlah seseorang itu dikatakan beriman sebelum hatinya itu dapat khusyuk mengingat Allah. Dari pengertian iman secara syari’at dan hakikat ini, imam Ghazali membagi iman manusia kepada tiga tingkatan: Iman tingkat pertama adalah imannya orang-orang awam yaitu imannya kebanyakan orang yang tidak berilmu. Mereka beriman karena taklid semata. Sebagai perumpamaan iman tingkat pertama ini, kalau kamu diberi tahu oleh orang yang sudah kamu uji kebenarannya dan kamu mengenal dia belum pernah berdusta serta kamu tidak merasa ragu atas ucapannya, maka hatimu akan puas dan tenang dengan berita orang tadi dengan semata-mata hanya mendengar saja. Ini adalah perumpamaan imannya orang-orang awam yang taklid. Mereka beriman setelah mendengar dari ibu bapak dan guru-guru mereka tentang adanya Allah dan Rasul-Nya dan kebenaran para Rasul itu beserta apa-apa yang dibawanya. Dan seperti apa yang mereka dengar itu, mereka menerimanya serta tidak terlintas di hati mereka adanya kesalahan-kesalahan dari apa yang dikatakan oleh orang tua dan guru-guru mereka, mereka merasa tenang dengannya, karena mereka berbaik sangka kepada bapak, ibu dan guru-guru mereka, sebab orang tua tidak mungkin mengajarkan yang slah kepada anak-anaknya, guru juga tidak mungkin mengajarkan yang salah kepada murid-muridnya. Karena kita percaya kepada orang tua dan kepada guru, maka kita pun beragama Islam. Iman yang semacam ini tidak jauh berbeda dengan imannya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang juga merasa tenang dengan hal-hal yang mereka dengar dari ibu, bapak dan guru-guru mereka. Bedanya adalah mereka memperoleh ajaran yang salah dari orang tua dan guru-guru mereka, sedangkan orang-orang Islam mempercayai kebenaran itu bukan karena melihat kebenaran karena penyaksiannya terhadap Allah, tetapi karena mereka telah diberikan ajaran yang haq, yang benar. Selanjutnya iman tingkat kedua yaitu imannya orang-orang ahli Ilmu Kalam yaitu dimana mereka beriman cukup berdasarkan dalil aqli dan naqli, dan mereka merasa puas dengan itu. Iman tingkat kedua ini tidak jauh berbeda derajatnya dengan iman tingkat pertama. Sebagai contoh, apabila ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Zaid itu di rumah, kemudian kamu mendengar suaranya, maka bertambahlah keyakinanmu, karena suara itu menunjukkan adanya Zaid di rumah tersebut. Lalu hatinya menetapkan bahwa suara orang tersebut adalah suara si Zaid. Iman pada tingkat ini adalah iman yang bercampur baur dengan dalil dan kesalahan pun juga mungkin terjadi karena mungkin saja ada yang berusaha menirukan suara tadi, tetapi yang mendengarkan tadi merasa yakin dengan apa yang telah di dengarnya, karena ia tidak berprasangka buruk sama sekali dan ia tidak menduga ada maksud penipuan dan peniruan. Jadi imannya orang-orang ahli ilmu kalam masih terdapat kesalahan dan kekeliruan padanya. Adapun Iman tingkat ketiga yaitu imannya orang-orang ahli makrifat yang telah mempelajari tarekat. Mereka beriman kepada Allah dengan pembuktian melalui penyaksian kepada Allah. Sebagai perumpamaan: Apabila kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu akan melihat dan menyaksikan Zaid itu dengan pandangan mata kamu. Inilah makrifat yang sebenarnya dan inilah yang dikatakan iman yang sebenarnya. Karena mereka beriman dengan pembuktian melalui penyaksian mata hatinya, maka mustahil mereka terperosok ke jurang kesalahan. Dari ketiga tingkatan iman ini dapatlah kita ketahui bahwa hanya orang-orang ahli makrifatlah atau orang-orang ahli tarekatlah yang dikatakan benar-benar telah beriman kepada Allah. Adapun imannya orang-orang awam dan imannya orang-orang ahli ilmu kalam adalah beriman secara syari’at, namun secara hakikat mereka belum beriman kepada Allah, disebabkan karena ketiadaan ilmu dan ketidaktahuan mereka. Jadi hanya dengan mempelajari tarekatlah kita baru dapat lepas dari syirik khafi (syirik yang tersembunyi) dan syirik yang jali (syirik yang nyata). Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena kita tergolong kepada tingkatan iman yang ketiga yaitu imannya orang-orang ahli makrifat yang tentunya peringkat ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang telah mempelajari ilmu tarekat. Karena tanpa bertarekat mustahil Allah dapat dikenal. Namun mayoritas umat Islam saat ini tidak mau mempelajari ilmu tarekat atau ilmu hati, sehingga mereka tidak mengenal Tuhan yang mereka sembah dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 22 : ٌﻞْﻳَﻮَﻓ ﻟِﻠْﻘَﺴْﻴَﺔِ ﻣُّﺒِﻴْﻦِ ﺿَﻠَﻞٍ ﺃُﻟَﺌِﻚَ ﻓِﻰ ﺫِﻛْﺮِﺍﻟﻠﻪِ ﻗُﻠُﻮْﺑُﻬُﻢْ ﻣِﻦْ Artinya : Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat mengingat-Nya, yang kesemuanya itu disebabkan karena mereka tidak mempelajari soal hati. Namun kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu. Mereka menganggap bahwa amal ibadah mereka dapat diterima oleh Allah SWT, karena merasa bahwa tauhid mereka telah sempurna, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Tentu bagi kita yang telah memperoleh ilmu dan pengenalan kepada Allah, kita memiliki kewajiban untuk berdakwah dalam rangka melepaskan umat manusia dari kesesatan karena tidak mengenal Allah, dan di dalam melakukan dakwah tentunya harus dilaksanakan dengan arif dan bijaksana, sebagaimana firman Allah ُﻉْﺩُﺃ ﺑِﻻْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺳَﺒِﻴْﻞِ ﺍِﻟَﻰ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔ Artinya : Serulah kepada Tuhanmu dengan bijaksana dan nasehat yang baik. Dakwah bil hikmah adalah dakwah yang ditujukan kepada orang yang alim atau orang yang berilmu. Adapun dakwah dengan mauizatil hasanah adalah dakwah yang ditujukan kepada orang yang awam atau orang yang bodoh dengan cara memberikan nasehat yang baik. Ada dua jenis orang bodoh yang harus kita ketahui sebagai sasaran dakwah kita. Jenis pertama adalah orang bodoh yang mau belajar, maka tunjukilah ia, karena dia memang jauh dari panduan dan petunjuk sedang niatnya penuh untuk menambah ilmu pengetahuan dan taat melakukan ibadah. Jenis yang kedua adalah orang bodoh yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu dan tidak mau tahu. Maka janganlah dekati dia dan jangan membuang-buang waktu untuk mendakwahinya karena orang bodoh jenis kedua ini adalah syetan yang berwujud manusia. Pintarnya tidak dapat diturutkan, bodohnya tidak dapat ditunjukkan, ia lebih bodoh dari keledai, lebih bebal dari lembu. Tinggalkanlah ia dalam kebodohannya, sampai nanti Allah merobahnya. Kalau menghadapi orang bodoh saja sudah sulit, tentu lebih sulit lagi berdakwah kepada orang yang berilmu dikarenakan kesombongan yang ada pada dirinya karena telah merasa banyak memiliki ilmu. Orang alim seperti ini disebut alim tanggung, ilmunya ke atas tak sampai, ke bawah tak jejak, yang selalu berebut pengaruh di masyarakat dan berdakwah di sana-sini. Mereka bagaikan cendawan yang tumbuh menonjol di sana-sini sambil membusungkan dada dengan banyaknya ilmu yang tak bersari. Sungguh sedih dan kasihan kita melihat orang yang seperti ini. Disangka emas rupanya mentasi. Maka ajaklah mereka ini untuk mengenal Allah dengan cara yang bijaksana karena mereka terhijab oleh ilmu yang mereka miliki.
Sabtu, 29 Juni 2013
Kamis, 27 Juni 2013
Memahami Cinta
Minggu, 23 Juni 2013
Kahlil Gibran : Pikiran dan Samadi
Hidup menjemput dan melantunkan kita dari satu tempat ke tempat yang lain; Nasib memindahkan kita dari satu tahap ke tahap yang lain. Dan kita yang diburu oleh keduanya, hanya mendengar suara yang mengerikan, dan hanya melihat susuk yang menghalangi dan merintangi jalan kita. Keindahan menghadirkan dirinya dengan duduk di atas singgasana keagungan; tapi kami mendekatinya atas dorongan Nafsu ; merenggut mahkota kesuciannya, dan mengotori busananya dengan tindak laku durhaka. Cinta lalu di depan kita, berjubahkan kelembutan ; tapi kita lari ketakutan, atau bersembunyi dalam kegelapan, atau ada pula yang malahan mengikutinya, untuk berbuat kejahatan atas namanya.
Meskipun orang yang paling bijaksana terbongkok karena memikul beban Cinta, tapi sebenarnya beban itu seiringan bayu pawana Lebanon yang berpuput riang. Kebebasan mengundang kita pada mejanya agar kita menikmati makanan lezat dan anggurnya ; tapi bila kita telah duduk menghadapinya, kita pun makan dengan lahap dan rakus. Tangan Alam menyambut hangat kedatangan kita, dan menawarkan pula agar kita menikmati keindahannya ; tapi kita takut akan keheningannya, lalu bergegas lari ke kota yang ramai, berhimpit-himpitan seperti kawanan kambing yang lari ketakutan dari serigala garang. Kebenaran memanggil-manggil kita di antara tawa anak-anak atau ciuman kekasih, tapi kita menutup pintu keramahan baginya, dan menghadapinya bagaikan musuh. Hati manusia menyeru pertolongan ; jiwa manusia memohon pembebasan ; tapi kita tidak mendengar teriak mereka, karena kita tidak membuka telinga dan berniat memahaminya.
Namun orang yang mendengar dan memahaminya kita sebut gila lalu kita tinggalkan.
Malampun berlalu, hidup kita lelah dan kurang waspada, sedang hari pun memberi salam dan merangkul kita. Tapi di siang dan malam hari, kita sentiasa ketakutan. Kita amat terikat pada bumi, sedangkan gerbang Tuhan terbuka lebar.
Kita memijak-mijak roti Kehidupan, sedangkan kelaparan memamah hati kita. Sungguh betapa budiman Sang Hidup terhadap Manusia, namun betapa jauh Manusia meninggalkan Sang Hidup
Mereka yang Telah Mati
Para pecinta, yang dengan ikhlas mati dari diri mereka sendiri: mereka bagaikan gula, di hadapan Sang Kekasih. Pada Hari Perjanjian, [1] mereka minum Air Kehidupan, sehingga matinya jiwa mereka tak seperti kematian orang lain. Karena mereka telah dibangkitkan dalam Cinta, kematian mereka tak seperti orang kebanyakan. Dengan kelembutan-Nya mereka telah melampaui tingkat para malaikat; sama sekali tak bisa kematian mereka dibandingkan dengan orang kebanyakan. Apakah kau sangka Singa mati bagai anjing, jauh dari hadirat-Nya? [2] Ketika para pecinta mati di tengah Jalan, Sang Raja Ruhaniah berlari menyambut. [3] Ketika mereka mati di kaki Sang Rembulan, [4] mereka menyala bagaikan Matahari. [5] Jiwa para pecinta sejati itu bersatu mereka mati dalam saling mencintai. [6] Derai embun Cinta membasuh jantung mereka, mereka sampai pada kematian dengan hati berdarah-darah. Setiap mereka, mutiara yatim tiada tara, tidaklah mereka mati di sisi ayah-ibunya. Para pecinta terbang menembus lelangit, para pembangkang terpanggang dalam Api. Para pecinta terpana menatap yang tak-terlihat, selain mereka, semua mati dalam buta-tuli. Sepanjang hidupnya, para pecinta ketakutan, karenanya mereka berjaga menghidupkan malam; [7] kini mereka mati tanpa takut atau bahaya. Mereka yang disini memuja dunia, hidup bagaikan ternak, [8] dan akan mati seperti keledai. Mereka yang hari ini mendamba wajah-Nya, akan mati berbahagia, gembira dengan apa yang mereka lihat. Sang Raja menempatkan mereka di sisi Rahmat-Nya; mereka tak mati dengan hina. Mereka yang meneladan kebajikan Muhammad, akan mati bagai Abu Bakar atau Umar. Jiwa-jiwa mereka sama sekali tak tersentuh kematian ataupun kehancuran. [9] Bahkan kudendangkan ode ini kepada mereka yang menyangka jiwa-jiwa mereka telah mati. Catatan: [1] QS [7]: 172. [2] Mengingatkan kepada sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib yang bergelar “Singa Allah.” [3] Sambutan Sang Pemimpin tertinggi para pecinta Tuhan, Rasulullah SAW, yang mengingatkan kita pada sebuah Hadits Qudsi, “... dan jika dia kembali kepada-Ku berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari” (HQR Syaikhani dan Turmudzi dari Abu Hurairah r.a). [4] Kematian diri sang pencari dalam cahaya sunnah Al-Mustapha. [5] Terbitnya Matahari dalam diri. [6] “Berhak akan Cinta-Ku, mereka yang saling cinta dalam Kami. Berhak akan Cinta-Ku orang- orang yang menghubungkan silatur-rahim dalam-Kami. Berhak akan Cinta-Ku orang-orang yang saling menasehati dalam Kami. Berhak akan Cinta-Ku orang-orang yang saling menziarahi dalam Kami. Berhak akan Cinta-Ku orang-orang yang saling memberi dalam Kami. Mereka yang saling cinta didalam Kami dan atas Kami akan disuruh berdiri di atas mimbar cahaya yang diinginkan pada nabi, shiddiqin dan syuhada.” (HQR Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim dan al-Qudla'i yang bersumber dari 'Ubadah bin Shamit r.a) [7] “... mereka yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS [3]: 17) [8] “... bagaikan binatang ternak ...” (QS [7]: 179) [9] “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS [3]: 169)
Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 972 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William C. Chittick dalam The Sufi Path of Love, SUNY Press, Albany, 1983.
Malam Nisfu sya'ban
Assalamualaikum.. Malam nisfu Sya'ban adalah salah satu malam yang sangat berkah dalam kehidupan umat muslim.Imam Syafii rahimahullah berkata : "Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam jumat, malam idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan rajab, dan malam nisfu sya'ban" (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319). Banyak kelompok yang mempertanyakan keabsahan ibadah di malam Nisfu Sya'ban ini. untuk itu sy tuliskan beberapa dalil tentang keutamaan malam nisfu sya'ban sebagai berikut: Sabda Rasulullah saw : "Allah mengawasi dan memandang hamba hamba Nya di malam nisfu sya'ban, lalu mengampuni dosa dosa mereka semuanya kecuali musyrik dan orang yg pemarah pada sesama muslimin" (Shahih Ibn Hibban hadits no.5755) Dalam Riwayat lain berkata Aisyah ra : disuatu malam aku kehilangan Rasul saw, dan kutemukan beliau saw sedang di pekuburan Baqi', beliau mengangkat kepalanya kearah langit, seraya bersabda : "Sungguh Allah turun ke langit bumi di malam nisfu sya'ban dan mengampuni dosa dosa hamba Nya sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba" (Musnad Imam Ahmad hadits no.24825) Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, :”“Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) . Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pada malam nishfu Sya’ban mengawasi seluruh mahluk-Nya dan mengampuni semuanya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.” (HR Ibnu Majah) Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib KW bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika malam nishfu Sya’ban tiba, maka salatlah di malam hari, dan berpuasalah di siang harinya, karena sesungguhnya pada malam itu, setelah matahari terbenam, Allah turun ke langit dunia dan berkata, Adakah yang beristighfar kepada Ku, lalu Aku mengampuninya, Adakah yang memohon rezeki, lalu Aku memberinya rezeki , adakah yang tertimpa bala’, lalu Aku menyelamatkannya, demikian seterusnya hingga terbitnya fajar.” (HR Ibnu Majah). Demikian beberapa hadits diatas,Kita memahami banyak pendapat yang bertentangan dalam memahami malam nisfu sya'ban ini, namun demikian kita harus terus menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, shalat sunnah, zikir, shalawat, membaca al- Qur’an, dan ibadah sunah lainnya.
Semoga Allah terus meridhoi semua amal kita.. Amin.
Sabtu, 22 Juni 2013
Barokah Bisa Dirasa Tidak Bisa Diraba
Barokah Bisa Dirasa Tidak Bisa Diraba
www.habiblutfiyahya.net
Barokah berasal dari bahasa Arab baaroka ﻙﺭﺎﺒﻳ ﻙﺭﺎﺑ ﺎﻛﺭﺎﺒﻣ ﺎﺘﻛﺭﺎﺒﻣﻭ , yang secara bahasa (etimologi) berarti semakin bertambahnya kebaikan atau manfa’at (ziyadatu al-khoiri awi al- naf’i). menurut kamus al-Muhith, barokah berawal dari arti kata bergerak, tumbuh;berkembang; dan bahagia. Dari sini, para ulama kemudian mendefinisikan barokah sebagai “bertambahnya manfa’at dan kebaikan dalam setiap hal yang kita lakukan waktu demi waktu”. Ada juga yang mengartikan barokah sebagai kebaikan belimpah yang diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Barokah juga dapat diartikan sebagai kepeka’an untuk selalu bersikap baik dan benar. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, barokah adalah semakin dekatnya kita kepada Allah. Pengertian ini amat dipegang teguh oleh ulama terutama di Indonesia. Jika ada seseorang berkata “Semoga Allah memberkatimu” maka yang dimaksud adalah semoga Allah selalu mendatangkan kebaikan dan manfa’at bagianda sehingga anda semakin dekat kepadaNya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), barokah atau berkah diartikan sebaagai : “Karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia, atau doa restu dan pengaruh baik yang mendatangkan selamat serta bahagia dari orang yang dihormati atau dianggap suci (keramat), seperti berbakti kepada guru, orang tua, atau pemuka agama”. Sedangkan dalam kitab Riyadlus Shalihin dijelaskan, bahwa barokah adalah : “Sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama, ziyadat al-khair ‘ala al-ghair.” Pengertian ini sangat umum dan fleksibel, tergantung penafsiran kita dan konteks yang dihadapi. Bila dikaitkan dengan ilmu dan guru, maka yang dimaksud adalah bertambahnya ilmu disertai doa restu guru dan pengaruh baik serta kebahagia’an yang datang setelah kita belajar. Jika dikaitkan dengan harta, maka yang dimaksud ialah harta yang menyebabakan seseorang yang mempergunakanya memperoleh ketenangan dan ketentraman jiwa, sehingga mampu mendorong berbuat kebaikan kepada sesama. Sedangkan menurut Prof. Shobah Ali Al-Bayati seorang cendekiawan Muslim Irak, mengartikan barokah sebagai “energi positif” yang luar biasa dahsyatnya, yang terpancar ketika seseorang berhubungan dengan sesuatu, tentunya atas izin Allah SWT. Wujud dari Barokah Habib Lutfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya memiliki tamsil yang cukup menarik tentang barokah. Menurut beliau, barokah itu seperti garam. Garam adalah bumbu masakyang pengguna’anya hanya sedikit diantara bumbu-bumbu yang lain. Meski sedikit, bumbu tersebut sangat bermanfa’at dan sangat dibutuhkan. Sebab, masakan tanpa garam rasanya pasti hambar. Begitupun hidup kita, akan terasa hambar tanpa unsur-unsur barokah. Artinya, sesuatu yang barokah ialah segala hal yang membuahkan kebaikan dan manfa’at bagi diri kita, agama kita, dan seterusnya. Semakin bertambahnya kebaikan dan manfa’at bias berbentuk ibadah yang semakin rajin, bergunanya ilmu yang dimiliki, datangnya rizki yang halal, bertambahnya kesabaran, semakin baiknya perilaku dan ucapan, semakin kuatnya iman dan Islam, dan segala bentuk kebaikan dan manfa’at yang tak terhitunh jumlahnya. Mnafa’at dari barokah memang tidak bisa dirasakan seketika dan secara kasat mata. Ia bisa dirasa tapi tidak bisa diraba. Ketenangan, kedamaian, ketentraman, ketabahan, ketegaran, dan keberhasilan hidup adalh sesuatu yang selalu menyertai hidup yang berbarokah. Tapi perlu dicatat, kehidupan yang disetai barokah bukan berarti tanpa masakah. Problematika hidup pasti selalu ada menyertai kehidupan manusia. Banyaknya masalah bukan berarti hidup tak barokah. Coba liat bagaimana kehidupan Rasulullah dan para sahabat. Masalah-masalah yang mereka hadapi tidaklah kalah banyak, atau bahkan jauh labuh banyak dan jauh lebuh berat, dari pada yang kita hadapi sekarang. Namun mereka bias menghadapinya secara dewasa, tegar, sabar, tenang, dan tawakkal. Semua ujian dan coba’an dijadikan sarana pembelajarasn mental agar tumbuh lebih matangdan lebih dewasa. Buktinya, setelah ujian itu berlalu, Nabi dan para sahabat bias hidup sukses dunia akhirat, sehingga manfa’at perjuangan mereka dapat kita rasakan hingga sa’at ini. Itulah hidup yang berbarokah. Kepercaya’an akan adanya unsur barokah alam setiap hal, akan mendorong seseorang untuk selalu berbuat dan berperilaku baik, meskipun tampaknya tidak menguntungkan secara materiil. Keyakinan itu juga akan menjadikanya menghindar dari perbuatan jahat, meskipun perbuatan itu secara lahir menguntungkan. Sikap inilah yang dipraktehhan Rasulullah, para sahabat, dan para tabi’in di masa awal Islam. Jadi, barokah berfungsi memberi “ruh” atau esensi pada semua perbuatan manusia. Karna itu, ada dan tidaknya barokah sangat tergantug pada benar dan tidaknya perilaku kita.Semakin baik perilaku kita, berarti semakin banyak barokah didalamnya. Begitu juga sebaliknya. Intinya, barokah menentukan keberhasilan yang hakiki dari sebuah pekerja’an, bauk terjadi seketika atau dalam waktu yang lama. Inilah kadang yang sering disalah mengerti oleh kalangan rasionalis, yang selalu mengukur segala sesuatu dengan materi atau hal-hal yang bersifat fisik saja. Padahal dalam kehidupan ini, banyak hal yang bersidat non fisik yang sebenarnya menjadi esensi dari segala sesuatu. Itulkah yang disebut nilai. Nilai, arti, manfa’at, atau makna, adalah sesuatu yang bersiafat abstrak. Nilai-nilai yang abstrak itulah yang disebut barokah. Kebaikan, kejujuran, kemnfa’atan, keta’atan bahkan pahala, adalah buah dari barokah. Semakin barokah kehidupan seseorang semakin baik pula perilkunya, semkain jujur ucapanya, semakin bermanfa’at perbuatanya, semakin ta’at kehidupan sepiritualitasnya, semakin besar pahala yang diperolehnya, sehiongga semakin mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Inilah fungsi utama barokah, sebagamana dimaksudkan oluh Ibnu Qayim al-Jauziyah. Kesimpulan Barokah meliputi semua spektrum kehidupan manusia. Ia adlah karunia yang abstrak, dapat dirasa tapi tidak dapat diraba. Ia adalah pertumbuhan dan peningkatan kualitratif yang tidak bias dikalkulasi dengan hitungan matematis, apalgi diukur dengan materi (uang, kekaya’an, jabatan, dll.). Barokah juga dapat diperoleh kapn dan dimana saja. Segala sesuatu dilangit dan di bumi yang mengandung hikmah dan kebaikan pasti berbarokah. Seluruh jagat raya adalah ayat-ayat Allah yang penuh dengan berkah.
Tergantung manusia bagaimana memanfa’atkanya.
WaAllahu a’alam bi al-Showab….! M.Z. 2103
Jumat, 21 Juni 2013
Ya Robbi Bil Mustofa
Adzab Mu Illahi
Allah ampunilah semua kesalahan Terimalah taubat kami Tubuhku, bergetar saat menyebut asma-Mu Terbayang kebesaran-Mu Bersujud, bersimpuh kepada-Mu ya Allah Berilah rahmat-Mu Hamba penuh dosa Berharap belas kasih-Mu Hamba penuh dosa Ya.. Allah ampunilah semua kesalahan Terimalah taubat kami Allah lindungilah, Allah jauhkanlah dari adzabmu lllahi Berdzikir, berdoa, berserah diri pada-Mu Tunjukkan aku jalan-Mu Bertambah usiaku, smakin bertambah dosaku Kumohon ampunan-Mu Hamba penuh dosa, berharap belas kasih-Mu Hamba penuh dosa Ya.. Allah ampunilah, semua kesalahan Terimalah taubat kami Allah lindungilah, Allah jauhkanlah dari adzab-Mu Illahi Allah ampunilah, smua kesalahan Terimalah taubat kami Allah lindungilah Allah jauhkanlah dari adzab-Mu Illahi Allah ampunilah, smua kesalahan Terima taubat kami Allah lindungilah Allah jauhkanlah
dari: adzab-Mu Illahi
Kamis, 20 Juni 2013
legenda gunung kemukus
Sejarah Perkembangan Legenda Gunung Kemukus Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah, dianggap bertuah. Tiap hari makam ini didatangi banyak orang. Selain ziarah, bias digunakan untuk mengukur kekuatan jantung dengan menapaki anak tangga menuju makam. Gunung Kemukus merupakan kompleks makam Pangeran Samudro dan ibu tirinya, Dewi Ontrowulan. Kompleks ini tepat berada di puncak bukit setinggi 300 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini terdiri dari bangunan utama berbentuk rumah joglo dengan campuran dinding beton dan papan. Ada tiga makam di dalamnya. Sebuah makam besar yang ditutupi kain kelambu putih merupakan makam Pangeran Samudro dan ibunya. Dua makam di sampingnya adalah dua abdi setia sang pangeran. Sementara itu, di sebelah bangunan utama terdapat bangsal besar yang diperuntukkan bagi peziarah sekadar untuk istirahat. Sekitar 300 meter dari kompleks makam, di kaki bukit sebelah Timur, terdapat Sendang Ontrowulan. Sendang ini merupakan mata air yang digunakan Ontrowulan untuk menyucikan diri agar bisa bertemu putranya. Mata air itu tak pernah kering meski pada musim kemarau panjang sekalipun. Bagi yang percaya, air di sendang itu bisa membuat awet muda. Kawasan itu pun dilindungi oleh rimbunnya pohon nagasari yang menjulang tinggi. Usia pohon nagasari terbilang tua. Konon, pohon-pohon itu tumbuh dari kembang- kembang hiasan rambut yang terlepas dari kepala Ontrowulan usai dia melakukan penyucian diri. Kalau datangnya melewati pintu gerbang depan, harus menaiki 175 anak tangga sebelum sampai ke makam. Namun, bila memutar lewat pintu belakang, yaitu melewati Sendang Ontrowulan, harus melewati jalan berbatu yang mendaki sejauh sekitar satu km. Aktivitas jalan kaki itu membuat jantungberdenyut kencang sebelum sampai ke makam. Sampai di teras makam, ada seorang juru kunci yang duduk di dekat perapian. Bau kemenyan merebak di sana. Setelah menyampaikan niat, sang juru kunci akan mendoakan dengan mantra yang tak jelas terdengar. Setelah itu, peziarah masuk ke dalam bangunan utama. "Kita bisa menyampaikan semua niat dan keinginan. Asal dengan sungguh-sungguh, niscaya segala keinginan akan terkabul”. Pada setiap malam Jumat Pon jumlah pengunjung membludak, mencapai ribuan orang. Puncak ziarah terjadi pada malam Jumat Pon atau Jumat Kliwon di bulan Suro atau Muharam. Pada malam itu biasanya peziarah mencapai belasan ribu orang. Kebanyakan pengunjung berasal dari Jawa Barat. Makam Pangeran Samudro diyakini memiliki tuah yang bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang memohon dengan sungguh-sungguh. Sebut saja ingin sukses berdagang, mudah jodoh, atau karier cepat menanjak. Sayangnya, objek ini tercemar oleh mitos-mitos sesat. Misalnya, niat seseorang akan terpenuhi asal dia harus berhubungan seks dengan laki-laki atau perempuan yang bukan suami atau istrinya secara berturut-turut sebanyak tujuh kali. Padahal, tidak ada dasar cukup kuat untuk membenarkan mitos ini. Karena itu, kini pada hitungan 150 anak tangga menuju makam, Dinas Pariwisata Kabupaten Sragen memasang pengumuman melarang perbuatan asusila. Namun, begitulah seks, selalu mempunyai daya magnetis yang kuat. Apalagi banyak orang yang percaya akan kebenaran mitos. Terlepas dari itu, bila kita ingin menikmati pemandangan Bukit Kemukus dan sedikit berolahraga dengan menaiki anak tangga kemudian berziarah, maka akan mendapatkan kepuasan jasmani dan rohani. Fungsi Folklor bagi Masyarakat Folklor Legenda Gunung Kemukus ini mempunyai banyak fungsi. Munculnya mitos- mitos bahwa siapa saja yang meneruskan hubungan kisah cinta Pangeran Samudro dengan ibu tirinya, Dewi Ontrowulan maka segala keinginan akan tercapai. Banyak masyarakat yang memanfaatkan hal ini untuk mencari rezeki atau yang sering disebut “ ngalap berkah ” dengan cara berziarah ke makam Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan. Selain digunakan untuk mencari pesugihan, makam Pangeran Samudro ini telah menjadi tempat wisata yang terkenal, sehingga bisa menambah penghasilan penduduk setempat karena banyak wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing yang datang berkunjung ke tempat itu. Makam Pangeran Samudro juga sering didatangi oleh para mahasiswa untuk melakukan penelitian folklor maupun penelitian sejarah yang berkaitan tentang Pangeran Samudro.
Selasa, 18 Juni 2013
Niat Dan Nadzar
Senin, 17 Juni 2013
Rintihan Hati
Minggu, 16 Juni 2013
Gemericik Suara Air
Rumi: Gemericik Suara
Air Amal Sejati itu milik Lelaki yang mengidamkan Dia, dan demi kepentingan amal dari sisi-Nya, telah diceraikannya semua amal yang lain. Mereka yang tidak seperti dia, tak lebih bagaikan kanak-kanak, yang bermain-bersama, di beberapa hari yang singkat, sampai malam menjelang, dan mereka mangkat. Atau bagaikan orang yang baru terbangun, lalu bangkit, sambil masih mengantuk, tapi dibujuk untuk tidur kembali, oleh rayuan si perawat jahat; yang berbisik: "tidurlah kembali, sayangku, tak kan kubiarkan seorang pun mengganggu tidur nyenyakmu." Jika engkau bijak, maka engkau, engkau sedirilah, yang akan mencabut tidurmu sampai ke akar-akarnya; bagaikan orang kehausan yang mendengar gemericik suara air. Tuhan berkata kepadamu, "Akulah gemericik suara air di telinga mereka yang haus; Akulah hujan yang tercurah dari langit, bangkitlah pecinta: tunjukkan gairahmu! Jangan sampai engkau kembali tertidur, ketika telah kau dengar gemericik suara air.
" (Rumi: Matsnavi, VI no 586 - 592, terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson) Catatan: - "Lelaki," disini maksudnya "pencari Tuhan." Dari "rijal," yaitu yang memiliki "arjul," (= kaki, jamak); yang dengan kaki-kaki itu mereka bergerak di jalan pencarian. - "Amal Sejati," suatu hal unik yang telah diperjanjikan setiap jiwa kepada Rabb-nya untuk diabdikan kepada-Nya. - "Mengidamkan Dia,"
setidaknya dapat dirujukkan kepada QS [18]: 110, "... Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah beramal amal yang shaleh dan janganlah menyekutukan sesuatupun dalam mengabdi kepada Rabb-nya." - "Kanak-kanak," di sini menunjukkan tingkat kecerdasan mereka yang terlalaikan oleh keaneka-ragaman kesibukan di alam-dunia, sehingga lupa dari menyiapkan keperluan perjalanan ke alam-alam paska-alam-dunia. - "Si perawat jahat," adalah unsur-unsur belum-terahmati dari diri seseorang, yang selalu membujuk kepada hal-hal yang rendah.
Lihat QS [12]: 53. - (Jiwa) kebanyakan manusia tertidur ketika jasmaninya hidup di alam-dunia, dan baru terbangun ketika mereka mati (periksa Hadits Rasulullah SAW yang berkenaan dengan hal ini).
KISAH ABU NAWAS 'MELARANG' RUKU DAN SUJUD
Khalifah Harun al-Rasyid marah besar pada sahibnya yang karib dan
setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah
menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa: tidak mau
ruku’ dan sujud dalam salat. Lebih lagi, Harun al-Rasyid mendengar Abu
Nawas berkata bahwa ia khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-
pembantu-nya, Abu Nawas telah layak dipancung karena melanggar-
syariat Islam dan menyebar fitnah. Khalifah mulai terpancing. Tapi
untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya
Khalifah melakukan tabayun (konfirmasi) dulu pada Abu Nawas.
bu Nawas pun digeret menghadap Khalifah. Kini, ia menjadi pesakitan.
”Hai Abu Nawas, benar kamu berpendapat tidak ruku’ dan sujud dalam
salat?” tanya Khalifah dengan keras.
Abu Nawas menjawab dengan tenang, ”Benar, Saudaraku.”
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, ”Benar kamu berkata kepada
masyarakat bahwa aku, Harun al-Rasyid, adalah seorang khalifah yang suka fitnah?”
Abu Nawas menjawab, ”Benar, Saudara-ku.”
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, ”Kamu memang pantas dihukum mati, karena
melanggar syariat Islam dan menebarkan fitnah tentang khalifah!”
Abu Nawas tersenyum seraya berkata-, ”Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah
mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap,
kata-kataku dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah.”
Khalifah berkata dengan ketus, ”Apa maksudmu? Ja-ngan membela diri, kau telah mengaku dan
mengatakan kabar itu benar adanya.”
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang, ”Saudaraku, aku memang
berkata ruku’ dan sujud tidak perlu dalam salat, tapi dalam salat apa? Waktu itu aku
menjelaskan tata cara salat jenazah yang memang tidak perlu ruku’ dan sujud.”
”Bagaimana soal aku yang suka fitnah?” tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyuman, ”Kala itu, aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 Surat
Al-Anfal, yang berbunyi ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu.
Sebagai seorang khalifah dan seorang ayah, kamu sangat menyukai kekayaan dan anak-anakmu,
berarti kamu suka ’fitnah’ (ujian) itu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas yang sekaligus kritikan,
Khalifah Harun al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar.
Rupanya, kedekatan Abu Nawas dengan Harun alRa-syid menyulut iri dan dengki di antara
pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan ”ya akhi” (saudaraku).
Hubungan di antara mereka bukan antara tuan dan hamba. Pembantu-pembantu khalifah yang
hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut de-ngan memutarbalikkan berita.
Sabtu, 15 Juni 2013
Aku Tidak Berharap Surga atau Neraka
Jumat, 14 Juni 2013
Pengenalan Diri
Mencium Tangan Orang Yang Dihormati

Sunan Bonang dengan Santrinya
Kamis, 13 Juni 2013
Membentuk Jiwa Yang Bermanfa'at : Bagaimana Cara Seorang Murid Memilih Guru
Sufinews : Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani
DAN diantara perilaku seorang murid dalam berguru, hendaknya tidak berguru kecuali kepada
seorang guru yang ilmu-ilmu syariatnya benar-benar kuat dan mendalam. Hal ini dimaksudkan
agar dengan sang guru yang ilmu syariatnya mendalam ini sang murid merasa cukup dan tidak
butuh berguru lagi kepada orang lain. Tuan Guru Syekh Muhammad asy-Syanawi pernah
memberitahuku, bahwa suatu ketika ia pernah berkata kepada gurunya, Syekh Muhammad as-
Surawi, “Guru, aku ingin mengunjungi si guru (syekh) fulan.” Rupanya Tuan Guru tidak ingin
muridnya mencari guru lain, dan berkata dengan menampakkan kecemberutan di wajahnya,
‘Wahai Muhammad, bila engkau belum merasa cukup denganku, lalu bagaimana engkau
menjadikan aku sebagai gurumu?” Maka sejak saat itu, aku tidak pernah lagi mengunjungi guru
lain sampai beliau wafat.
Maka bisa diketahui bahwa orang yang sudah ditakdirkan untuk masuk ke dalam tarekat dan
diambil sumpahnya oleh seorang guru yang ilmu-ilmu syariatnya kurang mendalam maka tidak
ada salahnya ia berkunjung dan berkumpul dengan guru lain, sebagaimana kondisi yang terjadi
pada sebagian besar para guru di zaman ini. Maka ungkapan Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi,
“Dianggap kurang baik seorang murid mengikuti madzhab lain yang bukan madzhab gurunya.
Akan tetapi ia hanya diperkenankan mengikuti pada gurunya saja.” Ini jelas ditujukan untuk
murid yang mendapatkan guru yang benar-benar mendalami ilmu syariat secara sempurna.
Maka tidak ada jeleknya seorang murid mencari dan menisbatkan dirinya ke madzhab lain yang
bukan gurunya, bila gurunya tidak benar-benar mendalami ilmu syariat, bahkan hal itu wajib ia
lakukan.
Seorang Sufi Juga Seorang Yang Fakih
IMAM Ahmad bin Hanbal dengan kebesaran dan keagungannya ketika ia tidak mampu
menyelesaikan masalah, ia akan bertanya kepada sang sufi, Abu Hamzah al-Baghdadi,
“Bagaimana pendapat anda dalam masalah ini wahai sang sufi?” Maka apa yang dikatakan Abu
Hamzah akan dijadikan pegangan. Hal ini cukup menjadi catatan sejarah bagi para guru sufi.
Demikian pula dengan kisah al-Qadhi Ahmad bin Syuraih yang juga mengakui kelebihan Abu al-
Qasim al-Junaid, dimana ia juga mengikuti majelis halaqah al-Junaid, dan ketika ditanya tentang
ungkapan-ungkapan al-Junaid ia tidak banyak berkomentar dan hanya mengatakan, “Aku tidak
paham sedikit pun apa yang ia katakan, akan tetapi serangan-serangan ungkapannya bukan
ucapan yang tidak berarti.”
Syekh Abu al-Qasim al-Junaid —rahimahullah— berkata:
“Andaikan aku tahu bahwa di bawah kolong langit ini Allah memiliki ilmu yang lebih mulia
daripada ilmu kaum sufi ini tentu aku akan berangkat ke sana.” Ia juga pernah berkata: “Tidak
pernah ada ilmu yang turun dari langit dan Allah memberi jalan kepada makhluk untuk pergi ke
sana kecuali Allah juga memberiku bagian pada ilmu tersebut.” Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi
—rahimahullah— berkata: “Seluruh guru tarekat sufi telah membuat aturan, bahwa salah
seorang dan mereka tidak akan memimpin suatu tarekat sama sekali kecuali ia mendalami ilmu
syariat secara sempurna dan telah sampai pada tingkatan kasyaf (tersingkap seluruh hijab).
Dimana tingkatan ini sudah tidak butuh lagi mencari dalil (argumentasi). Dan apa yang
dilakukan oleh murid untuk menisbatkan diri kepada orang lain (yang bukan kaum sufi) dan
membaca ilmu-ilmu lain yang bukan ilmu kaum sufi hanyalah karena ketidaktahuan si murid
terhadap tingkatan spiritual mereka. Sebab argumentasi kaum sufi lebih kuat dan valid
daripada argumentasi kelompok lain. Ini karena argumentasi mereka didukung dengan metode
kasyaf. Dan setiap ada seorang dari kaum sufi yang hidup di suatu kurun mesti para ulama di
kurun tersebut akan hormat dan tunduk pada si sufi tersebut dan melakukan isyarat-isyaratnya.
Mereka meminta kepada Si sufi untuk membantu menghilangkan kesulitan yang sedang mereka
hadapi. Andaikan bukan kesaksian para ulama sufi akan masalah-masalah yang menyuarakan
ketinggian kedudukan mereka, tentu masalahnya akan sebaliknya, dan tidak seperti itu.” Kami
telah membicarakan masalah ini dengan panjang lebar dalam Kitab al-Qawa ‘Id ash-Shuftyyah
al-Kubra. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.
Bolehkah Murid Menjadikan Lebih Dari Seorang Guru ?
DIANTARA perilaku yang harus dilakukan seorang murid hendaknya hanya mengambil dan
menjadikan seorang guru. Maka ia tidak diperkenankan sama sekali menjadikan dua orang guru.
Sebab tarekat kaum sufi dibangun atas dasar tauhid murni. Syekh Muhyiddin Ibnu al-’Arabi
dalam al-Futuhat al-Makkiyyah bab keseratus delapan puluh satu, menuturkan sebagai berikut:
“Perlu anda ketahui, bahwa seorang murid hanya diperkenankan menjadikan seorang guru.
Sebab hal itu lebih bisa menolongnya dalam menempuh tarekat. Kami tidak pernah melihat
seorang murid pun yang sukses dalam menempuh tarekat di bawah bimbingan dua orang guru
(tarekat). Sebagaimana di alam ini tidak ada dua Tuhan, tidak ada seorang mukalaf yang hidup
diantara dua rasul, dan tidak ada seorang perempuan yang menjadi istri dari dua orang suami,
maka demikian pula seorang murid tidak boleh mengambil dua orang guru.” Ini berlaku untuk
murid yang mengikat dirinya dengan seorang guru (tarekat) dengan tujuan suluk menuju Allah.
Adapun orang yang tidak mengikat dirinya dengan seorang guru, tapi ia sekadar mencari berkah
dari guru, maka orang seperti yang terakhir ini tidak dilarang untuk berkumpul dengan guru
siapa pun.
Tuan Guru Syekh Ali al-Murshifi —rahimahullah— mengatakan: “Barangsiapa diuji untuk
bersahabat dengan dua orang guru atau lebih, maka hendaknya menjadikan gurunya yang hakiki
selalu berada di belahan hatinya, disamping ia mencintai Rasulullah Saw. Sebab dia sebagai
pengganti Rasulullah Saw. dalam memberi nasihat kepada umatnya dan menunjukkan mereka
kejalan yang benar.”
Abu Yazid al-Bisthami pernah berkata: “Barang siapa tidak memiliki seorang guru maka ia
menyekutukan dalam tarekat, sedangkan orang yang menyekutukan dalam tarekat gurunya
adalah setan.”
Abu Ali ad-Daqqaq —rahimahullah— mengatakan: “Seseorang tidak akan mampu suluk di
tarekat kaum sufi tanpa seorang guru. Sebab perjalanan ini menempuh kegaiban atau gaibnya
kegaiban. Ibarat sebatang pohon apabila tumbuh dengan sendirinya tanpa ada orang yang
menanamnya maka tidak ada seorang pun yang bakal memanfaatkan buahnya sekalipun tumbuh
bersemi dan daunnya rindang, bahkan bisa jadi tidak akan berbuah untuk selamanya. Coba
anda perhatikan wahai saudaraku, Tuan dari para rasul, Muhammad Saw., bagaimana dengan
jibril yang menjadi perantara antara beliau dengan Tuhannya dalam menyampaikan wahyu.
Dengan demikian anda tahu, bahwa menjadikan seorang guru adalah suatu keharusan bagi
murid yang tidak bisa ditinggalkan.”
Abu Yazid al-Bisthami mengatakan: “Sungguh aku telah mengambil tarekatku ini dari guruku,
antar orang ke orang.” Kemudian cukup jelas, bahwa para salaf saleh dari generasi sahabat,
tabi’in, dan tabi’t-tabi’in tidak mengikatkan diri dengan seorang guru tertentu, tapi bisa jadi
salah seorang dari mereka menjadikan lebih dari seratus orang guru. Ini karena mereka adalah
orang-orang yang bersih dari kotoran dan ketololan nafsu, maka masing-masing orang
dianggap orang yang sempurna yang tidak butuh kepada orang yang membimbing
perjalanannya. Tapi ketika “wabah penyakit” ini semakin banyak dan mereka butuh
disembuhkan, maka para guru tarekat memerintah para murid untuk mengikatkan diri dengan
seorang guru, agar kondisi spiritual murid tidak kacau dan perjalanan yang ditempuhnya tidak
terlalu panjang. Maka pahamilah!
Diantara perilaku seorang murid hendaknya membuang seluruh keterkaitan duniawi, dan hal ini
hendaknya dijadikan modal utamanya. Sebab orang yang memiliki keterkaitan duniawi akan
sedikit sekali bisa berhasil, karena keterkaitan tersebut akan menyeretnya mundur ke belakang.
Oleh karenanya mereka mengatakan: “Diantara syarat orang yang bertobat adalah menjauhi
teman-teman jahat, dimana mereka akan menjadi temannya dalam melakukan maksiat sebelum
ia bertobat. Sebab mendekat kepada mereka barangkali bisa menyeretnya mundur ke belakang
dengan melakukan perbuatan yang sebelumnya ia sudah bertobat darinya.”
Imam al-Qusyairi —rahimahullah— berkata: “Seorang murid wajib melakukan kegiatan yang
selalu mengosongkan hatinya dari segala kesibukan. Dan diantara kesibukan-kesibukan yang
sangat berat adalah berusaha keluar dari harta yang ia miliki. Sebab dengan harta yang ada di
tangannya itu akan bisa berpaling dari jalan yang lurus (istiqamah), karena lemahnya si murid.
Sebenarnya tidak boleh ia menyimpan harta kecuali setelah ia benar-benar sempurna dalam
perjalanan tarekatnya.” Ia juga mengatakan: “Para guru merasa berat dan tidak mampu
menggandeng perjalanan seorang murid yang memiliki keterkaitan dengan duniawi. Maka
perjalanan mereka dengan menggandeng murid ini sangat lemah dan lamban. Barangkali
umurnya telah habis sementara mereka belum bisa sampai pada tingkat kesempurnaan yang ia
inginkan.”
Sufi News
CARA SUNAN KALIJAGA MENCARI GURU SEJATI
CARA RADEN SYAHID MENCARI GURU SEJATI
Di antara para wali yang lain, Kanjeng Sunan Kalijaga
bisa dikatakan satu-satunya wali yang menggunakan
pendekatan yang pas yaitu budaya Jawa. Dia sadar,
tidak mungkin menggunakan budaya lain untuk
menyampaikan ajaran sangkan paraning dumadi
secara tepat. Budaya arab tidak cocok diterapkan di
Jawa karena manusia Jawa sudah hidup sekian ratus
tahun dengan budayanya yang sudah mendarah
daging. Bahkan, setelah “dilantik” menjadi wali, dia
mengganti jubahnya dengan pakaian Jawa memakai
blangkon atau udeng.
Nama mudanya Raden Syahid, putra adipati Tuban
yaitu Tumenggung Wilatikta dan Dewi Nawangrum.
Kadpiaten Tuban sebagaimana Kadipaten yang lain
harus tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Nama lain Tumenggung Wilatikta adalah Ario Tejo IV,
keturunan Ario Tejo III, II dan I. Arti Tejo I adalah
putra Ario Adikoro atau Ronggolawe, salah seorang
pendiri Kerajaan Majapahit. Jadi bila ditarik dari silsilah ini, Raden Syahid sebenarnya adalah
anak turun pendiri kerajaan Majapahit.
Raden Syahid lahir di Tuban saat Majapahit mengalami kemunduran karena kebijakan yang
salah kaprah, pajak dan upeti dari masing-masing kadipaten yang harus disetor ke Kerajaan
Majapahit sangat besar sehingga membuat miskin rakyat jelata. Suatu ketika, Tuban dilanda
kemarau panjang, rakyat hidup semakin sengsara hingga suatu hari Raden Syahid bertanya ke
ayahnya: “Bapa, kenapa rakyat kadipaten Tuban semakin sengsara ini dibuat lebih menderita
oleh Majapahit?”. Sang ayah tentu saja diam sambil membenarkan pertanyaan anaknya yang
kritis ini.
Raden Syahid yang melihat nasib rakyatnya merana, terpanggil untuk berjuang dengan caranya
sendiri. Cara yang khas anak muda yang penuh semangat juang namun belum diakui
eksistensinya; menjadi “Maling Cluring”, yaitu pencuri yang baik karena hasil curiannya dibagi-
bagikan kepada orang-orang miskin yang menderita. Tidak hanya mencuri, melainkan juga
merampok orang-orang kaya dan kaum bangsawan yang hidupnya berkecukupan.
Suatu ketika, perbuatan mulia namun tidak lazim itu diketahui oleh sang ayah dan sang ayah
tanpa ampun mengusir Raden Syahid karena dianggap mencoreng moreng kehormatan keluarga
adipati. Pengusiran tidak hanya dilakukan sekali namun beberapa kali. Saat diusir Raden Syahid
kembali melakukan perampokan namun sialnya dia tertangkap pengawal kadipaten hingga sang
ayah kehabisan akal sehat. “Syahid anakku, kini sudah waktunya kamu memilih, kau yang suka
merampok itu pergi dari wilayah Tuban atau kau harus tewas di tangan anak buahku”. Syahid
tahu dia saat itu harus benar-benar pergi dari wilayah Tuban dan akhirnya, dia pun dengan hati
gundah pergi tanpa arah tujuan yang jelas. Suatu hari dalam perjalanannya di hutan Jati Wangi,
dia bertemu lelaki tua yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Sunan Bonang. Sunan
Bonang adalah putra dan murid Sunan Ampel yang berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.
Syahid yang ingin merampok Sunan Bonang akhirnya harus bertekuk lutut dan Syahid akhirnya
berguru pada Sunan Bonang. Oleh Bonang yang saat itu sudah jadi guru spiritual ini, Syahid
diminta duduk diam bersila di pinggir sungai. Posisi duduk diam meneng ini di kalangan para
yogi dikenal dengan posisi meditasi. Syahid saat itu telah bertekad untuk mengubah orientasi
hidupnya secara total seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya dia berjuang dalam bentuk
fisik, menjadi perjuangan dalam bentuk batin (metafisik). Dia telah meninggalkan syariat masuk
ke ruang hakekat untuk mereguk nikmatnya makrifat. Namun syarat yang diajarkan Sunan
Bonang cuma satu: duduk, diam, meneng, mengalahkan diri/ego dan patuh pada sang guru
sejati (kesadaran ruh). Untuk menghidupkan kesadaran guru sejati (ruh) yang sekian lama
terkubur dan tertimbun nafsu dan ego ini, Bonang menguji tekad Raden Syahid dengan
menyuruhnya untuk diam di pinggir kali.
Ya, perintahnya hanya diminta untuk diam tok, tidak diminta untuk dzikir atau ritual apapun.
Cukup diam atau meneng di tempat. Dia tidak diminta memikirkan tentang Tuhan, atau Dzat
Yang Adikodrati yang menguasai alam semesta. Tidak, Sunan Bonang hanya meminta agar sang
murid untuk patuh, yaitu DIAM, MENENG, HENING, PASRAH, SUMARAH, SUMELEH. Awalnya,
orang diam pikirannya kemana-mana. Namun sekian waktu diam di tempat, akal dan
keinginannya akhirnya melemas dan akhirnya benar-benar tidak memiliki daya lagi untuk
berpikir, energi keinginan duniawinya lepas landas dan lenyap. Raden Syahir mengalami suwung
total, fana total karena telah hilang sang diri/ego.
“BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA,
KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH,
LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA
TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH….”
Demikian gambaran kesadaran ruh Raden Syahid kala itu. Berapa lama Raden Syahid diam di
pinggir sungai? Tidak ada catatan sejarah yang pasti. Namun dalam salah satu hikayat
dipaparkan bahwa sang sunan bertapa hingga rerumputan menutupi tubuhnya selama lima
tahu. Setelah dianggap selesai mengalami penyucian diri dengan bangunnya kesadaran ruh,
Sunan Bonang menggembleng muridnya dengan kawruh ilmu-ilmu agama. Dianjurkan juga oleh
Bonang agar Raden Syahid berguru ke para wali yang sepuh yaitu Sunan Ampel di Surabaya dan
Sunan Giri di Gresik. Raden Syahid yang kemudian disebut Sunan Kalijaga ini menggantikan
Syekh Subakir gigih berdakwah hingga Semenanjung Malaya hingga Thailand sehingga dia juga
diberi gelar Syekh Malaya.
Malaya berasal dari kata ma-laya yang artinya mematikan diri. Jadi orang yang telah mengalami
“mati sajroning urip” atau orang yang telah berhasil mematikan diri/ego hingga mampu
menghidupkan diri-sejati yang merupakan guru sejati-NYA. Sebab tanpa berhasil mematikan
diri, manusia hanya hidup di dunia fatamorgana, dunia apus-apus, dunia kulit. Dia tidak
mampu untuk masuk ke dunia isi, dan menyelam di lautan hakikat dan sampai di palung
makrifatullah.
Salah satu ajaran Sunan Kalijaga yang didapat dari guru spiritualnya, Sunan Bonang, adalah
ajaran hakikat shalat sebagaimana yang ada di dalam SULUK WUJIL: UTAMANING SARIRA
PUNIKI, ANGRAWUHANA JATINING SALAT, SEMBAH LAWAN PUJINE, JATINING SALAT IKU, DUDU
NGISA TUWIN MAGERIB, SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT, PAN
MINANGKA KEKEMBANGING SALAM DAIM, INGARAN TATA KRAMA. (Unggulnya diri itu
mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah
mengerjakan salat Isya atau maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu
hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).
Di sini, kita tahu bahwa salat sejati adalah tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran
syariat mengerjakan sholat lima waktu. Salat sejati adalah SALAT DAIM, yaitu bersatunya semua
indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di
dunia ini hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA ALLAH. Hu saat menarik nafas dan Allah saat
mengeluarkan nafas. Sebagaimana yang ada di dalam Suluk Wujil: PANGABEKTINE INGKANG
UTAMI, NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA, PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU,
SASOLAHE RAGANIREKI, TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN, TINJA TURAS DADI
SEMBAH, IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN. (Berbakti yang utama tidak
mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan
tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan
menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir)
Jadi hakikat yang disebut Sholat Daim nafas kehidupan yang telah manunggaling kawulo lan
gusti, yang manifestasinya adalah semua tingkah laku dan perilaku manusia yang diniatkan
untuk menyembah-Nya. Selalu awas, eling dan waspada bahwa apapun yang kita pikirkan,
apapun yang kita kehendaki, apapun yang kita lakukan ini adalah bentuk yang dintuntun oleh
AKU SEJATI, GURU SEJATI YANG SELALU MENYUARAKAN KESADARAN HOLISTIK BAHWA DIRI KITA
INI ADALAH DIRI-NYA, ADA KITA INI ADALAH ADA-NYA, KITA TIDAK ADA, HANYA DIA YANG ADA.
Sholat daim ini juga disebut dalam SULUK LING LUNG karya Sunan Kalijaga: SALAT DAIM TAN
KALAWAN, MET TOYA WULU KADASI, SALAT BATIN SEBENERE, MANGAN TURU SAHWAT NGISING.
(Jadi sholat daim itu tanpa menggunakan syariat wudhu untuk menghilangkan hadats atau
kotoran. Sebab kotoran yang sebenarnya tidak hanya kotoran badan melainkan kotoran batin.
Salat daim boleh dilakukan saat apapun, misalnya makan, tidur, bersenggama maupun saat
membuang kotoran.)
Ajaran makrifat lain Sunan Kalijaga adalah IBADAH HAJI. Tertera dalam Suluk Linglung suatu
ketika Sunan Kalijaga bertekad pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Di tengah
perjalanan dia dihentikan oleh Nabi Khidir. Sunan dinasehati agar tidak pergi sebelum tahu
hakikat ibadah haji agar tidak tersesat dan tidak mendapatkan apa-apa selain capek. Mekah
yang ada di Saudi Arabia itu hanya simbol dan MEKAH YANG SEJATI ADA DI DALAM DIRI. Dalam
suluk wujil disebutkan sebagai berikut:
NORANA WERUH ING MEKAH IKI, ALIT MILA TEKA ING AWAYAH, MANG TEKAENG PRANE YEN
ANA SANGUNIPUN, TEKENG MEKAH TUR DADI WALI, SANGUNIPUN ALARANG, DAHAT DENING
EWUH, DUDU SREPI DUDU DINAR, SANGUNIPUN KANG SURA LEGAWENG PATI, SABAR LILA ING
DUNYA.
MESJID ING MEKAH TULYA NGIDERI, KABATOLLAH PINIKANENG TENGAH, GUMANTUNG TAN
PACACANTHEL, DINULU SAKING LUHUR, LANGIT KATON ING NGANDHAP IKI, DINULU SAKING
NGANDHAP, BUMI ANENG LUHUR, TINON KULON KATON WETAN, TINON WETAN KATON KULON
IKU SINGGIH TINGALNYA AWELASAN.
(Tidak tahu Mekah yang sesugguhnya. Sejak muda hingga tua, seseorang tidak akan mencapai
tujuannya. Saat ada orang yang membawa bekal sampai di Mekah dan menjadi wali, maka
sungguh mahal bekalnya dan sulit dicapai. Padahal, bekal sesungguhnya bukan uang melainkan
KESABARAN DAN KESANGGUPAN UNTUK MATI. SESABARAN DAN KERELAAN HIDUP DI DUNIA.
Masjid di Mekah itu melingkar dengan Kabah berada di tengahnya. Bergantung tanpa pengait,
maka dilihat dari atas tampak langit di bawah, dilihat dari bawah tampak bumi di atas. Melihat
yang barat terlihat timur dan sebalinya. Itu pengelihatan yang terbalik).
Maksudnya, bahwa ibadah haji yang hakiki adalah bukanlah pergi ke Mekah saja. Namun lebih
mendalam dari penghayatan yang seperti itu. Ibadah yang sejati adalah pergi ke KIBLAT YANG
ADA DI DALAM DIRI SEJATI. Yang tidak bisa terlaksana dengan bekal harta, benda, kedudukan,
tahta apapun juga. Namun sebaliknya, harus meletakkan semua itu untuk kemudian meneng,
diam, dan mematikan seluruh ego/aku dan berkeliling ke kiblat AKU SEJATI. Inilah Mekah yang
metafisik dan batiniah. Memang pemahaman ini seperti terbalik, JAGAD WALIKAN. Sebab apa
yang selama ini kita anggap sebagai KEBENARAN DAN KEBAIKAN MASIHLAH PEMAHAMAN YANG
DANGKAL. APA YANG KITA ANGGAP TERBAIK, TERTINGGI SEPERTI LANGIT DAN PALING
BERHARGA DI DUNIA TERNYATA TIDAK ADA APA-APANYA DAN SANGAT RENDAH NILAINYA.
Apa bekal agar sukses menempuh ibadah haji makrifat untuk menziarahi diri sejati? Bekalnya
adalah kesabaran dan keikhlasan. Sabar berjuang dan memiliki iman yang teguh dalam memilih
jalan yang barangkali dianggap orang lain sebagai jalan yang sesat. Ibadah haji metafisik ini
akan mengajarkan kepada kita bahwa episentrum atau pusat spiritual manusia adalah
BERTAWAF. Berkeliling ke RUMAH TUHAN, berkeliling bahkan masuk ke AKU SEJATI dengan
kondisi yang paling suci dan bersimpuh di KAKI-NYA YANG MULIA. Tujuan haji terakhir adalah
untuk mencapai INSAN KAMIL, yaitu manusia sempurna yang merupakan kaca benggala
kesempurnaan-Nya.
Sunan Kalijaga adalah manusia yang telah mencapai tahap perjalanan spiritual tertinggi yang
juga telah didaki oleh Syekh Siti Jenar. Berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang berjuang di tengah
rakyat jelata, Sunan Kalijaga karena dilahirkan dari kerabat bangsawan maka dia berjuang di
dekat wilayah kekuasaan. Di bidang politik, jasanya terlihat saat akan mendirikan kerajaan
Demak, Pajang dan Mataram. Sunan Kalijaga berperan menasehati Raden Patah (penguasa
Demak) agar tidak menyerang Brawijaya V (ayahnya) karena beliau tidak pernah berlawanan
dengan ajaran akidah. Sunan Kalijaga juga mendukung Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang dan
menyarankan agar ibukota dipindah dari Demak ke Pajang (karena Demak dianggap telah
kehilangan kultur Jawa.
Pajang yang terletak di pedalaman cocok untuk memahami Islam secara lebih mendalam
dengan jalur Tasawuf. Sementara kota pelabuhan jalurnya syariat. Jasa lain Sunan Kalijaga
adalah mendorong Jaka Tingkir (Pajang) agar memenuhi janjinya memberikan tanah Mataram
kepada Pemanahan serta menasehati anak Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati agar tidak
hanya mengandalkan kekuatan batin melalui tapa brata, tapi juga menggalang kekuatan fisik
dengan membangun tembok istana dan menggalang dukungan dari wilayah sekeliling. Bahkan
Sunan Kalijaga juga mewariskan pada Panembahan Senopati baju rompi Antakusuma atau Kyai
Gondhil yang bila dipakai akan kebal senjata apapun
Sumber :
SUNAN KALIJAGA MENCARI GURU SEJATI http://wongalus.wordpress.com/category/sunan-
kalijaga-mencari-guru-sejati/